Mohon tunggu...
Anita Rakhmi Shintasari
Anita Rakhmi Shintasari Mohon Tunggu... Guru - Belajar untuk menebar manfaat

Sebagai seorang guru, membaca dan menulis menjadi aktivitas yang wajib dan menyenangkan tentunya. Bergabung di blog menjadi wahana untuk berlatih dan belajar.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Di Balik Kisah Perjalanan Kita (5)

5 April 2022   16:52 Diperbarui: 5 April 2022   17:07 85 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Setelah kejadian “sapi”, komunikasi diantara aku dan dirimu menjadi lebih baik. Aku mulai melihat peluang untuk memperbaiki banyak hal, khususnya perilakumu yang memang bertolak belakang denganku. Kebiasaan begadang, nongkrong tidak jelas dan main tak pamit menjadi sasaran berikutnya. Aku memikirkan strategi yang paling pas untuk mendiskusikan hal tersebut denganmu, mengingat sikap temperamentalmu, salah ngomong bisa meledak amarahmu.

Usia kehamilanku sekitar empat bulan jalan lima ketika aku memaksa ikut nongkrong di warung kucingan atau ikut begadang dengan teman-teman minum. Sengaja aku ikut, yang pertama aku ingin mengetahui apa saja aktifitas yang kamu lakukan disana serta mencoba mengenal teman-temanmu. Yang kedua, aku ingin tahu berapa peluang yang aku miliki untuk dapat menarik dirimu ke grafik positif. Aku bahkan tak memikirkan kesehatan dan kondisi kehamilanku.

Kalau sekarang ditanya apa yang paling berkesan disaat pertama kali hamil?. Pengalaman berkesannya adalah ketika dilabrak seorang perempuan yang mengaku pacar suamiku dan tidak terima suamiku menikahiku. Selain itu, ngidam es campur yang tidak kesampaian meskipun sudah muter-muter mencari karena hari sudah malam. Disamping itu ada pengalaman aku hilang diantara rombongan demonstran yang sedang beraksi di jalan Pahlawan. Selebihnya tak mampu aku mengingat pengalaman selama hamil yang pertama.

Meskipun tak banyak kesan yang dapat aku ingat , tetapi dengan kehamilan yang pertama ini aku menjadi pribadi yang belajar untuk menerima apa yang dituliskan Allah untukku. Proses belajar untuk menerima ini tidak sekedar menerima keadaan yang berubah drastis, tetapi juga belajar untuk menerima dirimu sepenuh hatiku. Dari rasa marah dan jengkel, aku pelan-pelan mencoba untuk menerima dirimu seutuhnya. Dirimu yang bagi orang-orang disekitarmu dianggap sebagai biang masalah dan sering bikin malu keluarga. Sebuah fakta yang tak pernah aku tahu selama kenal denganmu, karena yang aku lihat hanya kebaikanmu saja.

Satu persatu cerita sumbang tentang dirimu sampai padaku. Laki-laki pemabuk yang hobi berkelahi. Anak yang tidak patuh pada orang tua dan tidak selesai sekolahnya. Laki-laki buaya yang memiliki banyak pacar dimana-mana, dan masih banyak lagi lainnya. Jujur, aku sangat terkejut dan merasa dibodohi. Tapi aku tidak bisa menyalahkan dirimu sepihak, karena aku terlalu percaya dan tak pernah mencari tahu tentangmu yang sebenarnya.

“Mbak, kenal mas Harto dimana?”, tanya salah satu tetanggamu. “Owh, dikenalkan teman, bu, bagaimana?”, jawabku. “Oooh, pantes, coba kalau sampeyan tahu, paling tidak akan mau”, jawab si Ibu sambil ngeloyor meninggalkanku yang sedang menyapu halaman. Aku hanya bengong, tidak paham maksudnya apa.

Bahkan pernah suatu ketika ada seorang gadis yang mencarimu, “Mbak, mas Harto dimana ya?”, tanya seorang gadis sambil masuk ke kamar kita tanpa permisi. Aku terkejut ketika melihat dia langsung masuk saja. “Belum pulang kerja, mbak siapa ya?”, tanyaku sedikit tak suka. “Saya dulu pacarnya, saya biasa main ke kamar sini kok,” jawabnya santai tanpa merasa terganggu dengan kehadiranku. Dia melihat-lihat sekeliling kamar, mungkin memastikan bahwa dirimu memang benar belum pulang, lalu tanpa permisi keluar meninggalkan aku yang duduk mematung di dipan.

Aku berusaha untuk menanyakan hal-hal yang menurutku mengganggu itu. Mulai komentar negatif tetanggamu sampai si Mbak yang tidak sopan masuk ke kamar. Kamu tidak ingin membela diri sedikit pun. Seakan dirimu tak ingin berdebat denganku. Aku tahu, aku yang salah karena hanya mengenal dirimu dari permukaan saja tanpa pernah mencari data yang valid tentang dirimu, tetapi aku tidak ingin menyerah kalah. Menurutku ikatan yang terjalin antara aku dan dirimu membuat diriku memiliki hak untuk bertanya dan tahu siapa dirimu, bagaimana dirimu sebelumnya dan kemungkinan-kemungkinan lain yang mestinya aku tahu tentangmu.

Sambil terus belajar dan mencari tahu, aku juga berusaha untuk memahami dan menerima dirimu. Aku sudah menetapkan pilihan, jadi harus dapat bertanggungjawab dengan pilihan itu. Sepahit apa pun aku harus berusaha untuk bisa, itu tekadku. Beruntung dirimu mau bicara jujur padaku. Satu persatu bentuk kenakalan yang pernah kamu lakukan kamu ceritakan. Begitu pula berapa banyak perempuan yang pernah kamu pacari dan sejauh mana hubunganmu dengan perempuan-perempuan itu mulai kamu kisahkan, meski tidak detil dan baru sekilas saja (belakangan aku tahu ada satu album foto koleksi cewek yang pernah dekat denganmu). Dan ternyata aku adalah perempuan ke 41 yang kamu pacari dan paling jelek wajahnya ha ha ha.

Didalam hatiku rasanya gemes sekaligus geli. Kok bisa ya, seorang laki-laki yang mahir merayu perempuan salah orang. Harusnya kan yang dipilih untuk dinikahi itu bukan aku , yang jelek dan tomboy. Bukankah selera mu itu perempuan modis, cantik dan feminis,  lalu kenapa pilihan jatuh di aku?. “Jodoh”, jawabmu waktu itu. Aku cuma nyengir saja. Kalau tidak karena dikejar-kejar untuk bertanggungjawab, mungkin aku tidak akan kamu nikahi laah.

Bahkan meskipun tahu aku sedang hamil, untuk mengantar periksa ke puskesmas waktu itu, aku harus merayu dan memohon dengan sangat padamu. Seingatku hanya dua kali aku diantar periksa, selebihnya aku pergi sendiri ke puskesmas. Pernah suatu ketika periksa ditemani kakak ipar, pulang dari puskesmas mampir ke bank untuk ambil tabungan. Berhubung antri cukup lama aku memilih duduk dikursi barisan belakang yang longgar, tetapi tetap saja aku tak dapat mengendalikan tubuhku yang limbung, karena pusing dan sesak  yang tiba-tiba aku alami. Aku pingsan dan membuat kantor bank itu gaduh. Untung hanya sesaat, aku sudah kembali siuman.”Mbak tidak apa-apa?”, tanya seorang ibu yang menolongku. “Tidak apa-apa, bu, saya sudah biasa pingsan mendadak begini kok”, jawabku sambil berusaha menegakkan badan. Kakak ipar yang menunggu diluar sudah duduk disampingku dan berusaha meyakinkan apakah aku bisa pulang atau harus kembali ke puskesmas. Aku memilih pulang dan tidak jadi mengambil tabungan, karena antrian yang masih panjang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan