Kesehatan Pilihan

Bayi Berat Badan Lahir Rendah, Bisakah Bertumbuh dan Berkembang Normal?

9 November 2018   23:24 Diperbarui: 12 November 2018   15:46 423 9 16
Bayi Berat Badan Lahir Rendah, Bisakah Bertumbuh dan Berkembang Normal?
Bayi yang lahir dengan berat di bawah 2,5 kg disebut Bayi BBLR.| Koleksi pribadi

"Anaknya nangis terus tuh. Sudah, tak usah disusui lagi, bikinkan susu sapi saja!" Saran seorang perempuan paruh baya kepada ibu yang usianya tampak lebih muda. Si Ibu yang lebih muda ini tengah mendekap bayi mungilnya.

Si ibu yang lebih muda ini kemudian memandangi bayinya. Bayi yang baru dilahirkannya beberapa hari lalu itu, memang berbeda dari bayi-bayi lainnya. Tubuh bayinya kurang berisi, telapak kakinya cuma sebesar cakar ayam, pahanya semungil paha ayam, tulang dadanya agak menonjol, kulitnya keriput, dan dipenuhi bulu-bulu halus.

"Sebentar, Bu. Ini masih mau mencoba menyusui langsung," kata si ibu menyusui.

Sementara itu, si bayi kecil mulai mengeluarkan suara lemahnya. Si ibu kembali berusaha membuat si bayi menikmati Air Susu Ibu (ASI). Namun, tampaknya si bayi yang juga bermulut kecil tetap tidak bisa menyusu. Tak lama kemudian, bayi kecil itu mulai menggeliat-geliat, protes. Si ibu pun tak kuasa membendung air dari pelupuk matanya.

"Sudah, kesinikan bayimu! Ibu mau beri dia susu sapi saja. Ibu tak tega cucu ibu kelaparan!" Kalimat si perempuan paruh baya bahkan tak bisa didengarnya lagi.

Tiba-tiba, si bayi sudah berpindah ke gendongan si perempuan paruh baya. Tangisan si bayi pun secara ajaib berhenti. Si ibu menyusui yang sudah tersadar dari lamunannya, kini hanya bisa memandangi anaknya meminum cairan putih dalam botol susu dengan lahapnya. 

Bayi yang terlahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Sedikit cerita tentang bayi si ibu yang ada dalam ilustrasi di atas, bayi ini terlahir dengan berat badan kurang kurang dari 2500 gram. Bayi-bayi seperti ini biasa dikenal sebagai bayi BBLR. Bayi BBLR ini sangat berbeda dengan bayi prematur, walaupun secara fisik memiliki ciri-ciri yang mirip.

Perbedaan yang paling mendasar antara bayi BBLR dan prematur adalah pada "kapan bayi ini dilahirkan". Bayi prematur lahir di usia kurang dari 37 minggu, sedangkan bayi dengan BBLR lahir pada usia kandungan yang matang.

Penyebab bayi BBLR adalah karena terjadi kasus Pertumbuhan Bayi Terhambat (PJT) ketika si bayi masih berada dalam rahim ibu. Biasanya PJT bisa diketahui lewat pemeriksaan ultrasonografi (USG). Nanti, akan terlihat ukuran janin tidak sesuai dengan usia kehamilan ibu. Tanda bahwa ada masalah. Penyebab masalahnya ada tiga faktor, yakni si ibu, janinnya sendiri, atau karena plasentanya.

Pertama kita bahas masalah pada ibu. Ciri-cirinya berat badan si ibu tidak ideal atau terlalu kurus. Selain fisik, masalah yang disebabkan oleh ibu ini adalah karena si ibu menderita penyakit kronik tertentu, seperti hipertensi, penyakit jantung, dan sebagainya. Tak ketinggalan, kebiasaan buruk ibu seperti merokok atau minum alkohol juga bisa menjadi penyebab PJT.

Kedua, masalah terletak pada janin sendiri. Selama kehamilan mungkin si janin ini terinfeksi bakteri atau virus. Lalu, tak bisa dihindari pula takdir berupa kelainan bawaan, seperti kelainan kromosom.

Ketiga, terjadi masalah pada plasenta atau yang biasa disebut sebagai ari-ari. Plasenta merupakan organ yang memungkinkan janin menerima nutrisi dari asupan ibunya. Apabila terjadi kelainan pada plasenta, maka janin akan kesulitan mendapat nutrisi. Akibatnya, terjadi PJT. Sebagaimana kasus yang dialami oleh kenalan saya, Ibu T (28 tahun). 

Anak pertama dan sementara semata wayang Ibu T ini dulu lahir pada usia kandungan 38 minggu dengan berat 2.300 gram. Penyebabnya adalah masalah pada plasenta, tepatnya preeklamsia. Preeklamsia biasanya terjadi karena ibu hamil menderita tekanan darah tinggi dan kelebihan kadar protein dalam urine.

"Dulu BBLR karena kena preeklamsia sejak usia kehamilan delapan bulan. Sehingga penyerapan nutrisi ke baby kurang bagus. Pertumbuhan berat badan bayi saat di kandungan jadi lambat banget," tutur Ibu T.

Namun, Ibu T mengatakan bahwa kala itu kondisi urine baik-baik saja. Kadar protein cukup normal.

"Waktu itu saya cek darah dan urine. Cek urine untuk melihat kadar protein dalam urine. Karena kalau kelebihan protein itu bisa jadi salah satu penyebab preeklamsia. Tapi ternyata semua normal. Jadi penyebab preeklamsianya murni bawaan kehamilan. Waktu itu cuma direkomendasikan makan mentimun dan bed rest, serta diresepkan obat penurun darah tinggi," jelas Ibu T.

Ibu T lalu bercerita bahwa kondisi tersebut terpaksa membuatnya melahirkan secara sectio caesaria. Yakni suatu cara melahirkan di mana dokter kandungan menyayat area perutnya sedemikian rupa, setelah sebelumnya menerima suntikan anestesi epidural. 

"Kelahiran SC di minggu ke tiga puluh delapan, karena tensi sudah seratus tujuh puluh padahal baru pembukaan satu. Jadi, harus segera dilahirkan agar tensi enggak makin naik," jelas Ibu T.

Namun, tidak semua bayi yang sebelumnya mengalami PJT dalam kandungan harus dikeluarkan secara paksa. Ada pula kasus bayi yang bisa dilahirkan secara normal. Seperti pengalaman Ibu F (38 tahun). Ibu F juga mengalami masalah pada plasenta, sehingga anak keenamnya terlahir dengan BBLR. Berat badannya hanya 2200 gram saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4