Mohon tunggu...
Siska Dewi
Siska Dewi Mohon Tunggu... Count your blessings and be grateful

Previously freelance writer https://ajournalofblessings.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

WFD, WFE, WFH, dan WFO di Mata CEO

10 Januari 2021   06:00 Diperbarui: 12 Januari 2021   09:03 3262 129 23 Mohon Tunggu...
Lihat foto
WFD, WFE, WFH, dan WFO di Mata CEO
Ber-WFD di Canggu, Bali (Dokumentasi pribadi Mardi Wu)

Kompasiana menjadikan “Work from destination” sebagai topik pilihan setelah Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mencetuskan istilah tersebut sebagai konsep wisata untuk para pekerja.

Konsep tersebut mengingatkan saya pada sebuah artikel berjudul “Kamu masuk tim mana: WFH, WFO, WFE?” yang saya baca pada bulan Mei tahun 2020 di blog pribadi Mardi Wu, CEO sebuah perusahaan industri makanan dan minuman sehat.

Jadi, samakah Work from Destination (WFD) dengan Work from Everywhere (WFE)? Apa kelebihan dan kelemahannya dibandingkan Work from Home (WFH) dan Work from Office (WFO)?

Saya mencoba mengelaborasi jawaban pertanyaan di atas melalui obrolan via Whatsapp dengan Mardi Wu. Sebagai pembanding, saya juga mewawancarai Chandra, sahabat saya. Chandra adalah CEO sebuah perusahaan penyedia jasa pengadaan dan penyewaan peralatan industri.

Work from Office (WFO)

Ilustrasi WFO oleh tirachardz/freepik.com
Ilustrasi WFO oleh tirachardz/freepik.com
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menarik rem darurat untuk menekan laju penularan Covid-19. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat kembali diberlakukan di ibu kota selama dua minggu ke depan, 11-25 Januari 2021.

Itulah berita yang saya baca di beberapa media daring tadi pagi. Dalam Keputusan Gubernur Nomor 19 Tahun 2021 dan Peraturan Gubernur Nomor 3 Tahun 2021 diatur bahwa selama masa PSBB ketat, WFO hanya boleh 25%.

Chandra bercerita bahwa gedung kantornya adalah milik perusahaan. Gedung tersebut dibangun pada saat perusahaan sedang berkembang pesat sekitar 35 tahun yang lalu. 

Bangunan itu dirancang untuk menampung seluruh pegawai yang pada saat itu berjumlah hampir 150 orang. Tidak hanya itu, Chandra masih menambahkan cadangan tempat untuk 50 orang karena mengantisipasi perusahaan masih akan berkembang.

Tahun 2018, Chandra memutuskan untuk menutup salah satu unit usaha yang selama tiga tahun berturut-turut membukukan rapor merah. Bersamaan dengan itu, dia terpaksa memberhentikan 50% pegawai. Unit usaha yang ditutup itu memang termasuk padat karya.

Tahun 2020, terdampak oleh pandemi Covid-19, Chandra terpaksa memberhentikan 50% pegawai yang tersisa. Saat ini, pegawai aktif di perusahaan hanya berjumlah 35 orang atau sekitar 17,5% dari kapasitas gedung.

“Jika aturan WFO 25% dimaksudkan untuk menjaga jarak, bukankah kondisi kami sudah lebih dari memenuhi?” Chandra berargumen mengapa dia tetap memberlakukan WFO di kantornya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN