Mohon tunggu...
Sutrisno
Sutrisno Mohon Tunggu... Apoteker - Apoteker Komunitas

Entrepreneur tata graha akreditasi, sedang belajar di Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Artikel Utama

Antara Aku, Kau, dan ASN Tenaga Kesehatan

30 Oktober 2018   19:46 Diperbarui: 30 Oktober 2018   21:14 1061
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber foto:dokumentasi pribadi

Di sela gerimis suatu sore, datang ke rumah tiga orang berseragam. Masih terlihat semangatnya, entah sebuah semangat pengabdian ataukah semangat menyelesaikan pekerjaan agar beban kerja esok setidaknya bias terkurangi. 

Raut wajah tidak terlalu bersih, mungkin sudah sewajarnya ketika jam saat itu memang sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Aku masih familier dengan wajahnya, meski aku lupa siapa namanya, mereka petugas kesehatan (selanjutnya aku menyebutnya tenaga kesehatan) yang datang bersama dengan seorang kader, warga dekat rumah yang sudah kukenal dengan baik.

Singkat setelah memperkenalkan diri, mereka mulai melakukan pendataan, memeriksa tekanan darah, menanyakan apakah ada keluarga yang menderita gangguan jiwa, TBC, apakah ada yang merokok di dalam rumah dan beberapa pertanyaan yang kuingat ada dua belas item. 

Ditutup dengan melihat jamban, memeriksa jentik di tempat-tempat penampungan air. Konon ini bagian dari amanat pemerintah dalam hal ini secara integral dibawah Kementerian Kesehatan RI, menjalankan bagian dari nawa cita katanya. Dan katanya ini dilaksanakan di seluruh Indonesia.Awalnya kupikir mereka datang membawa bantuan. Ternyata tidak. Hehehe.

Heran juga aku, mengerjakan hal-hal seperti itu, yang tidak popular sama sekali di mataku waktu itu. Di sini masih lumayan, bagaimana dengan yang di tempat lain yang secara geografis lebih berat daripada tempat ini. Hanya mengumpulkan data yang mungkin nantinya akan menjadi pijakan pemerintah dalam mebuat sebuah kebijakan nasional tentang kesehatan. Tentang bahaya merokok, apalagi didalam rumah, menscreening penderita-penderita hipertensi yang tidak tertangkap oleh radar. Apa ada? 

Ternyata banyak, hanya saja mereka tidak tahu jika mereka menderita hipertensi. Mencari penderita-penderita gangguan jiwa yang masih dalam pemasungan (pemasungan melanggar HAM secara konsensi internasional), menemukan penderita-penderita TBC, berkunjung dari rumah kerumah melihat potret kemiskinan dari jarak yang tidak lagi berjarak. Tidak seperti mereka yang selalu berjarak dengan rakyat kecil, menjauh dikala menjabat, mendekat di jelang injury time tahun-tahun politik.

Saya tertarik untuk sedikit ''menghambat'' perjalanan mereka, dan berbicara panjang lebar tentang dunia kesehatan di layanan kesehatan dasar atau yang disebut puskesmas. Sebagian orang mungkin menganggapnya remeh. Bahkan sda yang memplesetkan menjadi pusing-kesel-masuk angin. Puskesmas yang di mind set saya adalah pelayanan kuratif (pengobatan). 

Obrolan saya menjadikan saya lebih paham dan lebih bias melihat dari sudut pandang mereka. Bahwa puskesmas seharusnya lebih cenderung kearah kesehatan masyarakat (promotif) dan bukan kea rah pengobatan individu (kuratif). 

Jika anda mengantarkan orang sakit demam berdarah ke rumah sakit, baru mau masuk pintu gerbang ternyata pasiennya meninggal, ya sudah. Tidak ada permasalahan dengan rumah sakit. Tapi ketika di ujung desa di wilayah kerja puskesmas ada pasien meninggal karena demam berdarah. Itu masalah besar buat puskesmas.

Penasaran saya tanyakan apa saja yang mereka lakukan, Banyak, memang mereka tidak termasuk dalam ASN yang konon mengamankan APBN, menjaga keuangan, menghasilkan pemasukan Negara menjadi maksimal. 

Mereka mengamankan masyarakat di level primer, menjaga negeri ini dari ancaman stunting akibat tidak baiknya gizi di 1000 hari pertama kehidupan, mengamankan para lansia agar sehat sampai akhir hayat, terhindar dari stroke dengan merawat tensinya, terjaga kadar gulanya jika mereka diabetes, membekali generasi bangsa dengan vaksinasi dan imunisasi, menciptakan system pelayanan kesehatan yang standar sesuai dengan standar akreditasi yang sudah ditetapkan oleh pemerintah pusat. Meskipun mereka harus berjibaku bahkan hingga larut malam, membawa pekerjaan pulang hingga mengacuhkan keluarga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun