Anugrah Roby Syahputra
Anugrah Roby Syahputra PNS

Staf Ditjen Bea & Cukai, Kemenkeu.Ketua Forum Lingkar Pena Wilayah Sumatera Utara. Menulis lepas di media massa. Bukunya antara lain Gue Gak Cupu (Gramedia, 2010) dan Married Because of Allah (Noura Books, 2014)

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Pilihan

Dialog Dua Hati yang Mengingat Tuhan (Resensi Novel "Percakapan Tuan dan Puan")

6 Desember 2017   15:30 Diperbarui: 6 Desember 2017   15:34 418 0 0
Dialog Dua Hati yang Mengingat Tuhan (Resensi Novel "Percakapan Tuan dan Puan")
kekatastore.com

Judul Novel                        : Perjalanan Tuan dan Puan

Pengarang                          : Sri Suci Ramadhani

Penerbit                              : Kekata Publisher

Tebal                                     : 212 halaman

Tahun Terbit                      : 2016

Benarlah sabda Horatius dalam Ars Poeticabahwa sastra punya fungsi yang ia sebut sebagai dulce et utile. Ya, sastra bukan saja berguna untuk menghibur pembacanya, tapi sekaligus memberi manfaat kebaikan. Inilah yang kita temukan dalam Perjalanan Tuan dan Puan buah karya Sri Suci Ramadhani. Novel goresan pena gadis Langkat ini sebenarnya mengambil tema paling purba: kisah cinta anak manusia. Namun ia menyelipkan beragam pesan moral yang hari ini banyak ditabrak anak muda. 

Ketika banyak novel anak muda hanya menawarkan romantisme picisan belaka, maka karya ini menghadirkan antitesisnya: romantisme religius. Di saat rak-rak buku sastra disesaki sampah yang disebut penyair Taufik Ismail sebagai Gerakan Syahwat Merdeka, maka novel ini menghidangkan pilihan di mana syahwat bisa ditaklukkan iman.

Bagaimana tidak? Persahabatan sedari SD antara Anan dan Naimah ternyata menyisakan benih-benih kasih yang kembali mekar semasa kuliah. Mulanya hanya berjudul persahabatan, tapi siapa yang percaya hubungan pertemanan lawan jenis hanya akan cukup sampai level sahabat. "Anan, terkadang kita memang harus bertengkar untuk merasakan damainya saat kita ketawa bareng."       

Ucapan Naimah sebakda mereka bertengkar biasanya melelehkan perasaan mahasiswa Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Medan itu. Kata-kata itu terus terkenang dalam pikiran lelaki yang mencintai musik ini. Wajah gadis pujaan itu terus menghantuinya bahkan hingga tidurnya. Perasaan yang sama juga hinggap di hati Naimah. 

Apalagi tiap mereka bertemu, Naimah selalu menghadiahkan lukisan yang kemudian memenuhi kamar kostan Anan. Walau Naimah sering juga kesal demi mendengar komentar Anan saat dimintai pendapatnya tentang warna. "Buat saja warna yang kau suka, aku yakin warna yang kau suka adalah warna yang indah,". (hal. 58)

Walau saling suka, dua sejoli ini tak otomatis mengekspresikannya dalam bentuk konvensional yang ditempuh kebanyakan anak muda. Mereka tidak pacaran. Sebab Anan bergiat di Unit Kegiatan Mahasiswa Islam. Ia aktif mengikuti mentoring sepekan sekali dengan Bang Umar. Dia memahami bahwa pacaran adalah hubungan tak halal yang tak seyogianya dilakoni seorang muslim. Begitu pula Naimah yang tinggal di pondokan muslimah bersama para aktivis Lembaga Dakwah Kampus tersebut. Dua insan ini dalam kondisi asyik masyuk ternyata masih bisa mengingat Tuhan-nya.

Bagi mereka, menikahlah jalan berkah bila mau menjalin hubungan dengan lawan jenis bukan mahram. Maka memperbaiki diri secara kontiniu adalah langkah terbaik ketika dada diliputi sebuah rasa yang disebut cinta. Sayang, gerak Anan untuk melamar Naimah terlambat sehari saja. Ia keduluan Bang Ardi yang sudah lebih dahulu mengkhitbah Naimah. 

Ada penyesalan hebat. Dahsyatnya, Anan bisa segera move on. Baginya jodoh itu urusan Allah. Tugasnya hanyalah ikhtiar. Di sinilah kemudian kebolehan Sri Suci menggoda pembaca dengan twist menawan dan ending tak tertebak.

Seperti diungkap Maman S. Mahayana (2012:18), teks memang terlahir dari sejumlah persoalan di belakangnya dan sekian harapan di depannya. Ada proses panjang dan tidak seketika terjadi. Teks merupakan hasil perjalanan panjang sebuah proses pergulatan pemikiran manusia pengarang dalam kepungan berbagai budaya yang diterima sekaligus ditolaknya. 

Begitu pula Uci --sapaan akrab anggota komunitas Forum Lingkar Pena ini- yang berjibaku dengan benturan budaya postmodern di kampusnya. Inilah perlawanan aktivis masjid terhadap hedonisme yang diimpor dari Barat hingga merasuk ke sudut-sudut kota dan pelosok-pelosok desa.

 Tentu sejumlah kekurangan masih bertaburan di sana-sini. Mulai dari penulisaan ejaan, catatan kaki sampai sedikit kerancuan logika. Akan tetapi, karya ini amat patut diapresiasi untuk membangkitkan Medan kembali sebagai kiblat sastra yang pernah jaya di republik ini.