Mohon tunggu...
Arbie Haman
Arbie Haman Mohon Tunggu... Passionate in religious tolerance and pluralism campaign.

Alumni Ilmu Politik FISIP UI | Founder of Angkatan Muda Protestan Pluralistik (AMPP) | Kepala Departemen Wawasan Nusantara dan Bela Negara DPP GAMKI | IG: @arbiehaman @ampp_indonesia

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Gereja dan Kebenaran yang Diinjak-injak

12 Mei 2020   07:44 Diperbarui: 12 Mei 2020   07:47 99 3 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Gereja dan Kebenaran yang Diinjak-injak
Kunjungan ke Prasasti Makam Soe Hok Gie Beberapa Tahun Silam (Dokpri)

Minggu, 11 Mei 1969

Rasanya lucu ceramah di hadapan +/- 10 - 15 pendeta GKI di Cawang. Saya datang bersama Benny Mamoto dan Tanto. Saya berbicara jujur sekali. Saya katakan bahwa saya terharu sekali melihat "sikap agung dari doktrin Kristen" yang menyatakan bahwa tugas seorang Kristen adalah menjadi saksi kebenaran.

Bahwa hidup adalah pergumulan yang terus menerus dengan dosa. Menjadi saksi kebenaran bagi saya adalah bangkit untuk menyatakan dengan jujur pada kebenaran-kebenaran yang ditindas. Dan setiap kali, kita harus bergumul untuk mengalahkan dosa-dosa kita, keraguan kita dan nafsu-nafsu kita.

Tetapi di pihak lain Gereja adalah sebuah organisasi biasa, sebagai organisasi ia tak berbeda dengan organisasi pengumpul perangko dan catur: perlu uang, koneksi, pengaruh pada kekuasaan dan lain-lain.

Dan untuk mencapai hal ini ia harus mengadakan kompromi-kompromi. Dan kadang-kadang karena faktor-faktor tadi ia harus bungkam pada kebenaran yang diinjak-injak.

Akhirnya Gereja diam dan hanya jadi kegiatan ritual. Orang-orang yang muda dan gelisah dan yang paling idealis akhirnya membelakangi Gereja.

Benny Mamoto ceritera tentang pengalaman pribadinya. Korupsi di Gereja dan tokoh-tokoh yang paling tercela menjadi anggota-anggota Gereja karena sumbangan uang.

Ia masih percaya akan dogma-dogma Kristen tapi bagi saya Gereja tidak punya fungsi apa-apa. Diskusi-diskusi berjalan cukup lama (1 1/2 jam) dan enak. Mereka tidak membantah apa yang saya katakan tapi menjelaskan faset-faset sulit yang mereka hadapi.

"Lalu apa yang harus kami lakukan?", tanya pendeta Lukito. Saya usulkan pemecahan yang non-organisatoris. Akuilah bahwa sebagai manusia, pendeta-pendeta punya perbedaan-perbedaan. Dan mereka berjalan dengan pandangan-pandangan ini. Ini akan menunjukkan bahwa ada unsur radikal dalam Gereja yang tetap dapat berkomunikasi dengan orang-orang muda yang gelisah.

Bersatu hanya untuk bersatu adalah hipokrit.

Kami makan siang bersama dan saya dapat uang Rp 400. Uangnya saya bagi tiga.

Aneh rasanya, setelah mengecam malah dapat uang.

(Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, 1983, hlm. 299-300)

Tepat hari ini, 51 tahun telah berlalu sejak Soe Hok Gie menyampaikan kritik sosialnya terhadap gereja di hadapan pendeta-pendeta saat diundang berdiskusi dengan mereka di Jakarta.

Kritik sosial Gie terhadap gereja pada pada zamannya menyajikan sebuah paradoks yang layak untuk kita refleksikan bersama.

Di satu sisi, sikap agung dari Kekristenan adalah menjadi saksi kebenaran, namun di sisi yang lain ia melihat "kadang-kadang" gereja justru bungkam terhadap kebenaran yang diinjak-injak.

Jika kita membaca karya-karya Gie, maka kita dapat menangkap dengan jelas konteks yang melekat pada frase "kebenaran yang diinjak-injak", "kebenaran yang ditindas", dan semacamnya, yang acapkali ia utarakan dalam tulisan-tulisannya.

Frase tersebut jelas merujuk pada soal-soal kebangsaan dan kerakyatan.

Di dalamnya terdapat urusan-urusan kemanusiaan, ketidak-adilan sosial, ketidak-merataan ekonomi, hingga penyalahgunaan kekuasaan.

Uang, popularitas/status sosial strategis, dan akses terhadap kekuasaan (yang kesemuanya ini berujung pada keberlangsungan/pengembangan gereja itu sendiri), merupakan tiga hal yang disebutnya sebagai faktor yang menyebabkan gereja tidak menjadi saksi kebenaran yang seutuhnya, tetapi kadang justru bungkam terhadap soal-soal kebangsaan dan kerakyatan.

Kini, untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka, gereja (dan rumah-rumah ibadah lainnya), tidak peduli besar, megah, kaya, ataupun kecil dan sederhana, idealis ataupun kompromistis, semua sedang "dirumahkan".

Saat-saat sekarang ini, selagi kita berada jauh dari program-program dan pertemuan-pertemuan gerejawi secara fisik, mari sempatkan waktu untuk berpikir dan menganalisa.

1. Apakah kritik Gie terhadap gereja 51 tahun yang lalu masih relevan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang berlangsung di gereja anda saat ini?

2. Apakah tiga faktor yang disebutkannya masih menjadi faktor yang menyebabkan gereja anda berkompromi atau bungkam terhadap kebenaran yang diinjak-injak (baca: soal-soal kebangsaan dan kerakyatan)?

3. Dapatkah anda temukan contoh kasusnya?

Ini pertanyaan refleksi, tidak mesti diutarakan jawabannya. Silahkan gunakan ini sebagai pemantik akal budi, nalar kritis, dan kreativitas anda.

Mari kita belajar mengasihi Tuhan dan gerejaNya dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Gunakan seluruhnyanya, termasuk juga akal budi. Bukan hanya salah satunya atau sebagian saja.

Mengutip Injil Lukas; "Sebab di mana hartamu berada, di situ juga hatimu akan berada." (Lukas 12:34 ILT)

Maka jika anda ingin mengetahui skala prioritas dalam hidup seseorang, lihatlah catatan pengeluaran bulanannya.

Disana tersusun secara rapi, baik ia sadari atau tidak, hal-hal yang penting baginya. Area dimana ia menghabiskan pengeluaran terbesar, maka area itulah yang paling penting baginya, dan seterusnya.

Prinsip yang sama juga dapat diterapkan pada organisasi-organisasi yang lebih besar seperti keluarga, perusahaan, ormas, negara, termasuk juga gereja.

Jika suatu gereja setiap bulannya memiliki besaran pengeluaran yang signifikan (baik dalam bentuk uang, sumbangsih pemikiran, pelatihan, dsb) untuk urusan-urusan "kebenaran yang diinjak-injak", maka kemungkinan ia adalah gereja yang punya hati untuk bangsa.

Gereja yang demikian adalah gereja yang peduli terhadap soal-soal kemanusiaan, keadilan sosial, hingga pemerataan ekonomi, begitu pula sebaliknya.

Anda dapat memberi tanpa mencintai, namun adalah kemustahilan untuk mencintai tanpa memberi.

Mencintai bangsa tidak mungkin dilakukan tanpa memberi bagi bangsa.

Jika kritik sosial Gie puluhan tahun lalu ini masih relevan, atau bahkan bertambah relevan untuk menggambarkan kasus-kasus yang terjadi di gereja-gereja masa kini, maka kita harus segera berbenah.

Gereja dan bangsa tidak bisa dipisahkan.

Kebangsaan bukan merupakan suatu segmentasi tersendiri yang hanya diisi oleh orang-orang dengan panggilan terhadap hal-hal kebangsaan.

Kecintaan akan bangsa merupakan norma fundamental yang harusnya menjadi landasan sikap, program-program, dan arah juang dari gereja secara keseluruhan.

Karena mengasihi bangsa adalah wujud kongkret dari upaya kita mengasihi Tuhan dan sesama manusia.

Menutup tulisan singkat ini, saya ingin mengajak rekan-rekan yang memiliki kegelisahan atas hal ini, mari bergerak bersama.

Jangan telan bulat-bulat tulisan ini. Jika memang bertentangan dengan fenomena yang anda temukan di tempat anda, silahkan disanggah.

Semakin banyak sanggahan, saya semakin bahagia. Karena jika demikian, artinya kritik Gie ini ternyata sudah tidak terlampau relevan untuk menjelaskan situasi gereja kekinian.

Arbie Haman
Jakarta, 11 Mei 2020
_________________
Catatan:
1. Setiap saya menyebut kata "gereja" pada tulisan ini, saya merujuk kepada definisi gereja "sebagai sebuah organisasi", tidak pada arti yang lain.

2. Ruang lingkup dan contoh kasus yang ia (Gie) sajikan dalam diskusinya bersama pendeta-pendeta di Jakarta kala itu menurut saya tidak mewakili gereja-gereja secara keseluruhan se-Nusantara, melainkan lebih cocok untuk mendeskripsikan secara khusus kasus-kasus yang ada pada gereja-gereja di ibu kota, dan kota-kota besar.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x