Sosbud

Jangan Lagi Mengejek Indonesia

2 Agustus 2018   07:01 Diperbarui: 2 Agustus 2018   08:27 171 0 0
Jangan Lagi Mengejek Indonesia
dokpri

  

JAKARTA -- Bambang Soesatyo
Ketua DPR RI/Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia

INDONESIA bukan bangsa bodoh. Sebaliknya,  putra-putri Ibu Pertiwi mampu meraih prestasi gemilang di sejumlah ajang  kompetisi antarbangsa. Produk dari sektor industri pun sudah mampu  menerobos pasar internasional.

 Lebih dari itu, bangsa ini pun tidak  dalam kondisi kritis karena kebebasan mengemukakan pendapat di ruang  publik, termasuk oleh oposisi, tidak pernah dibatasi atau dibungkam,  pertanda bahwa budaya demokrasi terus tumbuh dan berkembang.

Lalu, siapa sebenarnya yang sakit? Siapa pula yang bodoh? Benar bahwa  nilai tukar dolar AS terhadap rupiah sedang menggila. Juga tidak  dibantah bahwa utang luar negeri bertambah. Pun, masih ada warga yang  hidup berselimut kemiskinan walaupun jumlahnya sudah berkurang. 

Jutaan  angkatan kerja yang berstatus pengangguran terbuka adalah fakta yang  tidak ditutup-tutupi. Harga kebutuhan pokok yang kadang fluktuatif bukan  semata-mata karena kelemahan kontrol negara. Tak jarang, fluktuasi  harga lebih disebabkan mekanisme pasar dan ulah spekulan. Korupsi pun  masih marak.

Tidak berarti ragam persoalan klasik itu mencerminkan Indonesia  sebagai bangsa yang bodoh atau sakit. Pun, semua persoalan itu tidak  menyebabkan negara ini dalam kondisi kritis. 

Depresiasi rupiah yang  sempat menyentuh level Rp14.475 per dolar AS pada pekan ketiga Juli 2018  tidak akan membunuh perekonomian nasional. Posisi utang luar negeri per  April 2018 yang mencapai USD356,9 miliar atau Rp4.996,6 triliun (kurs  Rp 14.000) tidak akan membuat Indonesia bangkrut.

Jangan lupa bahwa bukan baru kali ini Indonesia dan rupiah dihadapkan  pada gejolak nilai tukar valuta. Seperti banyak negara lain, otoritas  moneter RI pun sudah sangat berpengalaman menghadapi gejolak nilai tukar  valuta. 

Lebih dari itu, turun-naik volume utang luar negeri pun bukan  isu baru. Fluktuasi volume utang luar negeri adalah konsekuensi logis  dari besar-kecil size atau skala perekonomian. Tidak semestinya  fluktuasi nilai tukar rupiah dan volume utang luar negeri itu dijadikan  isu untuk meneror publik atau menimbulkan pesimisme. 

Depresiasi rupiah  dan fluktuasi volume utang luar negeri lebih dipengaruhi oleh faktor  eksternal seperti kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, serta menjadi  dampak dari perang dagang yang dilancarkan AS terhadap mitra dagang  negara itu.

Kendati Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi pasar untuk  menahan depresiasi rupiah,volume cadangan devisa negara tetap dalam takaran aman. 

Per April 2018, posisi cadangan devisa negara tercatat  124,9 miliar dolar AS atau terjadi penurunan dari posisi Maret 2018 yang  masih berjumlah 126 miliar dolar AS. Penyusutan cadangan devisa terjadi  karena digunakan BI untuk intervensi pasar. 

Namun, sisa cadangan devisa  itu masih mampu membiayai 7,7 bulan impor atau 7,4 bulan impor plus  pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Perekonomian Indonesia pernah menghadapi situasi yang jauh lebih  berat, yakni pada krisis moneter 1998. Namun, berkat pengelolaan ekonomi  yang bijaksana lagi prudent, Indonesia bisa lolos dari situasi sulit saat itu. Negara ini tidak bangkrut.

Atau, masih ingat situasi sulit yang dihadapi Yunani beberapa tahun  lalu. Puncak krisis yang dialami Yunani pada 2015 menyeret negara itu di  ambang kebangkrutan. Toh, Yunani tidak punah. Jelang akhir Januari 2018 diberitakan bahwa perekonomian Yunani mulai pulih dan bisa mencicil utangnya.

Jadi, baik depresiasi rupiah saat ini maupun fluktuasi utang luar  negeri Indonesia jangan diasumsikan sebagai benih-benih kebangkrutan  negara. Bukankah pemerintah dan otoritas moneter terus bekerja menjaga  keseimbangan?

Memang, untuk menjaga posisi rupiah pada level yang moderat, semua  elemen masyarakat berhak atau harus mengkritisi pemerintah dan otoritas moneter agar keduanya tidak lengah. Namun, kritik atau kecaman itu  hendaknya proporsional, dan didukung data kekinian.

Ragam Pencapaian 
Sekadar untuk menghadapi gejolak nilai tukar saat ini, daya tahan  Indonesia lebih dari cukup sebagaimana tergambar dari data-data yang diumumkan BI itu. Namun, publik beberapa kali sempat menyimak pernyataan dari sejumlah orang yang cenderung mengejek bangsanya sendiri. Ada yang  menista dengan menyebut Indonesia sebagai bangsa bodoh. Lainnya  menggambarkan negara ini dalam keadaan kritis. Namun, tidak jelas benar apa pijakan mereka untuk mengejek bangsa ini.

Kalau mau dikaitkan dengan fakta tentang jumlah warga miskin, memang  tidak salah. Tetapi, patut diakui juga bahwa negara terus menggelar sejumlah program untuk memerangi kemiskinan itu. Ada progresnya walaupun  boleh saja dinilai tidak signifikan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2