Mohon tunggu...
Annora
Annora Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Tugas Mata Kuliah PDB

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Media Sosial dan Body Image

17 Juni 2022   21:23 Diperbarui: 17 Juni 2022   21:35 66 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi dua orang yang mengukur tubuhnya (Sumber : SHVETS Production www.pexels.com)



Dalam era digital ini, dekatnya kita dengan gadget bukanlah hal yang baru. 

Belum lagi ditambah dengan adanya pandemi COVID-19 yang membatasi interaksi langsung, kegiatan sehari-hari pun beralih dari offline ke online. Ketergantungan ini pun bertambah, menjadi substitusi tidak hanya terhadap pembelajaran atau pekerjaan, namun juga interaksi sosial dan hiburan. 

Dengan jauh meningkatnya konsumsi media digital ini, banyak orang mendapati dirinya menjadi hyper aware terhadap tubuh sendiri. Dari melihat pantulan gambar diri kita dari kamera yang terlihat ketika Zoom meeting, kita kemudian beralih ke Instagram, di mana bertebaran gambar-gambar model fitspo.

Dengan tubuh yang ramping, perut yang rata, dan kulit yang saking mulusnya menjadi blur, pantulan diri kita seolah berulang kali dijejerkan di samping gambar-gambar yang diproduksi secara spesifik untuk melukiskan apa yang kita anggap sebagai "sempurna". Meningkatnya paparan terhadap media digital yang menunjukkan tubuh-tubuh "sempurna" inilah yang menjadikan fikiran tentang tubuh begitu sulit untuk diabaikan. 

Kita seolah-olah didorong untuk membandingkan tubuh kita sendiri dengan gambar-gambar tersebut.
"Kok aku ngga bisa sih kayak dia?"
"Ih, siku dan lututku ternyata gelap sekali..."
"Perutku kok ngga bisa rata?"

Fikiran-fikiran seperti ini yang terlalu sering muncul dapat menjadi penyebab seseorang merasa sangat tidak puas dengan tubuhnya dan memiliki negative body image.

Apakah itu body image?
Body image adalah perasaan dan fikiran yang muncul dalam diri seseorang terhadap tubuhnya sendiri.

Seseorang dengan negative body image akan cenderung berlebihan dalam membuat penampilan sebagai aspek yang mendefinisikan harga dirinya, selalu membanding-bandingkan tubuhnya dengan orang lain, memiliki kepercayaan diri yang rendah, dan bahkan dapat terdorong untuk melakukan kebiasaan berbahaya seperti mengurangi makanan secara ekstrim.

Lantas, apakah kita harus menghindari total media sosial agar tidak terjerumus untuk memiliki negative body image?
Seperti segala hal di kehidupan, media sosial bukanlah hanya sebuah jurang yang penuh keburukan. Kuncinya adalah kurasi konten dan mencari komunitas yang tepat dan suportif.


Dalam hal ini, telah muncul berbagai komunitas gerakan Body Positivity, yaitu gerakan yang bertujuan untuk mengapresiasi semua tubuh, tanpa mendiskriminasi gelap atau terang warna kulit, tinggi atau pendek, gemuk atau kurus, dan juga inklusi orang-orang difabel dalam menggambarkan realitas bahwa standar kecantikan bukanlah one size fits all.

If there is demand, there will be supply.

Partisipasi trend Body Positivity ini berhasil mendorong representasi tubuh yang lebih bervariasi dan realistis, dan hal ini tidak hanya membantu kepercayaan diri seseorang, namun juga inklusivitas produk estetika, contohnya adalah peningkatan produksi shade make up yang lebih sesuai dengan warna kulit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan