Arako
Arako mantan kuli tinta, freelance writer, mahasiswi

Pecinta Jejepangan • Pekerja Teks Komersial • ADHD Person • Tukang Review • Pawang kucing profesional di kucingdomestik.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Haruskah Menunggu Melinda Zidemi yang Lain?

27 Maret 2019   04:40 Diperbarui: 29 Maret 2019   21:00 7651 63 43
Haruskah Menunggu Melinda Zidemi yang Lain?
Melinda Zidemi, S.Th * dokumentasi pribadi

Saya menulis ini dengan perasaan tak keruan. Baru saja pulang dari ibadah penghiburan mendiang Melinda Zidemi di Gereja Kristen Injili Indonesia, Palembang. Ya, gadis 24 tahun yang setiap kali bertemu selalu heboh dan ceria itu, semalam saya melihatnya sudah terbujur kaku dalam peti mati.

Benar. Pendeta muda, korban perkosaan dan pembunuhan dengan TKP di Sungai Baung, Ogan Komering Ilir Sumsel yang sedang heboh itu teman saya. Jangan tanya saya kronologisnya. Sila googling sendiri. 

Saat ini polisi masih mengusut terus kasus ini. Jenazah Kak Mel (begitu saya biasa menyapanya) sendiri akan diberangkatkan ke Nias pada Rabu (27/3) pukul 10.00 untuk kemudian dimakamkan di sana.

Tidak usah dibahas bagaimana kenyataan ini menghancurkan hati keluarga, dan segenap kami yang mengenal mendiang semasa hidup. Terlebih, kasus tak berperikemanusiaan ini bukannya baru pertama kali terjadi.

Akhir Januari lalu, warga Sumsel sudah dihebohkan dengan kasus serupa. Korbannya seorang mahasiswi UIN Raden Patah Palembang. Sama dengan nasib malang yang menimpa Kak Mel, si mahasiswi ini juga harus meregang nyawa setelah diperkosa di sebuah kebun di Muara Enim. Selain itu, tercatat pula kasus pembunuhan, pemerkosaan dan pembakaran jenazah seorang janda.

Saya sebagai perempuan benar-benar bergidik mengetahui fenomena ini. Bagaimana predator seksual berkeliaran di mana saja dan kapan saja. Siap beraksi tanpa peduli siapa korbannya. 

Merasa terancam? Jelas!

Rasanya seperti tak ada lagi tempat aman yang tersisa. Memangnya enak menjalani hidup dengan terus dihantui rasa takut dan terancam begini?

Saya mengapresiasi pihak berwajib dalam merespon kasus-kasus macam ini. Tapi, sesuatu telah mengusik dan membuat saya jadi begitu tidak nyaman.

Apa yang salah di sini? Mengapa harus menunggu jatuhnya korban baru ada tindakan? Apa benar kita, para manusia berpikir dan berakal ini betul-betul tak berdaya mencegahnya? 

"Makanya, perempuan jangan pulang malam!"

Hey. Kak Mel itu bepergian saat hari masih terang lho.

"Makanya, jadi perempuan jangan pakai baju seksi dan mengundang syahwat."

Demi apa, 5 tahun saya mengenalnya, belum pernah saya lihat Kak Mel pakai baju seksi. Dia itu lulusan seminari, berpakaian rapi dan sopan sudah jadi pakem mereka.

"Makanya, perempuan jangan suka pergi sendirian."

Nah. Kak Mel juga tidak pergi sendirian. Ada yang menemaninya saat kejadian naas itu.

Masalahnya, apa sih yang bisa dilakukan seorang perempuan ketika para predator seksual memutuskan beraksi? Ga ada. Perempuan kebanyakan cuma bisa pasrah. Melawan pun lebih sering berbuah sia-sia. Karena dari segi kekuatan fisik dan mental, mereka yang kadung dalam posisi terancam memang otomatis menjadi lemah.

Dear, Sumsel. 

Begitu payahkah dirimu melindungi kaum hawa di tanah ini? Data WCC Palembang yang dilansir Republika, selama tahun 2018, tercatat ada 79 kasus perkosaan dan kekerasan seksual lainnya di 17 kabupaten dan kota dalam wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Masuk Top Ten se-Indonesia.

Mengapa nyawa manusia di sini seperti tidak ada harganya? 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2