Mohon tunggu...
Anton Haryadi
Anton Haryadi Mohon Tunggu...

Rahasia!!!

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Amerika = Bandit Ekonomi?

29 Juli 2010   10:13 Diperbarui: 26 Juni 2015   14:29 172 0 0 Mohon Tunggu...

Akhirnya kesampaian juga membaca buku yang membuat dahi berkerut. Buku yang aku baca adalah sekuel buku Confessions of an Economic Hitman. Dalam buku keduanya yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Ufuk ini, Perkins menyempurnakan kisah dan pengakuan dosanya. Pengakuan ini sebenarnya cukup istimewa bagi rakyat Indonesia karena Indonesia dipotret secara khusus di sembilan bab awal.

Baginya, Indonesia merupakan negara dengan potensi sumber daya alam sangat melimpah yang sebenarnya mulai dilirik sejak era Sukarno. Apalagi, negara dengan penduduk muslim terbanyak ini pada saat itu dipimpin oleh para kleptokrat orde baru yang hobi berhutang untuk membangun imperium bisnis mereka sendiri.

Awalnya, Perkins datang ke Indonesia karena ditugaskan oleh MAIN (firma konsultan internasional) untuk membuat laporan “fiktif dan palsu” yang dapat meyakinkan Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) untuk memberikan pinjaman untuk pembangunan jaringan listrik. Jaringan kelistrikan dibutuhkan si Presiden dan kroninya untuk menggerakkan era industrialisasi, menambah pundi kekayaan dan dengan demikian, dominasi Amerika dalam jangka panjang juga tetap terjamin.

Berawal dari langkah itulah, Indonesia mulai masuk jeratan hutang dan jebakan jaringan korporatokrasi Amerika. Jaringan listrik pun dibangun dengan biaya bermilyar-milyar dolar dan AS tentu menunjuk perusahaan pelaksananya berasal dari AS sendiri.  Dengan begitu pinjaman mereka sebenarnya tidak masuk ke Indonesia sepenuhnya tapi tetap berada di tangan para pengusaha besar Amerika. Sementara itu, rakyat Indonesia harus membayar seluruh pinjaman beserta bunganya.

Dengan pembangunan ini, perusahaan multi-nasional mulai masuk ke Indonesia karena semua infrastrukturnya sudah lengkap. Kontrak penanaman modal asing pun mulai berduyun-duyun masuk ke Indonesia, yang tentunya dengan kontrak kerja yang menguntungkan mereka. Untuk melindungi kepentingan mereka di negara ini, tak jarang mereka berkongkalikong dengan penguasa dan militer bahkan dengan jalan KKN. Dalam rangka investasi itu, berbagai sumber daya alam Indonesia pun mulai dikeruk dan dieksploitasi habis-habisan.

Puncaknya, krisis moneter Asia menggoyang dominasi korporatokrasi di Indonesia. Pada saat itu, kita sadar bahwa industrialisasi semu berbasis-hutang itu sudah menghancurkan hutan-hutan kita. Meskipun demikian, para bandit dan jakal ekonomi itu tidak berhenti di situ. Dengan momen tsunami di Aceh 26 Desember 2004, para korpotokrat datang kembali dengan dalih pemulihan pasca-tsunami (tsunami-relief program). Beragam paket hutang pun mulai digelontorkan untuk membuat Indonesia semakin bergantung pada Amerika.

Konsekuensi dan bukti paling nyatanya adalah banjir susulan di Aceh tahun selanjutnya karena rusaknya Taman Nasional Gunung Leuser. Akhirnya, sekali lagi para korporatokrat menjadi pemenang dan mengambil manfaat paling banyak dari momen yang menghancurkan bangsa Indonesia itu.

Selain itu, Perkins, pengaku dosa paling populer saat ini tersebut, memaparkan tentang perselingkuhan Jakarta-Washington dalam pembantaian di Timor-Timur yang jumlah korbannya hampir menyamai korban Nazi di Jerman pada awal bergabungnya Timor-Timur ke Indonesia. Juga tak lepas dari pengamatannya adalah sepak terjang perusahaan multi-million dollar seperti Nike, Reebok, The Gap, Freeport, Newmont dan lain-lain di Indonesia. Merekalah “perampok” yang dilindungi.

Sekelumit narasi di atas menjadi cerita pembuka tentang bagaimana sepak terjang si bandit ekonomi merampok negara-negara dunia ketiga, khususnya Indonesia—negara sasaran pertamanya. Di bab-bab selanjutnya, penulis ini menggambarkan dengan narasi yang sama-sama mencengangkan sekaligus meresahkan tentang sepak terjang para bandit ekonomi di benua-benua dunia ketiga lainnya.

Bila dalam buku sebelumnya narasi didasarkan pada urutan waktu, buku ini menggunakan narasi urutan ruang untuk memperjelas bagaimana sepak terjang bandit ekonomi beraksi di masing-masing benua sasaran, yaitu Asia, Amerika Latin, Timur Tengah dan Afrika.

Dengan begitu lihainya, penulis berhasil merangkai narasi utuh dan menyeluruh tentang bagaimana sistem ekonomi kapitalis Amerika sebenarnya dikendalikan oleh segelintir korporatokrat (para bandit ekonomi) dengan memanfaatkan tangan IMF, Bank Dunia dan Badan Internasional lainnya. Dituturkan pula, sistem ini mulai ditentang habis-habisan di negara-negara Amerika latin dengan para presiden nasionalisnya seperti Hugo Chavez, Evo Morales, Lula dan di belahan dunia lain.

Paparannya yang segar dan menggugah membuka kesadaran tentang bagaimana kini sebuah negara, apalagi negara dunia ketiga, harus membangun dirinya sendiri dengan kemampuan mandiri, bukan dengan hutang. Sebab, pada dasarnya hutang diberikan hanya untuk menindas dan menjajah negara penghutang. Setelah itu, Perkins menutup bukunya dengan solusi-solusi sederhana tapi cerdas tentang bagaimana kita dapat memerangi dominasi korporatokrat dan kleptokrat dengan cara sederhana tersebut.

Pengakuan ini juga membuktikan bahwa teori konspirasi yang dulu sempat dianggap isapan jempol belaka benar-benar nyata adanya. Amerika sang konspirator benar-benar ada untuk mengontrol semua negara “jajahannya” dalam bernegara dan berbangsa. Intinya, Amerika adalah penjajah modern yang menari kegirangan di atas bencana, kelaparan, busung lapar dan kerusakan negara lain.

Buku ini perlu dibaca orang Indonesia yang peduli tentang negaranya dan dunia ketiga lainnya yang telah dan sedang compang-camping karena dirampok dan diperkosa bertubi-tubi oleh para korporatokrat multinasional didikan Amerika. Buku ini memang layak diacungi jempol untuk keberaniannya membongkar rezim barbar Amerika. Two thumbs up!

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x