Mohon tunggu...
Achmad Room Fitrianto
Achmad Room Fitrianto Mohon Tunggu...

Achmad Room adalah staf pengajar di UIN Sunan Ampel Surabaya sejak tahun 2003. Dia lulus dari Universitas Airlangga Surabaya tahun 2002. Memperoleh gelar Master Ekonomi Islam dari Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel pada tahun 2007, dan memperoleh Master of Arts dalam Kebijakan Publik dari Murdoch University pada tahun 2009. Saat ini sedang mengambil program PhD di Faculty of Humanities Curtin University dengan specialisasi Kajian Kebencanaan (Economic Development Policy). Sebelum menjadi akademisi di lingkungan pendidikan tinggi Islam Kementrian Agama RI, Achmad Room aktif di PUPUK (Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil) yang sebagian besar programnya terfokus pada program penyederhanaan pelayanan perijinan usaha di Indonesia. Selain itu, dia juga bekerja sebagai peneliti di the Regional Economic Development Institute (REDI) di bawah USAID’s Local Governance Support Program(LGSP), dan pada tahun 2005 dipercaya sebagai pelaksana internal assessments program bantuan teknis The Asia Foundation untuk mendukung Pelayanan the One Stop Services untuk Kota Kediri dan Kota Yogyakarta. Program terakhir yang ditangani adalah Evaluasi Kredit Usaha Rakyat tahun 2009, Kerja Sama Menko Perekonomian , Bank Dunia dan REDI di Propinsi Bangka Belitung. Achmad Room juga menjadi pengamat di isu isu reformasi pemerintahan, pengembangan masyarakat, pengembangan Usaha Kecil Menengah dan Ekonomi Islam

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Menyerupai orang kafir (Tasyabbuh Bil Kuffar)

27 Desember 2017   06:01 Diperbarui: 27 Desember 2017   18:11 1592 0 0 Mohon Tunggu...

Jadi ingin nih cari tahu the reason behind the hadith " Man tasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum (HR Abu Dawud, Ahmad dan Tirmidzi) Setelah Ustadz Abdul Shomad menggunakan sebagai dalil dalam memberi tauziah terkait pemberian selamat pada hari ibu yang viral beberapa waktu lalu.

Sekilas hadith diatas cocok untuk pengarus utamaan kebhinekaan, misalnya yang menyerupai pakaian orang Jawa maka dia dianggap orang Jawa, yang menyerupai orang Banjar maka dia dianggap orang Banjar dan seterusnya sehingga proses asimilasi dan pembauran bisa berjalan. Namun demikian hadith diatas bila digunakan untuk segregasi, pengkamplingan atau kepentingan untuk "persaingan" antar golongan maka yang muncul adalah konflik antar golongan.

Bila ditarik ke kata “tasyabbuh” berasal dari wazan “tafa’ul” dalam bahasa Arab ini menjadi menarik dimana kata ini akan bermakna muthawa’ah (menurut), takalluf (memaksa), tadarruj (bertahap atau parsial) dalam melakukan suatu perbuatan. Kata kerja dengan wazan ini mengandung faidah : Yaitu perbuatan tasyabbuh dilakukan sedikit demi sedikit, awalnya seseorang merasa terpaksa dengan perbuatan ini hingga lama-lama ia menurut dan terbiasa mengerjakannya.

Lha dari sini bila kita telan mentah mentah, maka apapun baik sistem atau nilai yang berasal dari golongan "sebelah" akan membuat golongan yang meniru lama kelamaan akan tunduk kepada golongan yang ditiru!‘.

Hal hal apa saja yang termasuk "tasyabbuh bil kuffar"?

Main fesbook? ngeklik email? pamer foto via instagram? mengucapkan selamat hari raya kepada umat lain? cara berpakaian? ikut merayakan tahun baru?

Bagaimana bila meniru sistem pendidikannya? atau malah terlibat dengan sistem pendidikan (bersekolah atau menjadi pengajarnya) atau sistem perkantoran dan manajemen (bekerja untuk sistem yang dianggap kufar, asing dan tidak menganut syariat) apakah juga kena pasal itu?

Namun demikian terdapat pula pendapat yang mentafsirkan hadith diatas sebagai upaya untuk meniru perilaku golongan golongan yang berakhlag dan berperilaku baik " barangsiapa yang menyerupai orang-orang shalih dan mengikuti mereka, ia akan dimuliakan sebagaimana orang-orang shalih dimuliakan" dan tentu saja penafsiran ini juga berperilaku : barang siapa yang menyerupai orang-orang fasiq (mungkin diantaranya suka korupsi, senang menyalahi hukum, menghalalkan segala cara, suka adu domba, hoby menyebarkan hoax dan lain sebagainya) sehingga, ia akan dihinakan sebagaimana orang-orang fasiq itu juga dihinakan.

Terus muncul pertanyaan, apakah hadith diatas bisa digunakan dalam proses persaingan? entar itu dalam konteks perang bersenjata ataupun persaingan dalam kampanye pilkada?  Wah kalau menjawab ini kayaknya butuh waktu lama  untuk buka buka referensi nih, namun demikian logika bisa kita gunakan, bila dalam kondisi berperang secara fisik, spionase atau mata mata adalah menjadi kunci dalam peperangan untuk mengumpulkan informasi pihak musuh, lha kalau para spionase atau mata mata yang pro kita dikenakan hadith ini secara sakklek? artinya kita memvonis mati mereka dong? atau bila terjadi pertempuran terbuka di medan laga, seragam, cara ngomong atau sandi bisa membuktikan itu teman atau lawan dan ini bisa berlaku kayaknya guna mengantisipasi "penghianatan" orang yang meniru atau mirip dengan "musuh".

Namun dibalik semua ulasan singkat diatas, saya ingin sedikit memberi penutup atas tulisan ini "barang siapa yang terdapat padanya ciri-ciri orang mulia (meniru perbuatan orang mulia), ia akan ikut dimuliakan walaupun belum tentu ia memang orang yang mulia".

Wallahu a'lam Bishowab

Fitrianto Abu Attila

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x