Olahraga

Mengapa Prestasi Olahraga di Sumsel Masih Memprihatinkan?

26 Desember 2017   21:52 Diperbarui: 26 Desember 2017   22:06 2989 0 0
Mengapa Prestasi Olahraga di Sumsel Masih Memprihatinkan?
Mengapa Prestasi Olahraga di Sumsel Masih Memprihatinkan?

Calon Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru pernah mengatakan, Pilkada adalah momentum bagi rakyat untuk mengevaluasi pemimpinnya. Jika pemimpin tersebut dianggap bagus, maka rakyat akan kembali memilihnya. Jika tidak, ia harus rela kalau rakyat tak lagi memilihnya.

Menjelang Pilgub Sumsel 2018, sang petahana yakni Alex Noerdin memang tidak bisa mencalonkan kembali, karena sudah dua periode menjadi Gubernur Sumsel. Meski demikian, bukan berarti Alex Noerdin harus dilupakan begitu saja dalam putaran Pilkada Sumsel 2018.

Pasalnya, anaknya yaitu Dodi Reza Alex Noerdin dipastikan akan bersaing dalam kontestasi Pilgub Sumsel nanti. Sebagai anak kandung dari gubernur petahana, keterpilihan Dodi tergantung bagaimana rakyat Sumsel menilai Alex Noerdin.

Berbagai hasil survei dalam satu tahun terkahir yang menempatkan elektabilitas Dodi selalu jauh dibawa tokoh-tokoh lainnya, menunjukkan ada ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Alex Nordin. Memang harus diakui, meski sudah dua periode menjadi Gubernur Sumsel, Alex Noerdin menyisakan PR yang cukup banyak bagi calon gubernur salanjutnya.

Salah satu yang paling disorot tentu saja di bidang olahraga. Dari tahun ke tahun prestasi Sumsel di bidang olahraga masih jauh tertinggal dari provinsi lainnya. Contoh yang paling memalukan adalah saat Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 lalu. Dalam gelaran ini, Provinsi Sumsel hanya bertengger di posisi ke-21 dari 33 provinsi.

Berada diurutan ke-21 tentu bukan prestasi yang menggembirakan bagi warga Sumsel. Maka wajar jika rakyat Sumsel sangat menyesalkan dan merasa malu dengan prestasi yang diraih Sumsel. Padahal, fasilitas olahraga sudah bertaraf international tetapi prestasinya memprihatinkan.

Buruknya prestasi olahraga di Sumsel itu sendiri menjadi catatan serius bagi Calon Gubernur Sumsel 2018 Herman Deru. Seperti halnya rakyat Sumsel, ia tercengang melihat prestasi yang diraih tidak sesuai ekspektasi warga.

Dikutip dari teraspalembang.com, Herman Deru menyatakan dapat memahami kegundahan publik Sumsel atas realitas tersebut. Namun ia mengingatkan, tidak mudah dan tidak serta merta apalagi membangun fasilitas bertaraf internasional lalu prestasi olah raga jadi bertaraf internasional. Harus ada upaya keras dan pembinaan olah raga yang sistematis, didukung pendanaan dan pengawasan yang efektif serta diiringi paradigma yang baru yakni pentingnya keseimbangan fasilitas dengan prestasi.

Ia mencontohkan begini, "satu fasilitas dibangun saat yang sama pembinaan ditingkatkan, dengan sendirinya pelatda atau apapun kegiatan peningkatan prestasi atlit harus di-backup penuh. Jangan membangun saja lalu selesai, itu pendekatan proyek namanya,"

Herman Deru juga mengapresiasi dan meminta semua pihak fair mengakui dibangunnya fasilitas olah raga bertaraf internasional itu sebagai hal yang positif. Artinya bagi pemimpin baru mendatang, PR-nya tinggal di pembinaan. Bagaimana agar adanya fasilitas yang bagus itu bisa membangkitkan prestasi olah raga Sumsel. Pembinaan olah raga harus serius, harus melibatkan stakeholders olah raga, pendidikan dan pemerintah daerah secara berjenjang.

Menurut Herman Deru, semua Bupati, walikota, camat, kepala desa atau lurah dan semua perangkat pembina wilayah harus membangun prestasi olah raga di wilayahnya. Fasilitas olah raga publik juga harus ada dan dipelihara dengan baik. Ia kembali mengingatkan bahwa dulu setiap desa harus punya lapangan sepak bola, itu bagus. Bahkan ada tradisi lari pagi untuk warga. Sampai kita kenal ada lagu "Lari Pagi".

Deru menambahkan, pembinaan olah raga harus melibatkan tim pemandu bakat. Di sekolah tingkat dasar, anak-anak yang punya bakat dan prestasi olah raga yang baik harus dibina. Itu artinya koordinasi antar perangkat daerah harus baik. Membangun kesadaran bahwa prestasi olah raga adalah kepentingan bersama yang dampaknya akan memberi kontribusi pada kesehatan masyarakat pada umumnya.

Bagi Herman Deru istilah memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat masih relavan hingga kini. PR ke depan adalah membangun paradigma baru yakni setiap cabang olah raga dibina dengan baik dan fasilitasnya disediakan dengan baik.

Menurutnya, jangan fasilitasnya disediakan, pembinaannya tidak diperhatikan. Oleh karena itu, bagi Herman Deru ke depan jangan lagi peringkat PON nomor urut 21 dari 33, paling tidak 10 besar, 5 besar, syukur kalau bisa 3 besar.