Mohon tunggu...
Hendrie Santio
Hendrie Santio Mohon Tunggu... Seorang Serabutan

Seorang Serabutan yang mencoba memaknai hidup

Selanjutnya

Tutup

Politik

Populisme dan Perang Dunia

28 November 2018   18:22 Diperbarui: 28 November 2018   18:56 0 0 0 Mohon Tunggu...
Populisme dan Perang Dunia
Para pemimpin beraliran Populisme. Searah jarum jam : Trump, Hitler, Le Pen, Orban

Populisme menjadi kata yang amat populer untuk menggambarkan fenomena demokrasi di beberapa negara di belahan dunia dalam kurun 3 tahun ini.  

Berakar dari kata Popula yang artinya ke rakyat, para pelaku populisme memang pada dasarnya cenderung menampilkan ekspresi-ekspresi dan narasi yang seakan-akan berpihak kepada rakyat kebanyakan dan menyerang kemapanan yang biasanya dibingkaikan kepada pemerintahan. 

Populisme bisa lahir dari corak politik mana saja, ia bisa lahir dari dua kutub politik yang sangat berlawanan, baik itu ultra kiri maupun ultra kanan. Namun yang pasti gerakan populisme dapat dicirikan sebagai gerakan yang ingin "merangkul yang satu dengan memusuhi yang lain" seperti merangkul kelompok ekonomi lemah untuk melawan kemapanan, merangkul kelompok ultranasionalis untuk mengonfrontasi pro globalisasi atau retorika anti asing hingga sosialisme. 

Dewasa ini populisme kanan sedang tumbuh subur di beberapa belahan dunia akibat meningkatnya arus imigrasi dari Timur Tengah dan Afrika, perjanjian internasional yang mengedepankan pembebasan hambatan ekonomi, dan resesi global. 

Populisme kanan banyak mendapat simpati berkat narasi-narasi banal yang menyerang pemerintah sebagai lambang kemapanan dengan membangkitkan emosi orang kebanyakan serta retorika retorika akan bahaya ancaman akan perubahan masif di tatanan kohesi masyarakat (isu imigran Timur Tengah di negara barat dan investasi asing di negara-negara berkembang).  

Sejarah mencatat bahwa populisme banyak membidani lahirnya pemimpin-pemimpin ultrakanan yang memicu peristiwa luar biasa yang kita kenal dengan perang dunia kedua. 

Gerakan populisme cukup berjasa mengantar orang-orang seperti Benito Mussolini, Hideki Tojo, dan Adolf Hitler untuk meraih kekuasaan dengan senjata yang banyak mengaduk arogansi, kecemasan dan rasa jijik orang banyak. 

Adolf Hitler memenangkan kekuasaan di Jerman dengan retorika uber alles-nya dan mengambinghitamkan populasi Yahudi sebagai tikus di lumbung Jerman. Mussolini yang mengagungkan kejayaan romawi dan imperialis di seantero eropa timur dan Afrika, dan Hideki Tojo yang mengusung propaganda Jepang pemimpin Asia Raya secara totaliter.  

Hitler beserta NAZI berhasil masuk sebagai partai kedua terkuat pada pemilu Jerman pada tahun 1932 dengan membawa misi membalikkan kejayaan Jerman yang terpuruk pasca resesi besar. Selain berjanji membawa pemulihan bagi Jerman, Hitler juga mengusung propaganda anti kekuatan asing dalam hal ini adalah Inggris dan Perancis yang mengekang Jerman melalui perjanjian Versailes, membangkitkan teori konspirasi Yahudi di tengah-tengah rakyat Jerman, dan mengambinghitamkan kelompok komunis. 

Hitler memperoleh kekuasan penuh atas pemerintahan dan parlemen setelah berhasil membingkai kejadian terbakarnya gedung parlemen Reichstag sebagai ulah gerakan komunis yang diikuti dengan penangkapan dan pelarangan seluruh gerakan komunis di Jerman. Usai mendapat mandat untuk berkuasa penuh, Hitler menghapus parlemen dan mengadopsi sistem totaliter dengan mengontrol seluruh organisasi dan lembaga masyarakat di bawah NAZI serta melegalkan kekerasan terorganisir terhadap kelompok Yahudi. 

Hitler juga menjanjikan kebijakan lebensraum (ruang hidup) bagi rakyat Jerman dengan meningkatkan anggaran pertahanan dan menabrak perjanjian tentang Rhineland hingga memutuskan untuk menyerang Polandia. Semua dilakukan dalam semangat populisme "demi kejayaan Bangsa dan Ras Jerman". 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x