Mohon tunggu...
Arbie Haman
Arbie Haman Mohon Tunggu... Passionate in religious tolerance and pluralism campaign.

Alumni Ilmu Politik FISIP UI | Founder of Angkatan Muda Protestan Pluralistik (AMPP) | Kepala Departemen Wawasan Nusantara dan Bela Negara DPP GAMKI | IG: @arbiehaman @ampp_indonesia

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Populisme dalam Klientelisme: Listrik Tenaga Surya atau "Surga", Mana yang Lebih Mudah Dijual?

12 November 2019   01:23 Diperbarui: 12 November 2019   06:17 95 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Populisme dalam Klientelisme: Listrik Tenaga Surya atau "Surga", Mana yang Lebih Mudah Dijual?
Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Menurut J. Manor (2013), klientelisme politik adalah praktik relasional saling menguntungkan antara patron dan klien. Ikatan dilandaskan dari keuntungan material dan non-material yang bersifat personal, diberikan oleh patron. Dibalas oleh kesetiaan dan dukungan politik oleh klien.

Keuntungan material dapat berupa uang, posisi, dan pekerjaan. 

Keuntungan non-material dapat berupa akses ke layanan-layanan publik, hingga "akses ke surga".

Praktik klientelisme di Indonesia bernuansa populis. Hubungan patron-klien bersifat langsung, luas, dan bermain pada isu-isu populis. Hampir seluruhnya dikendalikan para pemain lama.

Para pemain baru tercerai berai, parsial, dan (maaf) ujung-ujungnya hanya mengamini komando para pemain lama.

Diksi-diksi populis seperti "atas nama rakyat", "bela agama", wacana anti-kemapanan, hingga "anti asing" merupakan keniscayaan yang digunakan para elit untuk meraup kesetiaan klien.

Di kubu yang lain, diksi-diksi toleransi, nasionalisme, dan pembangunan infrastruktur mau tidak mau dikedepankan.

Padahal jauh dari prestasi dan inovasi, tema-tema ini idealnya hanyalah sebuah standar minimum. Bahan-bahan dasar berlangsungnya kehidupan suatu negara demokrasi.

Coba bayangkan suatu hari kelak, para elit membumikan isu-isu "next level" seperti pembangkit listrik tenaga surya, polusi plastik, konservasi hutan, hingga membudayakan pemeriksaan kesehatan rutin. 

Isu-isu tersebut sepertinya bukan tema yang populis, sehingga tidak bisa dijadikan ikatan praktik relasional antara patron-klien dalam skala luas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN