Mohon tunggu...
Hendrie Santio
Hendrie Santio Mohon Tunggu... Freelancer - Seorang Serabutan

Seorang Serabutan yang mencoba memaknai hidup

Selanjutnya

Tutup

Metaverse Pilihan

Menyambut Era Format Liga Regional untuk Dota 2

29 Februari 2020   15:16 Diperbarui: 29 Februari 2020   15:20 111
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Source Blog.dota2.com

Ada tahun 2017 silam, Jack Etienne pemilik dari salah satu tim esports terkemuka dunia mengemukakan kekesalannya kepada Valve, perusahaan developer game dan pemilik dari dua titel esports besar dunia, Counter Strike dan Dota 2 karena keengganan mereka untuk mengubah model kompetisi. Menurut Jack, model kompetisi esports yang dipilih oleh Valve tidak begitu menguntungkan dari sisi finansial maupun dari sisi branding. Maklum saja, model kompetisi open circuit yang dilakukan dalam sistem kalendar tidak begitu stabil bagi sebuah organisasi esports yang cenderung menginvestasikan uang dalam jumlah besar dengan proyeksi keuntungan yang stabil. 

Tiga tahun setelah komentar Jack tersebut, Valve akhirnya mulai membuka diri untuk menjajal sistem liga yang sudah dianut oleh titel esports lain macam League of Legends ataupun Overwatch. Rencananya pasca The International edisi ke 10 yang akan diadakan di Swedia nanti, Valve akan memulai era baru dengan membuat liga regional terpisah bagi enam region terpilih. Nantinya setiap liga akan dibagi menjadi dua divisi yaitu divisi atas dan divisi bawah dengan sistem promosi-degradasi seperti liga sepakbola yang kita kenal. 

Alasan Berganti Format

Sejak awal dimulainya era kompetitif dota 2, Valve sebagai perusahaan pengembang gim tersebut pada awalnya hanya berencana untuk menggelar turnamen pamungkas di paruh akhir tahun yang diisi oleh tim-tim terbaik hasil dari sirkuit kompetisi. Sebagai perusahaan yang menganut kultur flatland, Valve tidak pernah terikat dalam struktur dalam setiap keputusan yang diambil. Sebagai contoh, Gabe Newell sang CEO dan pemilik Valve bahkan tidak selalu terlibat dalam keputusan akhir yang diambil perusahaan. Dengan mengambil pendekatan lepas tangan, kompetisi esports dota 2 tetap dapat berjalan berkat inisiatif swadaya dari komunitas maupun para penyelenggara turnamen pihak ketiga. 

Meskipun tidak menemui kendala yang berarti dalam hal pengelolaan, dunia kompetitif dota 2 mengalami masalah dalam hal integritas pemain. Pada masa-masa awal berdirinya dunia kompetitif dota 2, mayoritas pemain hanya menggantungkan insentif finansial mereka dengan dengan mengikuti The International (selanjutnya disebut TI), turnamen pamungkas dari Valve. Dengan angka prizepool yang jauh signifikan di atas turnamen non-Valve, para tim rela melakukan upaya apapun termasuk "membuang:" anggotanya di tengah-tengah musim.

Sementara itu, bagi tim yang tidak memiliki harapan untuk bermain di TI terpaksa harus terlibat dalam praktik kotor berupa pengaturan skor demi tetap dapat bertahan hidup sebagai pro gamer. Mengetahui ada praktik pengaturan skor di ranah kompetitifnya, Valve menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada pemain-pemain yang terlibat. 

Demi menjaga integritas dunia kompetisi profesional, Valve mencoba sedikit terlibat ke dalam ranah tersebut. Langkah pertama yang dilakukan oleh Valve adalah memperkenalkan sistem Major. Melalui sistem major ini, Valve mendistribusikan total sekitar 3 juta dollar di luar hadiah TI yang dibagi ke dalam tiga turnamen. Hal ini bertujuan untuk memperkenalkan regulasi profesional berupa manajemen roster kepada tim-tim yang terlibat. Sayangnya, percobaan Valve tidak begitu mulus lantaran format major menenggelamkan turnamen-turnamen dari pihak ketiga. Perubahan demi perubahan dilakukan hingga akhirnya Valve menggunakan format major-minor demi pemerataan kesempatan bagi tim-tim kelas menengah

Perubahan yang digadang-gadang mulus ternyata masih menyisakan masalah. Keluhan terhadap format kompetisi yang sedang berjalan muncul dari para pemain tim-tim kelas dua yang merasa tidak terakomodasi. Menurut mereka, porsi hadiah uang yang dicurahkan untuk tim-tim kelas atas dinilai terlalu besar. Sementera mereka yang berada di kelas dua harus berjuang mati-matian hanya untuk bisa mencari makan dari dunia kompetitif. Bagi tim-tim yang berstatus kelas dua, bermain di dunia profesional benar-benar layaknya survival of the fittest.

Menjawab keresahan para tim kelas dua, Valve rela untuk melakukan perubahan drastis dengan menyulap format sirkuit turnamen menjadi format liga untuk musim depan. Perubahan format kompetisi sendiri memiliki nilai plus dan minus bagi para pemain yang terlibat. Di satu sisi, jadwal yang lebih panjang dapat berdampak pada kelelahan secara fisik maupun mental. Namun di sisi lain, format liga ini menjanjikan pemerataan kesempatan bagi terutama bagi tim berstatus kelas dua untuk merasakan atmosfer yang lebih kompetitif.

Pro dan Kontra 

Perubahan ini bukannya tidak mendapat tentangan. Ada beberapa pemain yang mengkritisi pemangkasan prizepool secara besar-besaran sebagai imbas dari penerapan sistem liga yang akan berlaku efektif November tahun ini. Misalnya, Heen, pelatih dari Team Secret, salah satu tim kuat di dota 2 mengungkapkan bahwa mereka hanya perlu menghabiskan sekitar 10 pertandingan untuk mendapatkan minimal uang hadiah sebelum pajak sebesar 300 ribu Dollar. Dengan format baru, timnya harus memenangi 15 laga secara konsisten  "hanya" untuk uang sebesar 230 ribu Dollar. Kritik juga datang dari para figur-figur dota 2 lainnya seperti Nahaz, seorang analis pertandingan yang mengatakan bahwa sistem liga jelas akan membunuh elemen unik yang biasa ditampilkan oleh turnamen-turnamen pihak ketiga. 

Di luar dari kritik tersebut, ada beberapa hal yang berpotensi menjadi masalah dari penggunaan format liga di masa mendatang. Hal tersebut datang dari status liga itu sendiri. Sebagai tambahan informasi, maksimal empat tim teratas dari setiap liga-liga regional ini nantinya akan mendapat kesempatan untuk berlaga di turnamen invitasi berlabel major.

Mengingat para penikmat dunia kompetitif dota 2 sudah terbiasa dengan format sirkuit, keberadaan turnamen invitasi dapat berpotensi menyedot perhatian penonton dari liga-liga regional tersebut. Hal ini dapat menyebabkan masalah terutama untuk soal monetisasi liga. Skenario idealnya adalah tim-tim yang berlaga dalam liga berkesempatan memperluas brand mereka dan berkesempatan mendapatkan sponsor-sponsor ternama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Metaverse Selengkapnya
Lihat Metaverse Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun