Mohon tunggu...
Anthony Dio Martin
Anthony Dio Martin Mohon Tunggu... Human Resources - WISE (Writer, Inspirator, Speaker, Entepreneur), CEO HR Excellency - MWS Indonesia, Penulis 18 Buku, Ahli Psikologi, Profesional Coach

Anthony Dio Martin, WISE (writer, inspirator, speaker dan entepreneur) dan juga ICF certified executive coach, yang dijuluki "The Best EQ Trainer Indonesia". Beliau penulis 18 buku dan lebih dari 25 CDAudio. Salah satu bukunya menerima penghargaan MURI. Beliau pernah memandu beberapa program motivasi di TV kabel, saat ini punya siaran rutin program radio “Smart Emotion” di SmartFM. Youtube: anthony dio martin official IG: anthonydiomartin Kontak & info: 021-3518505 atau 3862521 atau email: info@hrexcellency.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

10 Alasan Mengapa EQ Bisa Mempengaruhi Sukses dan Gagalmu!

14 Februari 2018   05:12 Diperbarui: 14 Februari 2018   08:34 487
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Ketiga, EQ yang baik membuat Anda mampu fokus pada tujuan bukan perasaan Anda. Saya pun teringat dengan kalimat menarik dari Nicollo Machiavelli (1469-1527) yang sempat menjadi penasihat dari keluarga berpengaruh di Republik Florentina. Intinya, "Jangan sampai emosimu membuatmu tidak mampu mengemukakan pendapat secara objektif". Umumnya, banyak orang yang bekerja ataupun berinteraksi dengan orang lain atas dasar suka atau tidak suka. 

Hal inilah yang oleh Machiavelli dikatakan tidak professional. Meskipun banyak orang mengkritik ide-idenya Machiavelli, tapi toh nyatanya dia masih bisa dipakai oleh beberapa keluarga di Florence. Begitu pula dengan kebanyakan orang yang EQnya rendah, mereka pilih-pilih kalau harus bekerjasama. Dengan begitu, perasaan suka atau tidak sukanya pada orang mempengaruhi kualitasnya. Padahal, terkadang untuk sukses dibutuhkan kita untuk bekerjsama bukan hanya dengan orang yang kita sukai, tapi juga dengan orang yang kita tidak sukai.

Keempat, EQ yang bagus membuat produktivitas kerja tidak dipenagruhi oleh mood Anda. Setiap orang pasti akan mengalami jatuh dan bangun dalam pekerjaannya. Ada kalanya, ada banyak masalah. Ada kalanya, mood lagi bagus. Nah, ada banyak karyawan yang kerjaannya berkualitas tinggi ketika moodnya lagi baik tetapi produktivitasnya turun tatkala moodnya lagi buruk. Ini tidaklah professional. Seorang yang professional tidak membiarkan mood kerjanya mempengariuhi kulaitasnya. Karena itulah, kita perhatikan banyak karyawan dan pimpinan STAR yang kualitas kerjanya luar biasa, meskipun kita tahu bahwa ia baru punaya masalah, baru saja punya problem besar di keluarga, dll.

Kelima, pribadi dengan EQ yang baik bisa membaca polanya sendiri serta pola orang di sekitarnya. Dalam istilah Kecerdasan Emosional, kompetensi ini disebut dengan Recognizing Pattern (Mengenali Pola). Mengapa kompetensi ini penting? Alasannya dengan mengenali pola maka Anda bisa mengantisipasi, mengubah atau bahkan mencegah pola yang buruk terjadi. Misalkan saja, seorang manager sadar kalau kebiasaannya adalah menjadi 'sengit' (defensif) kalau ada yang mempertanyakan kredibilitasnya (oleh karena dirinya masih muda). 

Hal ini seringkali jadi masalah, apalagi kalau sikapnya tidak enak waktu berhadapan dengan klien. Akhirnya, setelah belajar EQ ia belajar untuk mengubah polanya ini. Begitu pula dengan memahami pola ataupun kebiasaan orang di sekitar kita, maka kita bisa menyesuaikan dengan situasi tersebut. Saya pun teringat dengan seorang manager kesayangan boss yang sangat cepat karirnya, salah satunya adalah kemampuan dia untuk membaca petunjuk dan kebiasaan boss. Akibatnya, orang pun seringkali minta nasihatnya kalau ingin presentasi ataupun bicara dengan boss.

Keenam, pribadi dengan EQ yang baik mampu mengekspresikan emosi dan perasaannya secara efektif. Bukan berarti bahwa orang dengan EQ tinggi, tidak akan pernah marah. Tapi, kalaupun ia mengekspresikannya, ia mengekspresikan dengan terkendali. Bandingkan dengan seorang asisten manager yang saya kenal yang sampai 5 tahun tertahan promosinya, menurutnya, gara-gara ia pernah melempari atasannya dengan botol air mineral. Menurutnya, hingga kini atasannya terasebut masih sentiman denagnnnya. Lepas dari benar tidakya alasan tersebut, memang tidak pada tempatnya kalau kita kehilangan emosi secara tidak terkendali., Gara-gara hal ini, kita bisa kehilangan relasi, karir bahkan customer, karena emosi yang tidak pada tempatnya.

Ketujuh, pribadi dengan EQ tinggi biasanya lebih disukai dan diterima di dalam tim. Sebagai orang yang lama berkecimpung di HRD, saya seringkali menyaksikan orang yang tidak dipromosikan gara-gara dianggap kurang akan bisa diterima oleh timnya. Sebenarnya secara teknis dan kemampuan, orang ini mampu. Tapi, persoalan yang muncul adalah soal L-Factor atau likeability factor atau factor kemenarikan dari si orang ini. Sikap orang ini dianggap sulit menyesuaikan, kaku dan tidak bisa berbaur dengan tim yang akan dipimpinannya. Oleh karena itulah, orang lainlah yang kemudian dipilih.

Kedelapan, level toleransi stress pribadi dengan EQ yang baik juga lebih bagus. Tatkala dalam kondisi sulit, biasanya pribadi dengan EQ rendah mudah menyalahkan, mencari kambing hitam serta panik. Akan tetapi, pribadi yang EQnya bagus akan tetap tenang (meski di dalamnya sendiri mungkin juga bingung dan berkecamuk) tetapi, ia berusaha berpikir dengan jernih. Level tolerasni stressnya juga lebih bagus sehingga pada saat situasi tidak seperti yang tidak diharapkan, responnya tidak mengeluh, tidak negatif. Dan menariknya, jutsru orang-orang matang seperti ini yang diangkap menjadi pemimpin.

Kesembilan, aura dan energi mereka positif. Kemana-mana, pancaran virbrasi emosi mereka positif. Itulah sebabnya, kehadiran mereka justu dirasakan memberikan energy lebih banyak (energy giver) bukannya justru 'ngerecokin'. Itulah yang menyebabkan mereka ini disukai kehadirannya. Mereka tidak selalu harus jadi selebriti di kantor, tetapi mereka menyenangkan. Sikap mereka terhadap berbagai hal juga positif. Mereka bukan tipe penggosip ataupun yang negatif terhadap orang-orang. Akibatnya, dengan mudah orang pun bisa curhat, cerita dan berbagai rasa kepadanya.

Dan akhirnya, berkebalikan dengan banyak dugaan orang yang berkata "Orang yang EQ-nya bagus adalah si tukang penjilat". Justru sebaliknya, pribadi dengan EQ yang bagus adalah orang yang cukup otentik, tulus tapi sangat positif.  Mereka bisa blak-blakan mengungkapkan perasaan mereka ataupun pendapat mereka, tetapi orang memahami bahwa pribadi dengan EQ yang tinggi bukan orang yang punya banyak "hidden agenda". Jadi selain disukai, orang pun mejadi percaya kepadanya. Makanya, tidak mengherankan jika dia adalah seorang penjual, ia mampu membangun kepercayaan yang luar biasa dari pelanggan dan konsumennya. Salah satunya, karena ia adalah orang yang betul-betul CARE. Bukan hanya karena ada kepentingan tertentu tapi karena pribadi dia memang demikian.

So, semoga dalam perjalanan mendaki puncak kesuksesan kita, tidak henti-hentinya kita terus mengembangkan kualitas Kecerdasan Emosional kita. Dan berita baiknya adalah, EQ bisa ditingkatkan dan bisa dipelajari!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun