Mohon tunggu...
ANUGRAH FITRADI
ANUGRAH FITRADI Mohon Tunggu...

Lulusan sarjana Peternakan Jabatan Penyuluh Pertanian Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Linge

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

"Kampung Kopi Tebes Lues" Ikon Baru Agrowisata Berbasis P4S di Kabupaten Aceh Tengah

20 November 2018   18:52 Diperbarui: 20 November 2018   18:57 0 0 0 Mohon Tunggu...
"Kampung Kopi Tebes Lues" Ikon Baru Agrowisata Berbasis P4S di Kabupaten Aceh Tengah
Fasilitas di Kampung Kopi (Dok : Pribadi)

Aceh Tengah terkenal dengan kopi gayonya yang kesohor sampai ke manca negara.  Kopi yang dihasilkan didominasi oleh kopi arabika dengan luas lahan garapan mencapai 48.701 Ha. Dan digarap oleh sekitar 37 ribu KK petani (Data Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah). Dari luas lahan tersebut sekitar 90 persennya diusahakan di kebun atau hutan rakyat yang jaraknya jauh dari permukiman atau rumah pemiliknya. 

 Adalah Kampung Tebes Lues, yang merupakan salah satu kampung di Kecamatan Bies Kabupaten Aceh Tengah mempunyai tanaman pekarangan berupa tanaman kopi yang mendominasi tanaman lainnya di rumah-rumah penduduk.  

Keadaan ini kemudian 'dilirik' oleh Pemda untuk bakal dijadikan kampung kopi di Kabupaten Aceh tengah yang nantinya akan dijadikan model atau pilot projek dalam pemeliharaan tanaman kopi arabika.  

Pilihan ini selaras juga dengan data dari bidang perkebunan yang menyatakan bahwa produktivitas kopi yang paling tinggi ada di kecamatan Bies yaitu 770 kg/ha/tahun.  Lebih tinggi dari rata-rata produktivitas kopi kecamatan lainnya yaitu.745 kg/ha/tahun  (Angka tetap Distan. Tahun 2017).

Tidak dipungkiri lagi bahwa cita rasa kopi Gayo telah mendunia dan diminati oleh berbagai kalangan dari berbagai level. Hal ini telah meningkatkan laju permintaan terhadap kopi gayo dan besarnya minat para konsumen/buyer dari luar daerah untuk mengetahui seluk beluk kopi mulai dari hulu sampai hilir.  Oleh karenanya diperlukan program dan kegiatan peningkatan produksi secara berkelanjutan dengan tetap menjaga mutu sesuai standar yang telah ditetatapkan. 

Pada saat ini, pengelolaan kopi terutama di bagian hilir didominasi oleh koperasi-koperasi  besar swasta seperti KBQ Baburrayan di Weh Nareh Kecamatan Pegasing, Ketiara di Umang Kecamatan Bebesen dan lainnya, Dimana petani hanya berperan sebagai tenaga kerja/buruh yang digaji berdasarkan kinerja/beban tugas.    

Hal ini menyebabkan posisi tawar dan motivasi petani produsen rendah karena harga ditentukan oleh Pengusaha atau Toke tanpa ada penjelasan dan pengarahan tentang teknis penentuan harga berdasarkan standar mutu..

Mencermati keadaan tersebut di atas yakni potensi kecamatan Bies dan masalah kesejahteraan petani, maka pemda Aceh terutama Aceh Tengah berinisiatif mendirikan kampung kopi di kampung Tebes Lues, kecamatan Bies .  

Adapun tujuan dari kampung kopi ini adalah sebagai pusat percontohan dan pelatihan petani  tentang kopi secara terintegrasi mulai dari perbaikan budidaya kopi (on farm) sampai pengolahan (off farm) sesuai standar mutu yang telah ditetapkan baik nasional (SNI) maupun international (SCAA). 

 Adapun fasilitas atau sarana yang sudah disediakan pemda yakni gedung edukasi (tempat pelatihan), balai pertemuan poktan/gapoktan, dan fasilitas unit penanganan/pengolahan tingkat primer, sekunder dan konsumen.  

Adapun unit penganganan di tingkat primer meliputi  1 unit rumah pengering, empat/gedung hulling untuk pengupasan kulit tanduk buah kopi.  Sedangkan di tingkat sekunder (pengolahan bubuk kopi) meliputi 1 unit mesin roasting, greender (mesin penghalus), dan sealer (mesin pengemas). 

Di kampung kopi juga menyediakan warung/caf kopi untuk pengunjung dengan cita rasa khas kopi gayo olahan petani P4S. Dengan disediakannya fasilitas sarana ini, petani diharapkan bisa secara nyata menerapkan penanganan pasca panen sesuai standar mutu GHP (Good Handling Practise).  

Sehingga diharapkan nantinya dengan penanganan berbasis standar mutu maka petani akan termotivasi untuk meningkatkan produksi yang berkualitas karena harga yang didapat juga akan lebih tinggi dan pastinya pendapatan dari kopi juga akan meningkat.

 Belum banyak kegiatan dan buah yang bisa dipetik dari kampung kopi ini.  Perubahan pola fikir dan karakter petani yang masih tradisional harus pelan-pelan diarahkan menuju pola fikir maju berkarakter wirausahawan sejati kiranya butuh waktu dan proses.  Di usianya yang masih dua tahun, kampung kopi sangat butuh bantuan dari berbagai pihak dan instansi terkait terutama mental spirituil untuk penguatan dan pengembangan kelembagaan tani menjadi kelembagaan yang kuat, mandiri dan mampu bersaing di era globalisasi ini. Amiin (FT/ISM)