Mohon tunggu...
Ani Siti Rohani
Ani Siti Rohani Mohon Tunggu... Perempuan penikmat sunyi

Life is never flat

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Fiksiana | Xiau Huang

28 November 2019   12:15 Diperbarui: 28 November 2019   12:26 29 3 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Fiksiana | Xiau Huang
Sumber Gambar: Pixabay

Ikan-ikan itu, aku terus memandanginya. Mereka ada yang berwarna hitam, kuning, kuning kemerah-merahan, putih dan ada pula yang berwarna biru. 

Seekor ikan besar dan panjang bersembunyi di dalam pipa air besar. Satu lagi yang besar bundar, bersembunyi di balik batu-batu yang sengaja disimpan di dalam kolam ikan itu. Ada beberapa ekor pula ikan berwarna hitam yang bersembunyi di celah-celah batu. Sukma memandanginya lagi, dan lagi. Hanya itu, sebuah hiburan yang barangkali dapat memunculkan ide di kepala.

Aku hanya ingin sebuah tulisan. Ya, beberapa hari ini, dia memang selalu meributkan tulisan. Hari ini harus dapat minimal satu tulisan. Itu berkisar antara 2-5 halaman. Sekitar 500-2000 kata. Tidak boleh kurang! Beberapa cara  kulakukan agar ide berkeliaran di kepala. Meskipun terang saja ini sangat memuakkan. Mengapa?

Hidup di tengah hutan kau pikir akan menyenangkan? Tidak! Yang kujumpai selalu hanya beberapa ekor monyet, burung, ayam, anjing, serangga, bahkan banyak jenis binatang lainnya. Mereka saling berlomba beradu suara, berlomba memekakkan telinga. Aku bisa-bisa sungguh gila.

Tidak ada teman bicara. Pada siapa? Kemudian akhirnya kujatuhkan pada mereka. Aku berbicara pada ikan-ikan, berbicara pada dedaun yang berserakan, berbicara pada anjing-anjing yang tak bosan-bosan menggonggong. Aku benci anjing-anjing itu sebenarnya. Kecuali seekor anjing berwarna kuning, Xiau Huang namanya. 

Dalam bahasa mandarin, Xiau artinya kecil dan Huang artinya kuning. Sebuah nama yang cocok sekali untuknya. Dia selalu membantuku. Pagi ketika aku bangun dan hendak keluar, empat ekor anjing lainnya pasti akan menyerangku. Bukan untuk menggigit memang tapi untuk berdiri dan mengajak bercanda, begitu yang lain menyebutnya. Tingkah mereka seolah seperti seorang anak yang lama baru bertemu sang bunda, berlarian, berusaha merebut pelukan dariku. Menjijikkan.

Xiau Huang, dia akan menyerang mereka agar tak lagi menggangguku. Setiap pagi, selalu seperti itu. Aku memang menyukainya. Hampir setiap hari aku mengelus lembut bulunya. Barangkali itu sebabnya dia pun menyayangiku. Anjing memang binatang yang paham akan tuan bukan?

Oh Tuhan, hari ini aku melewatkan empat jam waktu luang untuk menulis sebuah tulisan. Di kepalaku masih belum muncul ide. Aku gelagapan. Mata kuarahkan ke segala pandang, berharap sesuatu berkelebatan. Memunculkan baris-baris aksara yang akan mampu kucipta.

Dan ya ... selepas rutinitas kesibukan. Tepat pukul 03:23, akhirnya aku memutuskan membuka aplikasi Word. Mencoba menuliskan apa pun yang muncul di kepala. Banyak aksara yang menari-nari, menggoda jemari untuk terus berlari dalam tut keyboard Hp Samsung A5-ku, satu-satunya media tulis yang kupunya.

Aku duduk di sebuah bangku kecil, mengunyah biskuit sedikit-sedikit. Menyingkirkan notifikasi-notifikasi yang muncul dari akun sosmed-ku. Kau pikir mudah menulis dalam kebisingan? Ada beberapa yang bisa, tapi bukan termasuk aku. Sepi, mereka kawan yang mampu membuatku berirama dalam aksara.

Pukul 03:45, aku menghentikan tulisan. Berjalan menuju restoran yang ada di depan rumah. Di sana, aku biasa menghabiskan waktu makan, kerja juga bersantai. Sementara rumah hanya sebagai tempat singgah untuk tidur, mandi. Selebihnya tak banyak lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x