Mohon tunggu...
Annabelle IndryanaPurwanto
Annabelle IndryanaPurwanto Mohon Tunggu... -

halo, baru bergabung

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Ketersediaan Air Bersih Kota Semarang yang Dipengaruhi Strata Sosial

12 Juni 2019   22:40 Diperbarui: 12 Juni 2019   22:44 0 0 0 Mohon Tunggu...

Sudah tidak asing lagi bagi warga kota Semarang dengan seringnya terjadi banjir rob dan belum meratanya ketersediaan air bersih diseluruh wilayah kota Semarang. Hal ini cukup diresahkan sebagian besar warga kota Semarang, ketika musim hujan akan terjadinya banjir rob diberbagai jalanan bahkan wilayah perumahan, ketika musim kemarau akan sangat sulit memperoleh air bersih untuk aktivitas sehari-hari. Semakin kencangnya laju pembangunan di kota Semarang disertai dorongan slogan "Semarang Setara", namun slogan ini belum nampak nyatanya terutama pada ketersediaan air bersih di kota Semarang. Dikatakan pada Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 33 ayat 3 yang menyatakan "bumi,air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat". Pasal ini bermakna negara menjamin setiap warga negara untuk memperoleh hak atas air.

Tidak meratanya ketersediaan air bersih kota Semarang juga dipengaruhi oleh pertumbuhan jumlah penduduk yang tinggi. Masyarakat kalangan bawah (miskin) dan tidak terdidik yang jumlahnya mencapai 73.650 orang (BPS, 2018) cenderung mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses air bersih. Penyediaan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat merupakan salah satu agenda penting dalam menjamin kebutuhan dasar masyarakat.

Sayangnya, meskipun secara potensial ketersediaan air bersih relatif melimpah, namun masih sering dijumpai maasyarakat mengalami kesulitan dalam mengakses dan memenuhi kebutuhan air bagi kehidupan sehari-hari. Beberapa hasil kajian menunjukkan bahwa penduduk miskin (kalangan bawah) harus membayar air bersih jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan penduduk kalangan atas (Maryono, 2011; Rizani, 2010). Rizani (2010) menyebutkan masyarakat kalangan bawah harus membayar 10 kali lipat sebesar Rp 9.235,00 per m3 jika dibandingkan dengan pemakaian air bersih PDAM oleh masyarakat kelas Rumah Tangga I dengan tarif hanya Rp 850,00 per m3 (Litbang PDAM Kota Semarang, 2006).

Sebaliknya, kalangan masyarakat kelas menengah ke atas cenderung tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh air ebrsih karena mereka mempunyai kemampuan sumber daya, terutama dalam hal finansial. Dengan leluasa dan mudahnya mereka mendapatkn air bersih dari air tanah dengan melakukan pengeboran. Masyarakat kalangan menegah ke atas juga dapat dengan mudah berlangganan air bersih yang disalurkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) seandainya air tanah yang diperoleh tidak layak konsumsi. Diketahui bahwa pemerintah masih belum mampu mengatasi masalah ketersediaan air bersih ini karena berbagai kendala, antara lain terkait dengan pertumbuhan dan kepadatan penduduk. Secara umum, pengelolaan air bersih di kota Semarang dilakukan oleh PDAM selaku badan usaha milik daerah. Saat ini kapasitas produksi air bersih PDAM kota Semarang rata-rata hanya 2.500 m3 per detik.

Untuk ukuran kota Semarang, idealnya PDAM harus mampu menyediakan air bersih 3.500 m3 per detik. Namun demikian, penambahan tersebut belum dapat dilakukan karena kondisi keuangan perusahaan belum mampu menambah pembangunan jaringan pipa maupun menyediakan air baku. Kondisi tersebut terutama disebabkan beban utang yang besar serta tunggakan tagihan para pelanggan. Kebutuhan air bersih penduduk kota Semarang sendiri mencapai 150 liter/orang/hari (Departemen Kimpraswil, 2003). Dilaporkan juga bahwa kebutuhan air bersih penduduk kota Semarang sekitar 61,7 m3 setiap tahunnya atau 170.000 m3 setiap harinya (Kantor PDAM Kota Semarang, 2010). Namun, PDAM kota Semarang baru mampu menyediakan air bersih sebanyak 49 juta m3

Dengan diadakannya pembangunan infrastruktur jaringan yang lebih luas oleh PDAM diharapkan penyediaan air bersih lebih merata ke semua daerah di kota Semarang.

Hal ini berguna untuk meningkatkan pasokan air bersih yang semulai hanya 2.500 m3 per detik menjadi 3.500 m3 per detik sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara optimal. Juga dapat dilakukan pengembangan dan pemberlakuan kebijakan dan peraturan yan lebih baik, misalnya integrase pengelolaan air, konservasi, dan sanitasi ke dalam kebijakan perdagangan untuk menuju Semarang yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

BPS Kota Semarang. (2018). Jumlah Penduduk Miskin di Kota Semarang 2011-2018. https://semarangkota.bps.go.id/dynamictable/2016/04/21/49/jumlah-penduduk-miskin-di-kota-semarang-2011---2018.html (diakses pada 02 Maret 2019, pukul 21.30 WIB)

Departemen Kimpraswil. (2003). Pedoman atau petunjuk Teknik dan Manual: Air Minum Perkotaan Bagian: 6 ( Volume I). Balitbang. Jakarta

Kantor PDAM Kota Semarang (2010)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x