Mohon tunggu...
Anis Hidayatie
Anis Hidayatie Mohon Tunggu... Penulis, guru

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Cinta adalah muasal segalanya. Mari tebar cinta dengan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Yang Ngajar Orang Tua, Apa Masih Harus Bayar SPP?

2 April 2020   16:36 Diperbarui: 2 April 2020   18:38 265 28 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Yang Ngajar Orang Tua, Apa Masih Harus Bayar SPP?
Anak belajar di rumah didampingi orang tua dengan panduan guru


Pagi-pagi benar saya disuguhi percakapan menggelitik. Di grup guru-guru TK. Ada sebuah pertanyaan yang diungkapkan wali murid kepada mereka, para guru TK. Yakni tentang keharusan membayar SPP pada masa "libur corona."

Tersebab pembelajaran tak lagi dilaksanakan di sekolah. Guru-guru memberikan pembelajaran berbasis media online, rerata Grup WA, bukan google classroom. WA disukai karena familiar saja. Terbiasa chat di sana. Disamping ke gagapan tentang penggunaan media lain tentu saja. Maklum wali murid TK itu mayoritas "rumpies". Hingga sepertinya yang cocok ya WA itu.

Karena tugas "mengajar" sekarang juga dibebankan kepada wali murid, berbasis panduan dari guru tentang materi yang harus disampaikan pada anak pada hari itu, maka salah satu wali murid sempat pula terpikir. 

"Ini kan kita yang ngajar, harusnya kita yang dibayar, bukan malah harus bayar. Sepertinya SPP tak dibayar tak apa deh."

Itu terungkap ketika salah satu guru, sebut saja Bu Asti bertanya," Bu mau tanya, anak-anak tetep bayar SPP tah?"

Dijawab Bu Ummah, sang ketua IGTKI, Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak. "Harusnya iya. Kita kan tetap melaksanakan pembimbingan."

Gemes, meskipun secara de jure saya tak lagi menjadi guru TK, saya utarakan juga pendapat saya. Padahal selama ini hanya rajin nyimak sambil sesekali share artikel tentang daerah atau pendidikan.

 "Wadzau! Ini bikin saya terseret masuk. Ya iyalah. Emangnya hotel. Bayar harian. Sekolah kan paket. Bukan masalah masuk dan tidak masuk. Tapi i'tikad baik orang tua nguwongno guru itu."

Serentak respon diberikan, sepakat. Tak ada satupun bantahan. Hanya ada yang masih bingung bagaimana menyampaikan ke wali murid, supaya tak ada gesekan.

"Cocok bu Anis, Tapi kalau tidak disampaikan dan dijelaskan ke walimurid,  terkadang ada yang i'tikadnya kurang baik."

Saya bertahun tahun pernah menjadi guru dan kepala TK. Tahu rasanya bagaimana menghadapi walimurid. Karena di TK saya, atau mungkin di sekolah lain juga. Yang bersekolah itu satu paket. Siswa dan orang tua. Dalam arti kita melayani dua orang sekaligus. Ya anaknya, ya orang tuanya.

Bagaimana tidak, mereka mengantar, menunggu hingga anak mau pulang. Betul tidak masuk kelas, tapi tingkat mau tahu atau dalam bahasa sopannya peduli, kalau tak boleh saya katakan kepo. Tinggi sekali. Ngintip pembelajaran  itu biasa, melihat anaknya, berkomunikasi dengan mata atau bahasa isyarat tangan dengan anak tak jarang pula. Seperti diawasi guru ini.

Lalu ketika anaknya kenapa-napa, misal tangan belepotan karena cat warna, atau menangis berebut alat permainan, sudah heboh sikapnya. Pintu diketuk, meminta perhatian buat si anak. Duh, ribet eui.

Itu jaman saya dulu sih, waktu gedung sekolah belum ada pagar. Sebelum ada tulisan di gapura pintu gerbang, "Bapak ibu mengantarnya cukup sampai di sini saja ya."

Sekolah sepi, bekajar di rumah
Sekolah sepi, bekajar di rumah
Kini, sudah jauh berbeda.  Tak ada wali murid menunggu di dalam kelas, atau intip-intip di kaca. SOP, kesepakatan antar wali murid dan pihak sekolah yang biasa dilaksanakan di awal pembelajaran, sudah 90 % bisa dilaksanakan. 

Nyaman dan senang belajar didampingi guru
Nyaman dan senang belajar didampingi guru
Percaya pada guru bisa menyelesaikan permasalahan ketika pembelajaran. Efeknya, nyaman buat guru pun untuk murid. Melihat keadaan tersebut saya pikir pola pikir walimurid mengikuti pula. 

Percaya pada sekolah untuk mendidik anak-anaknya. Bersedia membiayai sesuai ketentuan yang ditandatangani ketika masuk sekolah. Baik tentang SPP, uang gedung, buku-buku penunjang, kegiatan sekolah, atau iuran lain yang sifatnya untuk kepentingan sekolah anak.

Di awal anak sekolah loh ya, kita sudah tahu berapa biaya yang harus kita keluarkan. Itulah yang saya maksud paket tadi. Dari anak daftar sampai lulus. Tidak ada istilah terminal atau berhenti sementara lalu tidak membayar biaya. Apalagi sampai ada aturan tertulis kalau anak tidak sekolah maka tidak harus membayar SPP. Ada-ada saja.

Ini kecerewetan model lain saya tidak tahu juga. Atau bisa jadi implikasi tekanan terhadap orang tua. Sudah dibebani work from home masih pula harus mendampingi anak-anak belajar pula. Ditambah waspada Corona. Sempurna sudah beban didera.

Maka dalam hal ini saya tak menyalahkan siapa-siapa. Efek tekanan kadang membuat orang mengabaikan nalar sehat. Sehingga kata-kata bijak dari pada damprat yang diajukan guru membuat saya angkat topi. Tidak marah, tidak emosi. Berusaha menjawab sepenuh bijak, menyejukkan hati.

Terlihat dengan cara yang dipilih guru ini.

"Bagaimana cara menyampaikannya bu ke walimurid?" Tanya salah satu guru, sebut saja Bu Ana.

"Ya bagaimanalah caranya kita menyampaikan dengan bijak disertai tutur yang sopan. Soalnya wali murid  itu berbeda-beda."

Sepakat, saya suka dengan pengambilan sikap guru-guru itu. Tidak balik memberikan kata-kata skak mat. Tapi memilih membalas dengan kata-kata sopan. Ah, guru. Digugu dan ditiru. Kalau gurunya sopan, diharapkan muridnya meniru sopan juga.

 Itulah dilema. Kadang saya ingin marah juga, tapi kan tidak boleh. Guru harus sabar bar bar. Inilah sukanya saling curhat, berbincang silaturahmi. Meski hanya chat WA saja. Bisa menemukan solusi atas permasalahan yang kadang tak kita sangka ini.

Jadi, meskipun tidak masuk sekolah, tetap bayar SPP ya. Untuk gurunya. Apalagi  kebanyakan guru TK bukan ASN. Digaji dari iuran bulanan siswa. Disamping itu,  memang kewajiban kita membiayai. Lepas dari anak tersebut masuk sekolah atau tidak. Begitu kan mestinya. Untuk mencari ilmu jangan pelit membiayai.

 Salam cinta anak negeri. Sehat jasmani, sehat rohani.


Anis Hidayatie untuk Kompasiana. Salam







 


VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x