Anthony Dio Martin
Anthony Dio Martin WISE (Writer, Inspirator, Speaker, Entepreneur), ICF Certified Coach, Psychotherapist, Trainer

Anthony Dio Martin, WISE (writer, inspirator, speaker dan entepreneur) dan juga ICF certified executive coach, yang dijuluki "The Best EQ Trainer Indonesia". Beliau penulis 16 buku dan lebih dari 25 CDAudio. Salah satu bukunya menerima penghargaan MURI. Beliau pernah memandu beberapa program motivasi di TV kabel, saat ini punya siaran rutin program radio “Smart Emotion” di SmartFM. Facebook: anthonydiomartinhrexcellency IG: anthonydiomartin Kontak & info: 021-3518505 atau 3862521 atau email: info@hrexcellency.com

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

Bagaimana Film Horor Memakai Ilmu Neuroscience dan Psikologi untuk Menakut-nakuti Kita?

10 Maret 2018   15:39 Diperbarui: 11 Maret 2018   01:50 1221 4 1
Bagaimana Film Horor Memakai Ilmu Neuroscience dan Psikologi untuk Menakut-nakuti Kita?
Sumber photo: satuharapan.com

Apa film horror terakhir yang Anda saksikan? 

Eh, mungkin pertanyaannya salah. Sukakah Anda dengan film horror? 

Kalau iya, apa yang membuat Anda menyukainya? 

Yang jelas, belakangan ini dengan kecanggihan berbagai teknik sinemotografi, film horor pun dari waktu ke waktu pun menjadi semakin menyeramkan. Makin bikin penasaran dan tegang, tepatnya!

Sebut saja Danur. Dikisahkan dalam film ini, ketika si Risa berulang tahun dan mengharapkan punya teman yang bisa menemaninya. Saat berbagai kejadian aneh terjadi di rumahnya, penontonpun mulai diciptakan ketegangannya. Selanjutnya, Risa memang dia mendapat banyak teman, tetapi semuanya hantu. Dan keteganganpun makin berlanjut hingga selesai. Itulah isinya Danur. Hasilnya? Total, penonton Danur dikabarkan berjumlah 2,7 juta orang. Tapi, ada yang lebih dahsyat ternyata. Yakni film Pengabdi Setan. 

Film yang mengisahkan seorang mantan penyanyi yang menjadi pengikut sekte setan ini rupanya dianggap lebih seru. Penontonnya bahkan menembus 4,1 juta orang. Ini menjadikan film Pengabdi Setan sebagai film terlaris no.2 di tahun 2017 lalu.

Dari Hollywood, tentu saja kita ingat dengan beberapa film horor yang masih terasa "kesan menakutkannya" setelah ditonton. Sebut saja Conjuring. Atau, film Six Sense, yang dulu pernah dibintangi oleh Bruce Willis. Atau, yang terbaru yang memecahkan rekor pendapatan tertinggi, yakni "It". 

Dikatakan, pendapatan film "It" mencetak rekor terbaru yakni 700,2jt dollar. Yang unik, film ini memang sejak awal menampilkan kontradiksi emosi yang aneh. Badut, yang biasanya dikaitkan dengan lucu dan menyenangkan, justru merupakan jadi sumber terror yang menakutkan. Ide yang brillian!

Dan sedikit info untuk Anda. Film horror adalah salah satu film yang senang dibuat oleh para produser dan sutradara. Mengapa? Di Indonesia sendiri, film genre horror adalah nomer dua setelah film drama. Sekitar 20,2 % film kita saat ini bertema horror. Hal ini tentunya, tak lepas dari permintaan pasar dan kebutuhan akan film horror yang tinggi. Tapi, kok mau-maunya ditakuti?

Mengapa Membayar Untuk Ditakut-Takuti?

Jadi, mengapa sih orang rela membayar mahal-mahal hanya untuk ditakut-takuti?

Mari kita mulai dari penjelasan yang paling mendasar.

Ingatkah Anda? Rasa takut merupaan salah satu emosi dasar yang dibawa oleh manusia sejak lahir. Menurut Paul Ekman, emosi manusia terbagi 6 yang dikenal "The Six Basic Emotion", mencakup: rasa senang, sedih, takut, marah, jijik dan terkejut. 

Nah, sadarkah Anda semua, emosi dasar ini terkadang mulai banyak dieksploitasi industri-industri tertentu untuk menghasilkan banyak uang. Emosi jijik, katakanlah. Tahukah Anda bahwa ternyata penggemar acara "Fear Factor" yang kadang menampilkan uji nyali orang memakan serangga atau cairan menjijikkan, membangkitkan sensasi tertentu, dan ternyata banyak orang menyukainya? Tak mengherankan kalau acara Fear Factor termasuk yang ratingnya tinggi, pada masanya!

Kembali ke emosi takut dan terkejut yang ditimbulkan oleh film horor. Faktanya, meskipun ini tergolong emosi tidak menyenangkan (unpleasant emotion), tetapi tetap bikin orang tertarik (bahkan ketagihan) untuk mengalaminya. Inilah yang membuat orang rela merogoh duitnya.

Selain itu, perasaan takut, penasaran, terkejut memenuhi salah satu dari 6 kebutuhan dasar-nya Anthony Robbins, yakni ketidakpastian (uncertainty). Intinya, pada dasarnya orang punya kebutuhan untuk terbebas dari sesuatu yang rutin dan monoton. Nah, alur atau plot film horror dengan suspens yang bikin kaget, sulit diprediksi merupakan bagian dari pemenuhan basic need "uncertainty" ini. 

Tak mengherankan, sampai kapanpun sesuatu yang berbau horror, terus masih akan dinikmati selama manusia masih hidup di muka bumi ini. Bahkan, kalau kita perhatikan. 

Bukan hanya dalam bentuk film, berbagai rumah hantu, atau tamasya ke Dangeon Castle ala "Rumah Hantu" yang berisi beraneka ragam hantu yang menakutkan, pun masih tetap ramai dikunjungi. Bahkan, ada lho berbagai paket jalan-jalan "Tamasya ke Rumah-rumah Berhantu" yang juga laris jadi salah satu paket wisata. Jadi, intinya orang memang tidak segan-segan membayar hanya untuk ditakuti!

Penjelasannya Neurocinematics

Ada sebuah ilmu yang sedang berkembang saat ini, namanya Neurocinematics. Inilah ilmu yang mencoba mengkaitkan antara ilmu tentang otak manusia dengan pengalaman menonton film. Salah satu pelopornya adalah Michael Grabowski, seorang associate professor di bidang komunikasi di Manhattan College serta penulis "Neuroscience and Media: New Understandings and Representations."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2