Mohon tunggu...
Annisa Cahyawulan
Annisa Cahyawulan Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta

Writing is an exploration, you start as nothing and learn as you go.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Squid Game dan Parasite, Bagaimana Jika Dipandang dengan Perspektif Ekonomi Politik?

22 November 2021   11:44 Diperbarui: 22 November 2021   12:01 705
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

  1. Analisis serial Squid Game dari sudut pandang ekonomi politik Marxis

Salah satu perusahaan penyedia layanan media streaming digital yaitu Netflix kembali mengahadirkan film baru berjenis drama yang berasal dari negara Korea bagian Selatan. Drama dengan konteks serial ini berjudul Squid Game yang dimana drama tersebut mampu untuk menarik perhatian bagi beberapa kalangan penjuru dunia sejak ditayangkan perdana oleh pihak Netflix pada tanggal 17 September 2021. Penayangan hari pertama drama Squid Game, netflix merilis episode langsung sebanyak delapan episode dan sudah berhasil ditonton oleh jutaan akun-akun netflix serta menjadi topik hangat di berbagai jejaring sosial khsusunya pada kawasan negara Indonesia. Bahkan, perusahaan netflix sendiri mencatat bahwa serial squid game telah menjadi drama yang paling terpopuler dengan jumlah 111 juta akun penonton hanya dalam beberapa hari sejak waktu penayangan pertama tiba yakni pada bulan September 2021 lalu.

Serial drama Korea dengan total secara keseluruhan 9 episode ini berhasil disutradarai oleh Hwang Dong-Hyuk yang juga mempunyai peran aktif sebagai penulis di drama Squid Game. Melalui serial ini, Sang sutradara menyajikan beberapa kenyataan pahit tentang kehidupan dalam paket yang begitu manis melalui alur ceritanya yang sangat menegangkan. Mempunyai peran penting sebagai penulis sekaligus sutradara pada drama Squid Game, Hwang Dong-Hyuk mengakui bahwa pada proses pembuatan alur cerita ini dilatar belakangi dengan peristiwa krisis keuangan global pada tahun 2008 serta masalah ekonomi lainnya yang menimpa negara korea selatan saat itu. Pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) yang diwakili oleh Donald Trump juga memiliki beberapa pengaruh bagi Hwang Dong-Hyuk ketika menuliskan plot cerita pada drama serial Squid Game yang telah mendunia hingga sekarang ini.

Konsep cerita Squid Game yang dimiliki oleh Hwang Dong-Hyuk dinilai tidak realistis dengan keadaan lingkungan pada saat 10 tahun lalu ketika beliau ingin menampilkan tulisannya melalui serial drama kepada publik. Mayoritas orang pada kala itu beranggapan bahwa ide cerita yang diproleh Hwang Dong-Hyuk bukanlah sebuah film maupun drama yang menghasilkan banyak uang serta beberapa masalah lainnya yang mampu dikhawatirkan oleh pihak-pihak terkait akan menurunkan peringkat maupun target penonton karena memiliki beberapa adegan kekerasan yang dinilai sangat keji. Hingga pada akhirnya, selama kurun waktu 10 tahun revisi penulisan mengenai serial drama Squid Game oleh Hwang Dong-Hyuk terus dilakukan dengan melihat perkembangan zaman yang ada. Layanan media streaming digital yaitu netflix kini telah sukses mendistribusikan serial drama Squid Game atas persetujuan penulis yang tentunya disertai karakterisitik penulisan oleh Hwang Dong-Hyuk selaku sutradara yang menyatakan bahwa terdapat sebuah tekanan lebih rendah jika dibanding dengan keadaan 10 tahun yang lalu. Maka dari itu, serial drama yang berasal dari negara korea ini berhasil untuk dipublikasikan kepada penjuru dunia melalui sarana aplikasi Netflix yang terpopuler di era 2021 sekarang ini.

Serial drama yang berasal dari kota Seoul umumnya berisikan tentang kisah masalah percintaan seseorang. Namun, serial yang telah menjadi favorit beberapa kalangan ini yaitu Squid Game telah menghadirkan kisah yang bertolak belakang dengan masalah percintaan. Melainkan, drama tersebut mempunyai alur cerita tentang sebuah permainan pada masa kecil yang sedang terpopuler di negeri ginseng kala itu. Akan tetapi, permainan ini bukanlah suatu permainan yang menyenangkan bagi yang memainkannya. Serial drama Squid Game ini mengkisahkan tentang 456 jiwa yang sedang menghadapi hutang besar untuk kemudian mereka rela bersaing dalam melakukan rangkaian permainan agar dapat memenangkan sebuah hadiah yang berupa uang tunai sebesar 40 Juta dolar AS atau senilai dengan Rp. 568.5 miliar.

Alur drama cerita ini bermulai dari perspektif sang karakter utama yaitu, Song Gi-heun yang dilanda berbagai masalah, salah satunya adalah permasalahan ekonomi. Permasalahan ekonomi itulah yang membuat beliau merasa terancam di setiap harinya karena terlilit hutang dan hal itu juga yang menyebabkan beliau untuk mengikuti alur dari permainan Squid Game. Alasan Song Gi-Heun mengikuti Squid Game nampaknya tidak jauh berbeda dengan alasan dari para peserta lain yaitu karena adanya permasalahan ekonomi. Sumber permasalahanya pun beragam dari setiap peserta, seperti halnya tuntutan kebutuhan, diskriminasi rasial, serta ada juga yang dikarenakan berjudi. Namun alasan dari para peserta Squid Game ini bukanlah suatu persoalan yang fiktif. Melainkan dalam realitanya, permasalahan ekonomi atau lebih tepatnya adalah persoalan hutang menjadi permasalahan yang paling umum terjadi di kawasan Korea Selatan.

Dalam serial Squid Game, kondisi ekonomi yang buruk membuat mereka mempunyai sifat manusia yang saling terkam. Oleh karena itu, situasi seperti ini mampu digambarkan dengan frasa homo homini lupus est yang dikemukakan oleh Thomas Hobbes yang mempunyai arti sebagai manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Dimana hal tersebut mempunyai makna agar manusia bisa saling bersaing untuk mendapatkan sesuatu yang berupa uang. Hal ini tergambarkan dengan jelas di dalam setiap episode dari drama series Squid Game yang dimana para pemain saling bersaing dan bersikap egois demi mendapatkan hadiah berupa uang yang sudah dijanjikan. Para pemain pun bersikap saling terkam antara masing masing individu, mereka seakan tega untuk membunuh manusia lain bahkan teman nya sendiri seperti yang dilakukan Cho Sang-Woo kepada Ali dalam episode 6. Disana Cho Sang-Woo dan Ali terpaksa untuk berhadapan dalam permainan yang sama serta dipaksa untuk saling membunuh diantara mereka. Karena kedua dari mereka sangat dekat dan hal itu tentu membuat mereka terganggu secara alamiah. Namun pada akhirnya Cho Sang-Woo melakukan aksi Propaganda dengan cara menipu Ali melalui untuk berpura-pura ingin menyelamatkannya namun hal itu fiktif karena Cho Sang-Woo hanya memikirkan tentang keselamatan dirinya sendiri dan Ali yang sudah tertipu pun akhirnya berhasil terbunuh dan Cho Sang-Woo dipastikan lanjut ke permainan tahap berikutnya. Situasi dalam serial Squid Game tersebut dinamkan dengan sebutan "State of Nature" atau keadaan alamiah yang berasal pada diri manusia yang dimana manusia akan bersifat buruk dan saling menjatuhkan lawan untuk dapat bertahan hidup.

Menurut pandangan Thomas Hobbes, manusia harus bersikap sebagai "serigala bagi yang lainnya" (homo homini lupus), yang juga akan mendorong terjadinya "perang semua melawan semua" (bellum omnium contra omnes). Jika berkaca dalam series Squid Game disini terlihat bahwa para pemain khususnya Jang Deok-Soo mempunyai pandangan sikap yang sesuai dengan statement Thomas Hobbes. Hal itu dibuktikan melalui perilaku Jang Deok-Soo yang telah secara langsung untuk melaporkan adanya pembunuhan disaat permainan belum dimainkan guna mempercepat alur permainan serta mendapatkan hadiah yang sudah dijanjikan. Sikap dari Jang Deok-Soo itulah yang mempresentasikan homo homini lupus atau serigala bagi yang lainya. Selain itu, statement yang dikemukakan oleh Thomas Hobbes juga memiliki keterkaitan dalam serial squid game ini melalui dengan adanya kontrak sosial dari permainan tersebut dimana terdapat 3 pasal yang dibacakan sebelum permainan pertama dimulai diantaranya yaitu Pasal 1, pemain tidak boleh berhenti bermain. Pasal 2, pemain yang menolak bermain akan dieliminasi. Pasal 3, permainan akan dihentikan jika mayoritas peserta setuju. Diluar perjanjian tersebut terlihat bagaimana para penyelenggara yang diketuai oleh Frontman serta didukung oleh orang-orang kaya bertopeng atau yang disebut dengan para VIP telah melakukan sebuah perjanjian tidak tertulis yang berarti mereka sebagai penyelenggara dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan bahkan bisa dengan sesuka hati untuk membunuh para peserta yang gagal dalam permainan lalu terdapat juga yang di jual organ tubuhnya dengan secara ilegal. Hal tersebut telah membuat para peserta Squid Game terpaksa untuk patuh dan takut terhadap aturan yang telah dijalankan oleh pihak penyelenggara yang bersifat otoriter. Sikap otoriter yang dilakukan oleh para penyelenggara nampak saat ketika mereka mempunyai kontrol penuh terhadap bagaimana jalannya permainan dan seakan-akan dengan mudah mengancam para pemain dengan aturan yang sudah disebutkan sejak awal permainan tersebut. Alih-alih melindungi hak dan kebebasan para peserta, kini pihak penyelenggara justru bertindak sesuka hati bahkan sampai membunuh peserta yang telah melanggar perjanjian.

Namun saat permainan berakhir, tampaknya sang karakter utama yang bernama Song Gi-heun tidak merasa puas ataupun bahagia bahkan beliau memutuskan untuk tidak menggunakan uang yang sudah diperjuangankan secara mati-matian. Terutama setelah menghetahui bahwa Oh Il-Nam merupakan dalang dari permainan yang kejam ini hal tersebut membuat Song Gi-heun tambah geram dan hanya menganggap dirinya sebagai kuda pacuan bagi orang-orang kaya. Dalang dari permainan tersebut mengakui bahwa ia telah mendonasikan dananya demi permainan Squid Game yang telah berlangsung sekian lama. Hal Ini dibuktikan bahwa para kaum elit ingin hidup bahagia dan sejahtera dengan melalui cara membenturkan orang-orang yang terdapat pada kelas bawah. Mereka semua menikmati alur permainan tersebut, karena bahwasanya banyak masyarakat kelas bawah yang melakukan permainan ini dengan melalui cara membunuh satu sama lain demi memuaskan jiwanya. Dalam serial ini, uang lah yang menjadi agen perebutan serta masyarakat kelas bawah berlomba-lomba untuk dapat mengikuti permainan yang mematikan ini guna mendapatkan hadiah berupa uang yang tidak sebanding dengan nyawa mereka. Meski film ini bergenre thriller dewasa dan terkesan kejam, namun terdapat sebuah filsafat di dalam alur ceritanya yakni, sejumlah uang yang berlimpah tidak mampu untuk membeli kesenangan.

Berdasarkan konsep cerita yang telah dibuat sekian lama oleh sang sutradara bernama Hwang Dong-hyuk tentunya mempunyai alur tujuan yang cukup jelas yakni untuk memberikan sebuah cerminan kesulitan ekonomi kepada penonton melalui dengan menayangkan drama serial Squid Game. Karena bahwasannya, permasalahan ekonomi merupakan suatu hal yang lumrah untuk dialami oleh setiap manusia. Hal tersebut dibuktikan bahwa prospek ekonomi yang suram mampu untuk menjadikan pusat kesengsaraan masyarakat khususnya pada kawasan Korea Selatan. Oleh karena itu, alur cerita yang telah disajikan oleh Hwang Dong-hyuk menampilkan tentang sebuah permainan klasik perihal ekonomi yang diselenggarakan oleh sekelompok elit. Karena pada dasarnya, kelompok elit telah mempunyai kestabilan dana serta kekuasaan di bidang ekonomi sehingga mereka mampu untuk menguasai alur dari permainan tersebut.

Dengan demikian, drama serial arahan Hwang Dong-hyuk yang berjudul Squid Game mengikuti pendekatan dengan ekonomi marxis melalui alur ceritanya. Ekonomi politik marxis menunjukkan bahwa kapitalisme sebagai sistem eksploitasi kelas dan memperlakukan kelas sosial sebagai pelaku ekonomi utama. Konflik kelas yang tidak dapat didamaikan ini telah menanamkan ciri kapitalisme dengan ketidakstabilan yang melekat dan pada akhirnya berakhir fatal. Hal itu dibuktikan ketika kelompok elit memiliki kekuasaan penuh terhadap alur permainan tersebut tanpa diadakannya perjanjian tertulis oleh kedua belah pihak. Sehingga kepentingan-kepentingan elit yang bersifat ideologis dijunjung tinggi oleh para pemain melalui pelaksanaan Squid Game yang sesuai dengan konsep ekonomi marxis. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan konsep ekonomi marxis mampu untuk menimbulkan masalah yang melibatkan individu kelas bawah untuk dapat terhubung oleh kepentingan individu kelas atas terhadap tatanan sosial yang sudah sebelumnya mereka rencanakan.

  1. Analisis film Parasite dari sudut pandang ekonomi politik Marxis

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun