Mohon tunggu...
Anugrah Roby Syahputra
Anugrah Roby Syahputra Mohon Tunggu... Staf Ditjen Bea & Cukai, Kemenkeu. Ketua Forum Lingkar Pena Wilayah Sumatera Utara. Menulis lepas di media massa. Bukunya antara lain Gue Gak Cupu (Gramedia, 2010) dan Married Because of Allah (Noura Books, 2014)

Staf Ditjen Bea & Cukai, Kemenkeu. Pegiat Forum Lingkar Pena. Penulis lepas. Buku a.l. Gue Gak Cupu (Gramedia, 2010) dan Married Because of Allah (Noura Books, 2014)

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Menghijrahkan Cinta bagi Para Pejuang

1 Agustus 2011   03:47 Diperbarui: 26 Juni 2015   03:12 0 0 0 Mohon Tunggu...

Menghijrahkan Cinta bagi Para Pejuang Oleh: Anugrah Roby Syahputra Salman Al Farisi mulai resah. Hatinya gelisah. Sebabnya tak lain karena usia yang sudah matang dan adanya sesosok shalihah penarik hati. Perasaannya yang lembut telah menjatuhkan pilihannya pada seorang gadis Anshar. Ya, tentu saja untuk dipersunting menjadi bidadari penyejuk mata di baiti jannati. Tapi Salman bukanlah warga asli Madinah. Bagimanapun kota yang Munawwarah ini memiliki kultur sendiri yang amat khas. Urusan melamar perempuan pribumi bagi seorang pendatang adalah persoalan yang cukup pelik.  Maka ia pun memintakan bantuan kepada seorang sahabatnya Abu Darda’ sebagai juru bicara untuk prosesi khitbahnya. Sang sahabat pun tersenyum girang. Mereka berpelukan. Lalu memastikan seluruh persiapan untuk selanjutnya menyambangi rumah mungil si jelita berselendang taqwa. “Saya adalah Abu Darda’ dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakanya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahlul baitnya. Saya datang mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya,” fasih Abu Darda’ berbicara dengan logat Bani Najjar yang paling murni. “Adalah kehormatan bagi kami,” ucap tuan rumah, ”menerima Anda berdua sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi kami bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya akan saya berikan kepada puteri kami.”  Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang dibelakangnya sang puteri menanti dengan debar hati. ”Maafkan kami atas keterusterangan ini,” kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun, jika Abu Darda kemudian memiliki urusan yang sama, puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.” Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis sekaligus indah, sang puteri lebih tertarik pada pengantar pelamarnya! Tapi ini menjadi indah karena jawaban Salman ketika perasaan cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat di hati, sebentuk malu dan kesadaran bahwa ia memang belum berhak atas apapun bertemu. Ia berkata, ”Allahu Akbar! Semua mahar dan nafkah yang telah aku siapkan ini aku serahkan kepada Abu Darda’, aku menjadi saksi atas pernikahan kalian.” Bicara Cinta dengan Pejuang Sangat mengusik jiwa memang, bila tema cinta yang dibahas. Inilah tema yang tak putus dimakan zaman. Apalagi jika diperuntukkan bagi para pejuang. Ia hadir memberikan sentuhan-sentuhan halus nan lembut yang membuat hati kian bergelora. Lagi-lagi, Salim A. Fillah, penulis muda yang lincah memadukan dalil dengan kisah serta norma dengan hikmah ini menyentak kesadaran kita. Ya, memang ini masih berkutat pada tema klasik paling klise sedunia: cinta. Tapi ada sebentuk cara baru yang ia tawarkan agar para pembaca (baca: pejuang) menelisik makna sejati cinta sebagaimana yang dihayati para pejuang. Cinta yang diterjemahkan sebagai kata kerja. Cinta yang ditaklukkan untuk membersamai kerja-kerja besar mencerahkan peradaban. Dalam buku setebal 340 halaman terbitan Pro-U Media ini, sang penulis mendedahkan perjalanan panjang cinta. Mulai dari yang salah kaprah ala Romeo-Juliet, Layla Majnun dan Ti Pat Kai sampai ke fenomena zaman kini. Semuanya kemudian diberikan konklusi bagaimana cinta yang sejati ditapaki dengan visi, gairah, nurani dan disiplin. Pada bagian awal, buku ini memang bertabur dengan istilah-istilah asing yang rumit. Namun, alhamdulillah dengan kepiawaian Salim Insya Allah tuturan katanya yang slow dan disertai kisah membuat wacananya menjadi lebih mudah dipahami dan dicerna. Pembaca dibiasakan menerima pengetahuan akademik dan ensiklopedis yang umumnya berat secara ringan dan renyah. Bagi yang sudah sering membaca tulisan-tulisannya, kesan nyastra dari buku ini pun tak lekang. di sana, ada cinta dan tujuan yang membuatmu menatap jauh ke depan di kala malam begitu pekat dan mata sebaiknya dipejam saja cintamu masih lincah melesat jauh melampaui ruang dan masa kelananya menjejakkan mimpi-mimpi lalu di sepertiga malam terakhir engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu melanjutkan mimpi indah yang belum selesai dengn cinta yang besar, tinggi, dan bening dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali dan cinta yangs elalu mendengarkan suara hati teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman walau duri merentaskan kaki, walau kerikil mencacah telapak sampai engkau lelah, sampai engkau payah sampai keringat dan darah tumpah tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum di jalan cinta para pejuang Subhanallah... Di jalan cinta para pejuang, buku ini memandu kita agar tahan uji... Judul               : Jalan Cinta Para Pejuang Penulis             : Salim A. Fillah Penerbit           : Pro-U Media, Yogyakarta Tebal               : 340 halaman

KONTEN MENARIK LAINNYA
x