Mohon tunggu...
Annisha Triana Dewi
Annisha Triana Dewi Mohon Tunggu... siswa SMAN 1 Padalarang

InsyaAllah menulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Mozaik Kehidupan

26 Februari 2020   18:16 Diperbarui: 26 Februari 2020   18:21 8 0 0 Mohon Tunggu...


"Menyenangkan ya jadi anak kecil, senang tinggal ketawa, sedih tinggal nangis" kataku setelah dewasa. Dulu, saat aku kecil, mungkin kisaran umur 6 atau 7 tahun aku selalu membayangkan menyenangkan ya menjadi dewasa. Tapi, nyatanya menjadi dewasa tak semudah bayanganku, tak semudah gema yang kudengar di ruang kosong, tak semudah apa yang kulihat di tempat terang.

Menjadi dewasa adalah suatu proses dimana bukan hanya fisikmu yang tumbuh, tapi pikiran dan perasaanpun harus bertumbuh. Ketika engkau dewasa bukan hanya tentang dirimu sendiri yang kau bahas, tapi oranglain pun akan menyusup masuk dalam cerita yang tak pernah kau bayangan bagaimana alurnya dan kearah mana. Tapi, disinilah tahun dimana semua pikiran, perasaan, dan fisik di uji.

"Sudahlah Bin, dia tak mau serius denganmu lantas apa yang mau kau perjuangakan? Rasa sakitmu? Apa yang mau kamu korbankan? Perasaanmu lagi? Sudahlah ini bukan waktunya kamu memikirkan dia, lihat dirimu, bagaimana kamu bisa membuat dia kembali jika kamu saja tak mencintai dirimu sendiri." Kata Rida sambil menahan emosinya.

Aku hanya tertunduk sambil menangis.

"Apa hidupmu ini akan terus seperti ini? C'mon hidup kamu, milik kamu Bin. Dengan atau tanpa dia kamu akan baik baik saja!" katanya lagi sambil berlalu meninggalkanku. Setelah kepergian Rida itu aku selalu merenungkan perkataan Rida yang seolah menohokku sangat dalam. Namun, aku selalu mencari pembenaran dalam isi otakku, yang sebenarnya tanpa pembenaran pun perkataan Rida itu seratus persen benar.

Setelah hari itu, aku sadar hidup bukan tentang cinta tentang dua remaja tapi lebih dari itu. Namun, hati dan pikiranku belum menyatu. Beberapa hari setelah putus kamar menjadi tempat terbaik untuk merenung. Aku jarang keluar kamar ketika di rumah, hanya sekedar makan dan minum baru aku keluar. 

Kulihat ibu yang ingin berbicara banyak denganku tetapi menahan karena melihatku seperti ini. Sekolah hanya terasa untuk membeli tisu. Sehari aku bisa menghabiskan 1 bungkus tisu seharga 2000 dan itu memang pemborosan. Untung saja Rida mengerti aku. Dia selalu mengajakku jajan ke kantin, tapi aku selalu menitip. Candaannya pun tidak dapat membantuku.

Hal ini sangat berpengaruh pada nilaiku. Belajarku menurun dan sering mengantuk. Mungkin beberapa guru yang dekat denganku merasa aku tak memiliki semangat belajar.

Iya, aku tahu ini salah tapi aku masih belum bisa. Aku juga tahu ini hanyalah cinta remaja, namun cinta ini adalah imajinasiku tentang keindahan dan berakhir seperti ini membuatku belum menerima.

Tak lama setelah hari itu, aku mendengar percakapan kecil antara bapak dan ibuku. "Pak, laptop teteh rusak, ibu ingin sekali beli yang baru, tapi sayang ibu belum punya uang pak, mamah belum ngasih gaji bapak minggu ini" kata ibu dengan raut sedih

"Bagaimana ya bu, bukan bapa ga ingin bantu ibu sendiri tahu sekarang bapa sudah ga bekerja lagi, penghasilan hanya dari gaji bapa kerja di mamah. Yang sabar bu, inshaallah, Allah kasih jalan" kata bapal sambil menenangkan ibu.

"Ibu sedih pak lihat anak kita, ia selalu ingin sesuatu tapi ga pernah bisa bilang, ibu merasa gagal pak ga bisa menuhi kebutuhan anak kita." kata ibu sambil menangis. Bapak hanya bisa diam, meskipun aku tahu bapak pun pasti memikirkan hal itu.

Sejak percakapan itu, tekadku semakin kuat untuk membahagiakan ibu dan bapakku. Aku harus belajar dengan sungguh - sungguh supaya aku bisa mencapai tujuanku. 

Saat memulai menata dari awal rintangan tak mudah di lewati. Dimulai dari aku yang sedang malas belajar, atau malah melamun saat belajar. Bahkan tak jarang setelah aku belajar berjam - jam aku merasa aku tak belajar apa - apa, hal itu pula yang membuat aku kadang rasanya ingin menyerah saja.

Saat akan kenaikan kelas semangat belajarku masih belum juga tumbuh, lalu aku membuka sosial media dan terputarlah sebuah video yang berisi lagu yang syairnya adalah "cukupkanlah ikatanmu, relakanlah yang tak seharusnya untukmu, yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri" lagu itu berjudul Rehat yang dibawakan oleh Kunto Aji dan aku mulai menyadari semua ini bukan akhir dari semuanya masih ada yang harus aku gapai masih ada yang harus aku wujudkan. 

Setiap aku mendengarkan lagu itu yang terbayang dalam pikiranku hanya wajah orang tuaku. Akupun mulai menata kembali semangatku, meyakinkan diriku sendiri apa tujuanku belajar, harus mulai darimana aku belajar, dan hal itu bekerja sangat baik seolah semesta sedang mendukungku untuk lebih baik lagi dan membanggakan orang tuaku. Aku belajar dengan sungguh - sungguh mempersiapkan kenaikan kelas setelah semua ujuan selesai aku hanya bisa berharap semoga mendapat hasil yang terbaik.

Hari pembagian rapotpun tiba, aku merasa sangat gugup sampai semalaman tak bisa tidur. Ketika aku menerima rapot tersebut ternyata tak ada nilai yang dibawah kkm dan poin plusnya lagi aku mendapat peringkat ke-4 tak pernah terbayang olehku untuk mendapat hal tersebut karena bagiku mendapat nilai diatas kkmpun sudah menjadi rejeki yang sangat besar bagiku. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x