Anthony Tjio
Anthony Tjio Retired Medical Doctor

Penggemar dan penegak ketepatan sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Awal Candi di Nusantara

25 Januari 2018   21:49 Diperbarui: 27 Januari 2018   21:25 1877 9 3
Awal Candi di Nusantara
Candi Jawi. (AH Tjio)

Bung Karno mendefinisikan didalam bukunya "Candi: Symbol of the Universe", adalah bangunan dari bahan bata merah atau batu andesit yang menyebar luas antara abad ke-7 dan ke-15 Masehi di pulau Jawa, Sumatera dan Bali yang bermanifestasi utama sebagai bangunan suci keagamaan pra-Islam.

Bangunan keagamaan pra-Islam tersebut pada umumnya berbentuk seperti "roket" yang asalnya merupakan bangunan yang disebutnya vimana, dan bangunan vimana itu merupakan bangunan inti yang diletakkan di pertengahan setiap kompleks puri-puri Hindu di India Selatan, dari bangunan yang begitu banyak terdapat di Nusantara yang disebutnya candi.

Istilah candi itu adalah dari kata Sansekerta chand, merupakan kesingkatan dari chandhika yaitu nama kecil dari Dewi Durga. Maka, ceritanya harus dimulai dari sang Dewi Durga ini.

Dari semulanya, sebelum abad ke-7 tersebut, hanya ada puri-puri terbuat dari bahan kayu, yang merupakan tempat ibadah kepada para dewa Hindhu, yaitu Brahma pencipta alam semesta, Visnu yang mempertahankan keserasian hidup, Shiva sang pembinasa kejahatan, Krishna si dewa pencinta, dan Dewi Durga sang pengaman. Kemudian terjadi bangunan-bangunan batu yang disebut chand yaitu candi yang menggantinya, istilah candi ini berasal mula dari nama kecil Dewi Durga yang pada umumnya disalahkan sebagai dewi maut tersebut.

Dewi Durga ini adalah jelmaan dari istrinya sang CEO dewa-dewi Shiva, yaitu Dewi Parvati. Durga mulai diperkenalkan sebagai dewi pejuang yang dahsyat dan tidak terkalahkan di babak Ramayana dalam mitos Hindu Mahabharata. Dia ini mempunyai banyak nama kecilnya, diantara 35 nama kecil itu ada yang disebut Candhika, dari yang satu Candhika ini menjadi istilah candi, bangunan keagamaan pra-Islam yang dikatakan Bung Karno dalam bukunya tadi.

Ceritanya begini. Durga menunggang macan dengan seribu tangannya menggenggam berbagai senjata memerangi segala kejahatan yang mengancam kedamaian, kemakmuran dan kebajikan, sehingga kemautannya ditujukan kepada yang "durhaka", sedangkan dibalik sifat yang mudah naik darah dan ahli pemusnah setan yang sangat ditakuti itu, ada sisi halusnya yang sebagai penyelamat manusia dan pelambang kesuburan wanita, sehingga dari banyak nama aliasnya yang manis seperti Rima, Hastuti dan sebagainya juga sering dipakai buat nama anak perempuan kita.

Lukisan dinding Dewi Durga dengan berbagai senjata ditangan seribunya. Lukisan zaman Chola di Puri Rajarajan Tiruvasal, Tanjore. (AH Tjio)
Lukisan dinding Dewi Durga dengan berbagai senjata ditangan seribunya. Lukisan zaman Chola di Puri Rajarajan Tiruvasal, Tanjore. (AH Tjio)

Ukiran Durga bertangan seribu menunggang macan. (AH Tjio)
Ukiran Durga bertangan seribu menunggang macan. (AH Tjio)

Patung Dewi Durga memberi sambutan selamat di Bandara Chennai, Tamil Nadu. (AH Tjio)
Patung Dewi Durga memberi sambutan selamat di Bandara Chennai, Tamil Nadu. (AH Tjio)

Dengan demikian sejak abad 4 Masehi, Durga sudah menjadi sangat populer sebagai sandar pelindung keadilan sehingga juga dipuja sebagai pembina para wanita. Dari zaman itu juga banyak didirikan puri-puri untuk pemujaan Dewi Penyelamat Candhika, yang diambil dari salah satu nama kecilnya untuk pemujaan Durga, dengan demikian puri di India seterusnya disebut Chand, dari kebiasaan itulah yang sekarang menjadikan istilah "candi" di Nusantara.

Istilah candi ini nyatanya hanya khusus disebutkan di Indonesia, padahal hampir tidak ada puri pemujaan Candhika alias Dewi Durga yang tersisa di negara kita.

Alasannya bisa dijelaskan sebagai berikut. Puri-puri purba itu memang banyak, yang kebanyakannya juga merupakan puri Penyelamat Candhika, yang sejak abad pertama didirikan dan dipakai sebagai sandaran rohani bangsa Tamil yang menduduki Nusantara, sehingga istilah Chand itu sudah di Jawa-kan jauh sebelum adanya candi-candi batu yang bermunculan sewaktu kejayaan Mataram diabad ke-8.

Dulunya memang puri-puri purba itu hanya terbuat dari bahan kayu yang senantiasa memerlukan pembetulan dan pembaharuan sebagaimana yang masih tersisa di Pulau Bali, karena ada penggantian zaman dan dari kerapuhan bangunannya lama kelamaan puri-puri Candhika punah begitu saja. 

Dikemudian harinya para Prabu di Nusantara lebih condong pemuja Shiva atau Budha, sehingga terjadi pembangunan candi batu raksasa seperti Candi Hindu Parameshwara (Prambanan) dan Candi Budha (Sewu dan Borobudur), juga ada kecendrungan mendirikan prasasti dan pemakaman, sehingga puri-puri Candhika menghilang di Indonesia kecuali tinggal namanya candi.

Candi Dewi Durga, Chand Po Nagar, Kauthara, Nga Trang, Vietnam. (AH Tjio)
Candi Dewi Durga, Chand Po Nagar, Kauthara, Nga Trang, Vietnam. (AH Tjio)

Candi Dewi Durga, Chand Po Nagar, Kauthara, Nga Trang, Vietnam. (AH Tjio)
Candi Dewi Durga, Chand Po Nagar, Kauthara, Nga Trang, Vietnam. (AH Tjio)

Candi Jawi, Prigen, Pandaan. (AH Tjio).
Candi Jawi, Prigen, Pandaan. (AH Tjio).

Candi Loro Jonggrang, Prambanan. (gambar dari Gunawan Kartopranoto)
Candi Loro Jonggrang, Prambanan. (gambar dari Gunawan Kartopranoto)

Namun puri batu pemuja Dewi Durga semestinya masih juga tersisa disana-sini sampai hari ini. Contohnya, Chand Po Nagar dibekas Campa, Vietnam dan Candi Jawi di Prigen, Pandaan.


Gambar dan tulisan oleh: Anthony Hocktong Tjio. 

Monterey Park, CA. 25 Januari 2018.