Mohon tunggu...
Anita sartika
Anita sartika Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa Kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pemanfaatan Media Konvergensi dalam Dakwah Para Da'i di Masa Covid-19

23 Mei 2020   19:15 Diperbarui: 23 Mei 2020   19:17 2 0 0 Mohon Tunggu...

            Pandemi Covid-19 belum menampakkan tanda-tanda akan segera berakhir. Sejak pemerintah mengumumkan kasus pertama di awal Maret lalu, kurva peningkatan Covid-19 di Indonesia terus menanjak. Terhitung hingga tanggal 22 Mei 2020, tepat dua hari menjelang 1 Syawal, angka kasus positif di negara kita bahkan telah mencapai 20.796 jiwa. 1.326 di antaranya sudah menjadi korban dan meninggal dunia. Menyisakan luka dan kesedihan mendalam bagi kita semua, tak terbayangkan bagi keluarga yang ditinggalkan. 

            Berbagai langkah telah diambil pemerintah dalam usaha memutus mata rantai penyebaran virus ini. Sekolah, kampus dan kantor diliburkan, bahkan masyarakat dihimbau untuk tidak menjalankan ibadah berjamaah, baik di masjid maupun di rumah ibadah agama lainnya selama masa pandemi Covid-19. Semuanya dilakukan semata-mata untuk menghentikan penyebaran virus corona.

            Tentu hal ini tidak mudah bagi kita semua. Terlebih ketika kaum muslimin dipertemukan dengan bulan suci ramadhan. Bulan yang diagungkan, dan biasanya ramai dengan kegiatan ibadah berjamah di masjid. Tahun ini, kita semua harus ikhlas karena ramadhan terasa sangat berbeda. Masjid sepi jauh dari keceriaan jamaahnya. Ujian kesabaran pun tidak sampai di situ saja. Besok kaum muslimin akan merayakan hari kemenangan, 1 Syawal 1441 H. Lagi-lagi, kita semua harus sabar dan ikhlas dalam menjalani idul fitri tahun ini. MUI telah menerbitkan himbauan agar sholat Id dilakukan di rumah masing-masing. Pun begitu halnya dengan silaturahmi, disarankan lewat virtual saja.

            Satu hal yang wajar apabila perasaan sedih dan gundah dirasakan oleh kaum muslimin. Tatkala meninggalkan kebiasaan berjamaah di masjid, barangkali terbersit kekhawatiran apakah kita telah meninggalkan Tuhan hanya karna virus yang bahkan tak lebih besar dari ujung kuku. Karena hal seperti ini baru kita alami, setidaknya dalam satu abad terakhir ini.

Maka pada saat seperti inilah, peran alim ulama, guru, ustaz, organisasi keagamaan dan sesama muslim menjadi berkali-lipat kita butuhkan. Dakwahnya para da'i untuk meyakinkan kita semua bahwa ibadah di rumah di kala pandemi adalah bentuk ikhtiar sebagai muslim dalam melawan virus sangat kita butuhkan selama masa pandemi ini.  Karena setidaknya, jika alim ulama, guru, dan ustaz kita telah meyakinkan, maka hati kita bisa lebih tenang rasanya.

            Kita harus saling menguatkan dan terus mengingatkan. Berbagai media harus kita manfaatkan dalam mensyiarkan pentingnya ikhtiar melawan Covid-19.  Internet dan segenap yang ada di dalamnya harus terus diwarnai dengan syiar-syiar Islam. Karena internet telah menjadi sumber rujukan banyak orang saat ini, termasuk dalam mencari tahu ilmu agama.

            Hasil riset Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta (2017) menyebutkan bahwa anak muda gemar mencari sumber pengetahuan agama melalui internet. Jika kita lihat potensi jumlah pengguna internet di Indonesia, maka internet adalah ruang yang harus diwarnai dengan dakwah Islam, karena di sinilah banyak muslim menaruh harapan akan menemukan jawaban. Termasuk dalam mencari tahu bagaimana ikhtiar yang dapat kita sebagai muslim lakukan dalam melawan penyebaran virus corona ini.

            Sebagai penutup, telah banyak yang kita korbankan. Ruh yang terlepas dari jasad, tenaga medis yang berjatuhan, sekolah dan kantor yang diliburkan, dan bulan suci ramadhan yang kita lalui dengan suasana yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Semuanya adalah pengorbanan yang  harus kita bayar dengan kemenangan. Kita harus menang melawan virus tak kasat mata ini. Seperti yang Najwa Shihab katakan, kita sudah sejauh ini, kalah bukan pilihan. Maka, selamat menyambut hari kemenangan 1 Syawal 1441 H. Semoga lekas pula kita menang dalam melawan musuh mengerikan Covid-19.

*Anita Sartika

Mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

VIDEO PILIHAN