Mohon tunggu...
Apipi Muhamad Jianudin
Apipi Muhamad Jianudin Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Mahasiswa UPI S1 Manajemen

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Literasi numerasi: Pembelajaran Tematik Terhadap Siswa Sekolah Dasar

19 September 2021   14:47 Diperbarui: 19 September 2021   14:59 362 0 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Literasi numerasi: Pembelajaran Tematik Terhadap Siswa Sekolah Dasar
Sumber: Unsplash.com

Budaya literasi di Indonesia menjadi topik yang sangat menarik untuk dibahas. Mengingat budaya literasi Indonesia yang masih rendah, belum mengakar atau mengakar di tengah masyarakat. Selama booming dalam budaya populer, buku tidak pernah menjadi prioritas. Faktanya, lebih mudah bagi orang untuk menginternalisasi budaya berbicara dan mendengarkan daripada membaca dan kemudian menerjemahkannya ke dalam tulisan. Masyarakat Indonesia masih didominasi oleh budaya komunikasi lisan atau budaya tutur. Orang lebih suka menonton pembaruan status ponsel dan menonton acara TV daripada membaca (Suswandari, 2018).

Program Penilaian Siswa Internasional untuk anak usia 15 tahun didasarkan pada survei PISA. Penilaian keterampilan matematika siswa Indonesia tahun 2009-2015 tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2009, Indonesia menduduki peringkat ke-68 dari 74 negara. Pada tahun 2012, Indonesia menduduki peringkat 64 dari 65 negara dengan prestasi akademik yang relatif rendah. Di sisi lain, hasil PISA tahun 2015 menunjukkan peringkat Indonesia sedikit meningkat – sekitar 63 dari 72 negara. Hasil tiga survei menunjukkan bahwa keterampilan siswa di Indonesia khususnya dalam matematika masih sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara PISA lainnya (Ayuningtyas & Sukriyah, 2020).

Di Indonesia, Gerakan Literasi Nasional (GLN) dibahas dalam program pemerintah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2016. Gerakan Sastra Nasional mengimplementasikan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Pengembangan Karakter. Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang digagas oleh pemerintah dilaksanakan melalui pendidikan yang disebut Gerakan Literasi di Sekolah (GLS). Gerakan Literasi Sekolah dapat diartikan sebagai upaya untuk menciptakan sebuah organisasi yang mengajarkan literasi dan memberdayakan peserta didik melalui berbagai kegiatan, termasuk membaca buku selain pelajaran seperti, buku dongeng, cerita pendek dan lain-lain selama 15 menit (Ekowati et al., 2019; Suswandari, 2018).

(Kemdikbud dalam Mahmud & Pratiwi, 2019) berpendapat bahwa Salah satu Gerakan Sastra Sekolah adalah pengembangan berhitung. Literasi numerik adalah pengetahuan dan kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis angka dan simbol yang berkaitan dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam kehidupan sehari-hari, kemudian menganalisis informasi yang disajikan dalam berbagai bentuk dan menginterpretasikan hasil analisis untuk memprediksi dan membuat keputusan. Menurut Ekowati et al., (2019) Literasi Numrai didefinisikan sebagai kemampuan menggunakan penalaran. Penalaran berarti menganalisis dan memahami apa yang Anda katakan dengan bertindak untuk memanipulasi simbol atau bahasa matematika dalam kehidupan sehari-hari, dan untuk mengekspresikan diri Anda secara tertulis atau lisan.

Terdapat  tiga aspek dalam Literasi numerasi, yaitu menghitung, hubungan numerik, dan operasi aritmatika. Menghitung adalah kemampuan menghitung suatu barang secara lisan dan kemampuan menentukan jumlah barang. Hubungan numerik berkaitan dengan kemampuan membedakan jumlah suatu benda, seperti lebih banyak, lebih sedikit, lebih banyak atau lebih sedikit. Sedangkan operasi aritmatika adalah kemampuan untuk melakukan operasi matematika dasar berupa penjumlahan dan pengurangan. Ketiga aspek keterampilan matematika yang telah diuraikan sebelumnya merupakan aspek utama pembelajaran matematika yang akan diperkenalkan sejak usia dini hingga masa transisi anak ke kelas dasar (Mahmud & Pratiwi, 2019).

Ilmu Matematika merupakan salah satu bidang studi yang diajarkan di lembaga pendidikan formal dan merupakan bagian penting dari upaya peningkatan mutu pendidikan. Matematika merupakan mata pelajaran yang membahas banyak konsep. Konsep adalah ide abstrak yang dengannya kita dapat mengelompokkan objek menjadi contoh atau bukan contoh. Konsep-konsep matematika saling berkaitan satu sama lain. Hubungan antara konsep materi yang satu dengan materi yang lain menunjukkan betapa pentingnya memahami konsep matematika (Novitasari, 2016).

Matematika merupakan materi pembelajaran yang saling berkaitan. karena, salah satu hal yang menjadi penyebab gagal dalam mempelajari matematika adalah siswa tidak memahami konsep matematika atau siswa salah memahami konsep matematika. Kesalahpahaman tentang pengetahuan ketika disampaikan pada satu jenjang pendidikan dapat menimbulkan kesalahpahaman mendasar pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Novitasari, 2016).

Pentingnya Literasi Numrasi bisa dilihat pada contoh berikut: Siswa mempelajari konsep perkalian bilangan bulat dengan bilangan bulat. Dua kali tiga adalah enam. Hasilnya tetap sama meskipun soal diganti tiga kali dua. Namun, dalam hal lain akan berbeda jika pada obat yang digunakan untuk diminum/ konsumsi. Prinsip pemberian obat dua kali, tiga kali, tiga kali, dua kali akan memberikan efek penyerapan dan terapi yang berbeda. Dengan menguasai konsep perkalian bilangan bulat dan berhitung yang baik, siswa akan dapat menjelaskan mengapa obat bertindak berbeda pada penyerapan. Contoh lain, dalam situasi yang berbeda adalah bus yang akan digunakan untuk kunjungan belajar siswa yang memiliki kapasitas 48 orang. Jika 165 orang berpartisipasi dalam perjalanan studi, bagaimana Anda dapat mengurangi biaya bus? Dalam kegiatan ini, siswa belajar memahami bahwa meskipun skor 165:48 adalah 3,44, setidaknya diperlukan empat bus wisata untuk kegiatan wisata ini. Soal ini tidak menggunakan konsep pembulatan bilangan. Selain itu, untuk menghemat biaya, kapasitas bus keempat dipilih sesuai dengan kekurangan kursi peserta bukan menggunakan empat bus berkapasitas 48 orang (Tyas & Pangesti, 2018).

Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan pengajaran tematik dalam kurikulum 2013, khususnya pada muatan pelajaran matematika. Pembelajaran tematik adalah pendekatan pembelajaran yang menggabungkan kompetensi yang berbeda dari mata pelajaran yang berbeda ke dalam topik yang berbeda. Integrasi terwujud dalam dua cara, yaitu: (1) mengintegrasikan sikap, keterampilan, dan pengetahuan dalam proses pembelajaran; dan (2) integrasi konsep inti terkait. Topik dikelompokkan ke dalam konsep yang berbeda sehingga siswa tidak mempelajari konsep pengetahuan/pemahaman secara terpisah. Oleh karena itu, pembelajaran dapat masuk akal dan berlangsung terus menerus (Rusman, 2011: 255).

Menurut (Wahyuni, Setyosari, & Kuswandi, 2016: 134135) Pengajaran tematik menuntut guru untuk menjeadi lebih kreatif dalam membangun pengajaran yang coco dan koheren. Upaya guru untuk mengatasi kesulitan dalam menghubungkan topik: pertama-tama gambarkan jaringan topik sehingga mudah untuk menemukan tautan. Dengan menggambarkan jaringan topik dan indikator, akan lebih mudah bagi guru untuk menemukan hubungan antara mata pelajaran tersebut; membuat skrip instruksional yang disesuaikan dengan jaringan topik dan keterkaitan antara mata pelajaran yang telah ditemukan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan mudah dipahami. Oleh sebab itu, penting untuk memahami lebih jauh tentang literasi numerik dalam pembelajaran tematik pada muatan pelajaran matematik siswa kelas atas Sekolah Dasar. Oleh karena itu,  menjadi hal yang sangat penting untuk melakukan pemahaman yang lebih dalam mengenai literasi numerasi dalam hal pembelajaran tematik pada pelajaran matematika yang dipelajari oleh siswa tingkat dasar (Sekolah Dasar).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan