Mohon tunggu...
Annisa Qoulans
Annisa Qoulans Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa Pendidikan Sosiologi-Antropologi

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Antropologi

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Perempuan, Dapur, dan Hegemoni yang Tiada Henti

17 Oktober 2021   15:20 Diperbarui: 17 Oktober 2021   15:25 279
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Sesuatu yang tidak dapat diubah atau bisa disebut kodrat itu contohnya seperti melahirkan, menyusui, menstruasi, dan lain sebagainya. 

Jadi, kodrat perempuan hanya di dapur merupakan pemikiran masyarakat yang salah kaprah, karena sebenarnya hal tersebut dapat diubah. Jadi seorang perempuan yang memilih untuk bekerja bukanlah perempuan yang menyalahi kodrat. 

Hal yang dapat membuktikan bahwa kodrat perempuan bukan hanya didapur saja adalah pendidikan setinggi-tingginya.

Orang yang beranggapan kodrat perempuan hanya di dapur saja, meyakini tiga hal. 

Yang pertama, si perempuan akan menikah dengan seseorang yang dapat memberikan sebuah 'dapur'. Apabila anggapan tersebut sudah terealisasikan, muncul anggapan yang kedua yaitu dapur tersebut akan selamanya dimiliki oleh si perempuan, dengan kata lain pernikahan tersebut abadi atau tidak akan bercerai. 

Lalu ada anggapan ketiga yaitu dapur tersebut akan selalu menyala, yang artinya suami dari si perempuan tersebut akan selalu mampu dalam memberi nafkah dan mencukupi kebutuhan rumah tangganya.

Pola pikir primitf seperti contoh tadi, tidak akan muncul apabila kita memiliki prinsip bahwasannya di dalam hidup tidak ada yang pasti. Pendidikan tinggi bagi kaum perempuan mempunyai banyak sekali manfaatnya. 

Bayangkan saja ketika setelah menikah nanti, suami berselingkuh dengan perempuan yang lebih cantik dan lebih muda. Lalu sang suami ingin menceraikannya. 

Pendidikan dapat menjadi bekal si perempuan untuk melanjutkan hidupnya. Si perempuan masih bisa melanjutkan hidupnya dengan mandiri, bukan mengemis dan meminta belas kasihan dari suami untuk tetap berada disampingnya. 

Perempuan yang membekali dirinya dengan pendidikan, mempunyai rasa kemandirian sebagai rencana cadangan. Ia tidak melihat sekolah atau pendidikan sebagai suatu periode yang harus ada di dalam hidup tetapi sebagai suatu bekal jika situasi menjadikan si perempuan untuk hidup mandiri.

Kemudian apabila kita beranggapan si perempuan diberkahi dengan suami yang setia. Namun suatu ketika, sang suami mengalami kecelakaan atau memiliki penyakit parah yang membuat ia tidak mampu untuk bekerja lagi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun