Mohon tunggu...
anita putri
anita putri Mohon Tunggu... swasta

seorang yang sangat menyukai musik

Selanjutnya

Tutup

Muda Pilihan

Meningkatkan ‘Radar’ Anti Terorisme

15 Maret 2016   10:35 Diperbarui: 15 Maret 2016   11:06 0 0 0 Mohon Tunggu...

[caption caption="www.suara.com"][/caption]Jaringan terorisme internasional, memang tidak bisa dianggap remeh. Meski serangan dilakukan secara bertubi-tubi, masih saja masyarakat dari belahan dunia lain, yang bergabung mendukung ISIS. Tak terkecuali masyarakat Indonesia. Dalam dokumen berlogo ISIS, yang ditemukan ada satu nama orang Indonesia di dalamnya. Dia adalah Abu Zalfa, asal Indonesia lahir pada tahun 1982. Cek disini 

Beberapa hari lalu, petugas kembali menangkap 10 orang, yang diduga akan bergabung dengan ISIS. Salah satu diantaranya merupakan keluarga. Istri, dan ketiga anaknya yang masih berusia 5 tahun, 3 tahun, dan 1 tahun. Besar dugaan istri dan ketiga anaknya tersebut akan menyusul suaminya, yang sudah terlebih dulu ke Suriah. Sebagai orang awam, saya sampai sekarang masih terus bertanya. Apa yang dicari mereka? Apa untungnya bergabung dengan ISIS? Dan ironisnya, kenapa melibatkan anak-anak? Apalagi mulai muncul pemberitaan, ISIS mulai menggunakan anak-anak untuk menebar bom bunuh diri.

Masih maraknya warga negara Indonesia yang ingin bergabung dengan ISIS, tak bisa dilepaskan dari masifnya propaganda yang dilakukan ISIS. Di Jakarta sendiri, sempat ditemukan aksi propaganda ini. Cek disini  Deteksi dini dan pencegahan dini harus dilakukan oleh semua pihak. Memang Densus 88 masih terus melakukan penangkapan, namun kewaspdaan di level masyarakat juga harus ditingkatkan.

Setelah kewaspadaan ditingkatkan, langkah selanjutnya adalah terus memberlikan perlindungan terhadap keluarga, lingkungan, dan negeri ini dari paham-paham yang mengajarkan kekerasan. Jika kita cinta terhadap keluarga, tentu akan melakukan segala hal untuk mereka. Jika kita mencintai negeri yang gemah ripah loh jinawi ini, tentu akan terus menegakkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Karena dengan nilai-nilai itu, bisa membendung pengaruh-pengaruh sesat masuk ke wilayah kita.

Sistem deteksi dini, bisa dilakukan sesuai dengan kemampuan guys. Siskamling adalah salah satu contoh sederhana, yang musti terus dilakukan. Meski eranya sudah modern, pola ini terbukti efektif untuk menangkap segala pengaruh buruk. Selain itu, silaturahmi antar warga juga akan terus terjalin. Bukankah agama juga menyarankan agar terus mengedepankan silaturahmi? Disamping itu, kita juga akan saling mengenal orang-orang baru yang melewati ataupun tinggal di daerah kita. Sederhana kan? Sayangnya banyak masyarakat perkotaan sudah mulai meninggalkan siskamling ini, digantikan dengan satpam.

Revisi UU Terorisme yang saat ini sedang dibahas, harus menjadi agenda prioritas. UU ini penting agar upaya pencegahan aksi terorisme, tidak melanggar hukum dan hak asasi manusia. Pendekatan soft power juga harus dikedepankan, meski pendekatan hard power juga dalam kondisi tertentu diperlukan. Mengingat pelaku teror ini tak segan menembak korban, atau meledakkan diri di keramaian. Dari sisi perbankan, juga harus meningkatkan sistem deteksi dini untuk melacak aliran yang diduga untuk praktek tindak pidana terorisme. Dengan demikian, memutus mata rantai jaringan terorisme bisa dilakukan secara menyeluruh.

Jika semua pihak bahu membahu, meningkatkan radar anti terorisme ini, mulai dari level RT hingga pemerintah pusat, dari level keluarga hingga level batas negara, negeri ini akan bisa terbebas dari praktek kekerasan. Ingat, menjadi tugas kita bersama untuk melakukan proteksi. Sudah banyak generasi muda kita, yang meninggal akibat bom bunuh diri. Sudah banyak generasi muda kita yang menumpahkan darah di Suriah. Mari, sekali lagi kita bahu membahu menolak segala ajaran sesat di negeri ini. Kita beritahu yang benar. Tentunya dengan cara-cara yang dibenarkan, tanpa ada kekerasan.

 

 

 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x