Aqil Aziz
Aqil Aziz Wiraswasta

Mencintai dunia literasi. | e-mail : gonzes7@gmail.com | blog : http://aqilkumariyah.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Istri

12 Juni 2018   07:55 Diperbarui: 12 Juni 2018   09:55 730 4 2
Cerpen | Istri
tangkapan layar YouTube

"Ini bukan yang pertama kalinya, aku ingatkan," sambil aku sodorkan kembali foto itu dihadapannya.

"Siapa?" 

"Kamu"

"Aku!?"

"Ya. Berapa kali aku bilang, lelucon seperti itu jangan kau biarkan mengalir. Ujung-ujungnya pasti ribut."

"Itu memang karena kamu masih punya rasa?"

"Lho mulai lagi."

Ia tersenyum. Kemudian, meletakkan tangannya pada roda kursi, dan mendorongnya  masuk kamar meninggalkan aku begitu saja. Aku mengikutinya dan merapatkan mulutku ke telinganya.

"Sebenarnya aku masih mencintaimu."

"Ya saya tahu, aku hanya menguji."

"Kau tidak boleh selalu seperti itu. Terus saja mengorek masa lalu. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak pernah membicarakan itu lagi. Bicara kita adalah masa kini dan masa depan.

"Menurutmu, dia cantik?" ia tak menghiraukan peringatanku. Terpaksa aku menjawabnya.

"Ya. tapi itu dulu. Sekarang tidak."

"Kok bisa?"

"Ya karena setelah menikah denganmu, yang lainnya sudah berubah. Di mataku cuma kamu."

"Ah. Gombal!"Dia memukul pundakku. Kita tertawa bersama. 

Aku senang melihatnya bisa tersenyum. Senyum yang menyeretku ke masa, di mana kami dapat melakukan pekerjaan secara bersama-sama. Tangannya yang cekatan, jalannya lincah. Tutur katanya, sopan santun. 

Bersikap baik kepada semua orang. Membuat keluarga kami dikenal baik di masyarakat. Kesabaran dan keteguhannya dalam mengatur rumah tangga. Membuatku tak memiliki alasan lain, kecuali menyayanginya. 

Kebaikan-kebaikan yang ia pupuk di dalam rumah tangga ini. Tumbuh subur bak pohon mangga di depan rumah, yang setiap kali diambil buahnya tidak pernah habis. Begitulah kami menikmati hidup. Tapi sebenarnya ada yang kurang dalam rumah tangga kita, yaitu kehadiran si kecil. 

Tuhan belum menjawab doa'-do'a kami. Akhirnya kita putuskan bahwa itu adalah kehendak Tuhan yang tidak bisa digugat. "Mungkin itu lebih baik untuk kita." jawabku memberikan kekuatan untuk tetap terus bersabar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2