Mohon tunggu...
KARINA
KARINA Mohon Tunggu... Mahasiswa - PENULIS DAN PEMBACA

jangan lupa sering berbagi cerita :)

Selanjutnya

Tutup

Nature

Seaspiracy, Konspirasi Produk Laut bagi Manusia

28 November 2021   23:47 Diperbarui: 28 November 2021   23:57 245
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Nature. Sumber ilustrasi: Unsplash

Film dokumenter 90 menit oleh pembuat film Ali Tabrizi dimulai sebagai film dokumenter alam yang mencoba memahami terdamparnya paus, tetapi segera berubah menjadi perjalanan mengungkap efek dari industri perikanan komersial. 

Dengan kamera tersembunyi dan pengambilan gambar di lokasi berbahaya, film dokumenter ini mencoba mengekspos pasar penangkapan ikan ilegal yang memiliki sistem korupsi, perbudakan, dan penipuan yang lebih dalam dan tersembunyi, yang melibatkan nama-nama industri besar dan cadangan pemerintah. Perjalanan Seaspiracy dari Asia ke Eropa ke Inggris membuat wahyu baru tentang industri sambil mempertahankan rasa urgensi.

Saat berbicara tentang masalah plastik di lautan kita, film dokumenter itu mengatakan bahwa 46 persen berasal dari jaring ikan plastik. Itu salah membaca informasi dari makalah 2018 yang mengatakan setidaknya 46 persen plastik di Great Pacific Garbage Patch terdiri dari jaring ikan.

Tentu saja plastik di lautan kita adalah masalah, tetapi presentasi dan kurangnya pemahaman tentang sains dasar adalah kesalahan besar. Ali sendiri telah menjadi aktivis peduli laut ketika dia menyadari bahwa banyak ikan paus mati diakibatkan oleh plastik.

Film berlanjut dengan menceritakan tentang perjalanannya setiba di Taiji, terjadi perburuan lumba-lumba, bahkan ada yang dijadikan bahan perdagangan ke sirkus satwa laut, dan tentunya juga ada yang dibunuh. Meraka (para nelayan) menanggap bahwa itu adalah saingan bagi tuna sirip biru. 

Melalui kamera yang tersembunyi, terlihat jelas bagaimana sirip para hiu dipotong dan dijual.  Hampir sebagian hiu yang ditangkap adalah tangakpan sampingan. Ada kapal penangkap komersial yang biasanya menangkap ikan dengan jarring, namun dilepaskan kembali kedalam laut dalam keadaan mati.

Dalam film ini juga menyajikan cerita mengenai organisasi yang sebenarnya menyuarakan pendapat tentang bahaya sampah plastic, namun lupa untuk membahasa bahwa jarring dan alat tangkap juga sebenanrnya berbahaya. Terlihat fakta bahwa upaya kontrol pengangkapan ikan dirasa cukup sulit. Mirisinya juga adalah ternyata banyak organisasi lingkungan yang daim akan penangkapan illegal, apalagi dalam skala yang sangat besar.

Akhir dari film dokumenter Seaspiracy ini sebenarnya telah mennimbulkan berbagai pro dan kotra. Jika dipandang dari sudut penonton awam melihat jalan cerita sutradara, dapat dilihat bahwa film ini mengarahkan manusia untuk berhenti memakan produk ikan, namun lebih mengarah kepada vegan. 

Meskipun disajikan sebagai bagian dari jurnalisme investigasi, film dokumenter tersebut menyebarkan informasi yang salah, dan kini telah disorot oleh para ahli dan bahkan peserta film. Menurut saya memang Ali Tabrizi seolah meminta orang untuk berhenti makan ikan dan beralih ke produk nabati. 

Melawan hal ini, Ray Hilborn, Profesor di Sekolah Perikanan dan Ilmu Perairan di Universitas Washington merilis sebuah video di mana dia mengatakan bahwa Seaspiracy, "bukanlah sebuah dokumenter tetapi sebuah film propaganda yang dibuat oleh para aktivis vegan." Dia menjelaskan bahwa banyak perikanan telah dikelola secara berkelanjutan selama ribuan tahun, dan perikanan merupakan bagian penting dari ketahanan pangan dan lapangan kerja bagi banyak orang.

Miliaran orang bergantung pada makanan laut sebagai sumber protein utama mereka, dan industri perikanan memainkan peran penting dalam mata pencaharian jutaan orang. Penonton film dokumenter ini sebenanrnya membutuhkan pemikiran yang realistis dan kritis. Karena, seluruh isi film ini terfokus pada betapa jahatnya aktivitas makan ikan dan hasil laut lainnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun