Mohon tunggu...
Apriliansyah
Apriliansyah Mohon Tunggu... Penulis

Jurnalis dan pecinta fotografi

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Sekelumit Kisah Perjuangan Tenaga Medis COVID-19

5 April 2020   15:04 Diperbarui: 5 April 2020   22:03 1562 6 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sekelumit Kisah Perjuangan Tenaga Medis COVID-19
Para tenaga medis COVID-19 usia bertugas di RSUD Marsidi Judono Belitung (dokpri)


Cukup beragam sekelumit kisah perjuangan para tenaga medis yang saat ini tengah berjuang merawat para pasien COVID-19 dan terkadang tidak nampak di hadapan mata kita. Sebagai garda terdepan, tenaga medis memiliki resiko paling tinggi terpapar virus corona baru atau COVID-19. 

Namun berkat ketekunan, keuletan dan kesabaran mereka dari balik tabir sunyi ruang isolasi ketika menjalankan tugas sehingga jumlah pasien COVID-19 khususnya di Indonesia terus bertambah.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto, Sabtu (4/5/2019) sore menyatakan sebanyak 150 pasien COVID-19 dinyatakan sembuh.

Meskipun jumlah pasien yang terinfeksi terus bertambah, Yurianto mengajak masyarakat untuk terus mematuhi protokol kesehatan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan guna memutus mata rantai penyebaran virus COVID-19.

Dari Balik Tabir Sunyi Ruang Isolasi

Namanya, Juliana (30) pada hari itu, Kamis (2/4/2020) perempuan berambut pirang ini baru selesai bertugas merawat satu pasien positif COVID-19 di ruang isolasi RSUD Marsidi Judono Kabupaten Belitung, Provinsi Kepualauan Bangka Belitung.

Ia tidak sendiri, koleganya yang juga sama bertugas pasien COVID-19 juga ikut mendampingi yakni, Yeyen Sridamayanti (34) dan Kiki Srihandayani (32) tidak nampak wajah lelah dari raut dan mimik tubuh mereka. Penulis meyakini ada senyum kebanggaan yang mereka sembunyikan di balik masker yang dikenakannya.

"Alhamdulillah, kondisi pasien 034 yang positif COVID-19 kondisinya mulai membaik dan stabil. Dia (pasien) bisa mandiri dan tidak menggunakan alat bantu pernapasan," kata Juliana mengawali perbincangan kami siang itu.

Ia menuturkan, sejak ditunjuk untuk bertugas merawat pasien positif COVID-19 tidak ada rasa ketakutan sama sekali dan menganggap itu adalah hal biasa dan sudah menjadi tanggung jawab dirinya sebagai seorang tenaga medis.

"Rasa cemas ada karena kami punya keluarga di rumah. Tetapi ini namanya tugas dan kami sudah disumpah siap ditempatkan di mana saja jadi kami terima," ujarnya tegas.

Ibu dari dua anak ini sebelumnya memang sudah ditugaskan oleh pihak RSUD Marsidi Judono Belitung untuk merawat pasien-pasien yang menderita TBC serta gangguan pernapasan lainnya di ruang isolasi "airbone" Rumah Sakit setempat.

"Memang sudah biasa kan sebelumnya kami memanh bertugas di ruang isolasi juga "airbone" misalnya khusus TB Paru cuma kan saat ini beda yang kami tangani COVID-19," terangnya.

Tenaga Medis COVID-19 RSUD Belitung ketika menggunakan APD 
Tenaga Medis COVID-19 RSUD Belitung ketika menggunakan APD 
Penulis mencoba menggali lebih dalam lagi, dan akhirnya ia menuturkan kisah-kisah perjuangan dan menjadi pengalaman berharga ketika merawat pasien COVID-19.

Satu diantaranya adalah kesulitan dan tidak biasanya ketika harus mengenakan pakaian APD bagaikan baju astronot sebagaimana yang sering kita lihat di layar televisi.

"Menggunakan baju APD yang cukup berat dan berlapis sehingga harus penuh ketelitian dan kehati-hatian ketika menggunakannya.

"Karena menggunakan baju APD harus berhati-hati benar memakainya karena berat dan panas. Berbeda biasanya kalau kita tugas pakai baju biasa kan lebih enak memakainya," katanya.

Selain itu dirinya juga sering merasakan haus namun tidak bisa minum karena sedang berada dalam ruangan tersebut dan menggunakan baju alat pelindung diri yang lengkap.

Sampai-sampai ketika mau buang air kecil juga kesulitan sehingga terpakasa harus menahannya selama empat jam.

"Kadang terkencing di celana saja soalnya mau gimana lagi," ujarnya terpingkal.

Mereka bertugas saling bergantian dalam merawat pasien COVID-19 selama empat jam dan selama itu pula mereka tidak bisa makan, minum, buang air kecil bahkan semua gerak terbatas dan fokus merawat serta menjaga pasien saja.

"Ya memang benar itu kami tidak makan dan tidak minum selama empat jam," imbunya.

Namun dirinya sangat bersyukur bahwa rata-rata pasien ODP, PDP dan positif COVID-19 yang sedang mendapatkan perawatan di Rumah Sakit tersebut cukup kooperatif.

Pasien juga diajarkan untuk mandiri misalnya jika mampu untuk ke kamar mandi sendiri maka dilakukan sendiri tanpa dituntun, mengambil makanan, dan minum sendiri, menghidupkan televisi pendingin ruangan dan lain sebagainya. Bahkan mereka bisa mengakses telepon genggam agar tidak jenuh dan stres.

"Sikap pasien sih Alhamdulillah mereka semua rata-rata kooperatif dengan kami," tandasnya.

Ia mengaku, sempat ada kecemasan ketika harus merawat dan berhadapan dengan pasien COVID-19, namun rasa itu mampu dikalahkan karena ini adalah bagian dari tugas dan tanggung jawab.

Terutama ketika harus kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarga kadang rasa kekhawatiran itu muncul.

"Namun kan saya tetap menjaga kebersihan usai bertugas langsung mandi ganti baju, kemudian mandi lagi, sampai di rumah tidak pegang apa-apa tetapi langsung mandi lagi agar steril," terangnya.

Ada rasa kebanggan tersendiri dan tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata ketika bertugas merawat pasien COVID-19 karena ini adalah tugas mulai dan bernilai ibadah.

"Bangga karena ini tugas kami dan sesuai dengan sumpah kami," katanya.

Sementara itu, Kepala Instalasi Rawat Inap RSUD Marisidi Judono Belitung, Ety Hastuti mengatakan para tenaga medis memiliki resiko paling tinggi terpapar virus COVID-19 karena mereka berada digarda terdepan dan berhadapan langsung dengan pasien.

"Yang pertama sebelum kontak dengan pasien kawan-kawan perawat harus sehat dulu kemudian mereka mengikuti anjuran sesuai prosedur yang telah ditetapkan misalnya dalam pemakaian APD," katanya.

Kemudian, para tenaga medis juga diharapkan ketika menggunakan APD harus sesuai aturan dan urutan karena jika ada yang salah urutannya makan akan menimbulkan infeksi silang.

Ia berharap agar tenaga medis yang saat ini berjuang di garda agar tetap terua didukung, jangan dikucilkan apalagi ada stigma-stigma jelek lainnya.

Diungkapkannya, dukungan terhadap tenaga medis saat ini khususnya di Kabupaten Belitung dari berbagai pihak sudah cukup luar biasa semoga semangat itu dapat terus dipertahankan.

"Yang terpenting bagi kawan-kawan perawat ini adalah didukung jangan dikucilkan karena banyak stigma tenaga medis dijauhi, dikucilkan, bahkan dibully," ujarnya.

Rumah Singgah Tenaga Medis

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x