Mohon tunggu...
Anton Sujarwo
Anton Sujarwo Mohon Tunggu... Penulis Buku, Freelancer, Content Writer, Pengajar Kelas Literasi

Anton Sujarwo adalah penulis kelahiran Bengkulu yang banyak menulis buku-buku bertemakan mountaineering atau pendakian gunung. Ia adalah penulis Indonesia yang pertama dan satu-satunya yang berhasil menulis 8 judul buku sejarah dunia mountaineering populer. Semua karyanya diterbitkan secara mandiri dan melalui jalur indie, sehingga memang belum dapat tersebar layaknya buku-buku lain yang diterbitkan secara mayor. Hingga hari ini dalam waktu 2 tahun, ia telah merilis 12 judul buku dan menulis ribuan artikel, baik tentang mountaineering mau pun tentang banyak hal lain untuk kepentingan copywriting dan content writing. Tulisan Anton Sujarwo lainnya dapat dibaca di blog; www.penulisgunung.id www.akasakaoutdoor.co.id www.arcopodojournal.com www.arcopodojournal.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Persaudaraan di Gunung Kejam: Mengenang Musibah Paling Terkenal di Gunung K2

12 April 2021   10:07 Diperbarui: 12 April 2021   10:19 499 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Persaudaraan di Gunung Kejam: Mengenang Musibah Paling Terkenal di Gunung K2
https://gripped.com/

Dalam sejarah pendakian gunung K2, ada sebuah peristiwa paling terkenal yang kemudian berkembang menjadi legenda mountaineering. Peristiwa ini membuktikan sebuah nilai persaudaraan yang sangat besar dari para pendaki Amerika. Bahkan menurut Reinhold Messner, peristiwa ini jauh lebih ia kagumi daripada first ascent gunung K2 sendiri oleh ekspedisi Italia pada tahun 1953. Peristiwa ini secara umum membunuh satu anggota ekspedisi Amerika tersebut, namun di sisi yang sama, juga membuat ikatan persaudaraan abadi di antara mereka.

Nah, apakah peristiwa tersebut dan bagaimana cerita lengkapnya?

Berikut kisahnya dikutip dari buku berjudul Gunung Kuburan Para Pemberani yang ditulis oleh Anton Sujarwo dan dirilis pada tahun 2020. Untuk bukunya sendiri dan berbagai tulisan terbaru mengenai mountaineering dunia, dapat juga baca secara lengkap disini.

***

10 Agustus situasi semakin kritis, kondisi Gilkey dengan cepat memburuk dan drop, sementara mereka semua masih terperangkap dalam badai 7.800 meter gunung K2. Tanpa ada upaya untuk turun dan melakukan sesuatu, kondisi ini tidak hanya akan membawa kematian bagi Gilkey, tapi juga seluruh anggota tim. Dengan memperhitungkan bahaya badai dan avalanche yang sambung menyambung tiada henti, tim ini kemudian memutuskan untuk segera turun meski apa pun risikonya.

Tidak ada pikiran dan ambisi lagi untuk mencapai puncak K2 dan membuat first ascent dalam benak Charles Houston dan kawan-kawan. Sekarang fokus mereka adalah segera turun meninggalkan gunung dan menyelamatkan Art Gilkey yang sedang sekarat. Dengan memasukkan Gilkey dalam sleeping bag, dibalut oleh tandu darat dari bahan canvas, dibebat oleh tali seperti mummi, tubuh Gilkey mulai ditarik dan kadang diturunkan melewati neraka yang kejam gunung K2.

Proses evakuasi berjalan dengan sangat sulit dan mengkhawatirkan. Menarik atau menurunkan sesosok tubuh dengan berat mencapai 60kg lebih bukanlah perkara yang menyenangkan untuk dilakukan. Dan ini mereka harus melakukannya di K2, pada ketinggian 7.800-an meter, di tengah raungan badai dan risiko avalanche yang ingin menyergap nyawa mereka dengan cepat. Ini benar-benar sebuah mimpi buruk yang tidak dapat dihindari. Meski bagaimana pun, akhirnya proses evakuasi ini berhasil turun hingga ketinggian 7.600 meter, tersisa sebuah medan yang harus dilalui dengan traversing untuk mencapai Camp VII di mana mereka bisa beristirahat.

Medan yang harus dilintasi tersebut adalah sebuah selokan atau couloir yang tidak terlalu lebar namun cukup berbahaya. Ujung dari selokan itu langsung bermuara pada Gletser Goldwin Austin yang menganga menunggu mangsa sejauh ribuan meter di bawah tebing. Dibutuhkan sebuah teknis yang matang untuk dapat melewati medan semacam ini, apalagi dalam kondisi membawa tubuh Art Gilkey yang terbungkus tak berdaya.

Pete Schoening kemudian mengambil posisi di atas tubuh Gilkey, ia membenamkan kapak esnya sedalam mungkin kemudian melilitkan tali yang menahan tubuh Gilkey ke badan kapak untuk kemudian kembali ke pinggang Schoening melalui tangan kanannya.

Waktu saat itu menjelang tengah hari di K2, badai masih bertiup menakutkan meski tidak sebrutal hari sebelumnya, gemuruh avalanche dengan skala yang tidak terlalu besar juga kerapkali mampir ke telinga. Perencanaan yang disusun oleh Houston dan para pendaki yang lain dalam melewati couloir ini adalah dengan membuat semacam bandul atau derek, sehingga mereka bisa menarik tubuh Art Gilkey dari seberang selokan.

Sebelum rencana ini dilakukan, Bob Craig yang sebelumnya hampir saja jatuh ke jurang dihantam avalanche, memilih untuk istirahat sejenak di ice shelf dan menenangkan diri. Ia juga melepaskan tali yang menghubungkannnya dengan Molenaar untuk memberi ruang pada Molenaar supaya lebih leluasa bergerak. Ketika Craig melepaskan talinya, Molenaar mengambil tindakan pencegahan dengan mengikat dirinya pada tali yang lebih longgar yang terhubung dengan tubuh Art Gilkey.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x