Mohon tunggu...
Veeramalla Anjaiah
Veeramalla Anjaiah Mohon Tunggu... Administrasi - Wartawan senior

Wartawan senior

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Maroko Lebih Fokus Kepada RI, ASEAN

11 Juli 2017   08:23 Diperbarui: 11 Juli 2017   08:57 542
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Duta besar Maroko untuk Indonesia dan ASEAN Ouadia Benabdellah (kiri) bersama Sekretaris Jenderal ASEAN Le Luong Minh di Jakarta pada bulan lalu dalam acara penyerahan surat kepercayaan | Credit: Courtesy of ASEAN Secretariat

MoU tersebut ditandatangani oleh Duta Besar Maroko untuk Thailand Abdelilah El Housni dan CEO MRC Pham Tuan Phan di ibukota Laos, Vientiane, pada tanggal 29 Juni.

Duta Besar El Housni adalah seorang diplomat Maroko yang sangat dihormati yang menetap di Bangkok. Ia juga merupakan Dekan para Diplomat Afrika di Thailand.

Maroko dan MRC memiliki kepentingan bersama dalam bidang pembangunan dan manajemen sumber air.

"Tujuan utama kolaborasi ini adalah untuk mempromosikan dan meningkatkan keamanan umum serta kesejahteraan masyarakat dengan mendorong riset, mempromosikan, mendukung, dan memajukan sistem yang lebih aman, ekonomis, efisien, dan ramah lingkungan untuk pembangunan dan manajemen sumber air," kata MRC.

Dengan kesepakatan ini, ternyata Maroko telah menjadi negara Arab dan Afrika pertama yang menjadi mitra MRC. Myanmar dan China sudah menjadi mitra dialog MRC sejak dahulu.

MRC, sebuah organisasi antarpemerintah, didirikan pada tahun 1995 oleh Vietnam, Kamboja, Thailand dan Laos dengan tujuan untuk mengatur sumber-sumber air bersama dan pembangunan berkelanjutan terhadap sungai Mekong yang besar.

Banyak orang yang bertanya-tanya mengapa sebuah negara dari Afrika Utara tertarik dengan Asia Tenggara.

Berkat visi besar Raja Maroko Mohammed VI untuk menciptakan negara yang berpengaruh dalam kemasyarakatan negara-negara, Maroko akhir-akhir ini telah melakukan diversifikasi kerjasama dengan semua wilayah dan di semua tingkat untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan, aktif, dan didasarkan pada solidaritas.

Dalam pergeseran besar kebijakan luar negeri, Maroko kembali bergabung dengan Uni Afrika (UA) atau African Union (AU) di awal tahun ini untuk mendorong hubungan mitra yang erat dengan negara-negara Afrika. Maroko meninggalkan UA pada tahun 1984 karena isu Sahara Barat setelah UA membuka pintunya bagi pemerintah yang memberontak yang dipimpin oleh Front Polisario di bawah nama Republik Demokratik Arab Sahrawi (SADR).

Raja Mohammed VI sudah lama ingin kembali ke Uni Afrika.

"Afrika adalah rumahku, dan saya akan pulang ke rumah," ujar raja terkenal Maroko saat berbicara dengan para pemimpin Afrika pada saat pendaftaran ulang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun