Mohon tunggu...
Anis Hidayatie
Anis Hidayatie Mohon Tunggu... Penulis, guru

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Cinta adalah muasal segalanya. Mari tebar cinta dengan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jangan Jadi Guru, Jadilah Pekerja Bangunan, Jilid 2

14 Desember 2019   16:23 Diperbarui: 14 Desember 2019   16:24 181 21 11 Mohon Tunggu...
Jangan Jadi Guru, Jadilah Pekerja Bangunan, Jilid 2
Anis Hidayaytie, dok.pri

Kemarin,  ketika saya menulis curhat sebagai seorang  perempuan yang sedang melakukan sesuatu untuk anaknya,  tak pernah membayangkan akan ada efek terkait tulisan tersebut.  Lega, itu saja yang saya dapatkan,  meski banjir air mata memenuhi pipi enggan berhenti.

Dibaca banyak orang ternyata,  di kolom komentar sampai  ada yang menyangka itu serupa cermin buat dirinya.  Rupanya curhat saya  pernah pula dirasakan  orang lain.  Dukungan dan doa  mengalir bak air bah.  Lagi  lagi saya tergugu.  Merasa tidak sendiri,  menguatkan psikologi saya yang sempat mengkeret. Minder.  

Dari teman-teman guru terutama,  mereka  memberikan  kata - kata menyejukkan.  

" Huhu, syedih bacanya. Ya Allah, ternyata ada yaa, ini dibidang pendidikan, kok tidak mendidik sekali cara bicaranya." Kata saudara  saya juga guru honorer di sebuah sekolah.

Jawaban menghibur diri saya berikan" Saya tidak apa apa.  Itu memang nyatanya.  Logika.  Beda dengan yang percaya barokah jadi guru."

"Iyes, Syemangatt,  banggaaa jadi guru." Demikian dia memberi dukungan.

Bangkit lagi,  tidak lagi menyesali  nasib. Saya syukuri saja semua yang menimpa termasuk duka lara dalam kehidupan saya.  Karena saya masih  meyakini stateman bahwa dengan  bersyukur maka akan ditambahkan nikmat dari sang pencipta.  

Saya punya dua anak laki laki,  bisa menempuh pendidikan. Punya ibu kandung dan emak mertua,  tempat  berbagi  sebagai sesama perempuan. Punya sanak saudara yang tak henti menyayangi, pun kawan-kawan baik yang hangat, baik dari dunia maya  maupun dunia nyata. Mereka adalah harta tak ternilai yang bisa membuat saya tersenyum  setelah  kehilangan separuh nyawa yang  menyesakkan dada.  

Tak satu benda dibawa suami ketika mati dari yang pernah diusahakannya semasa hidup. Hanya kafan saja,  juga iringan doa.  Itulah yang menjadi  keinginan  hidup saya kini.  Bukan kaya harta meski tidak saya pungkiri itu mempengaruhi ritme hidup saya juga pandangan sosial di masyarakat  kita,  tetapi kaya dengan  orang-orang yang menyayangi.  Yang ketika kita menutup mata mereka ikhlas  mendoakan kita.

Saya mendapatkannya kini.  Dunia menulis  membuat saya  terhubung  dengan banyak orang,  passion puluhan tahun lalu tumbuh,  berkembang  lagi. Komunitas bidang literasi tetiba menggiring saya aktif lagi.  Sesuatu  yang tak pernah  saya bayangkan bisa menekuni lagi. Lewat menulis hidup  saya bergairah  kembali.  Meski secara finansial tidak membuat  saya kaya,  tetapi  auranya mampu menyelamatkan kesedihan dan duka.  

Lewat tulisan saya mengabarkan sesuatu,  menuliskan imajinasi,  menorehkan bait menjadi puisi, tentang  banyak hal.  Kerinduan pada yang telah berpulang,  kegiatan berkomunitas,  atau sekedar bercengkerama  dengan WAG,  bukan woman and girl friend pemain liga eropa tapi Whatsapp grup.  Semisal Komalku Raya,  Komunitas Menulis Buku Malang Raya dan Sekitarnya atau grup Project Puisi Berbalas Kompasianer yang disana ada 30 lebih  anggota.

Maka kalau kemudian tulisan saya kadang menjadi ajang curhat mohonlah  dimaklumi.  Media ini,  mampu melegakan rasa yang saya miliki.  Lewat tulisan kadang kami berdiskusi apa dan bagaimana  harusnya saya menulis.  Atau apa isi yang sudah  saya tulis.  Bahkan ada orang yang sering kali Japri,  mengajak berdialog tentang  sesuatu  yang sudah saya tulis.  Termasuk  artikel saya kemarin bertajuk "Jangan Jadi Guru,  Jadilah Pekerja Bangunan".

Tulisan saya menjadi topik hangat di grup alumni organisasi masa kuliah dahulu.  Seorang sahabat yang saya biasa memanggil Mas Wawa dan sekarang  menjadi ketua MGMP kota Malang, sampai meng copas link nya. Lalu memberikan komentar dengan emo tangisan mengiringi "Dulu, aku menghadapi hal serupa. Bapakku seorang manol serabutan di pasar. Dari 8 saudara,  hanya aku yang nekat kuliah dengan biaya pas pasan. Sebulan disangoni 10 rb rupiah.
Tiga bulan pertama, aku ikut saudara istri kakak.  Sampai akhirnya setelah itu, jadi marbot di Masjid Ibnu Sina sampai lulus dengan terengah engah."

Tak hanya menumbuhkan kenangan haru biru jaman kuliah dahulu, bahkan ada yang secara khusus  menanggapi kata-kata sang Kajur yang berucap " Kalau ingin bekerja agar bisa mencukupi biaya kuliah, jadilah pekerja bangunan. Jangan guru. "

Sahabat saya yang juga menjabat sesuatu di PTN Kediri menuliskan, " Dia 'sok' menjadi pejabat, tidak paham nilai perjuangan kemanusiaan. Maaf, saya pernah jadi Wakil Ketua atau Wakil Rektor II bidang Keuangan. Ketika ada mahasiswa dengan indikasi riil punya ghiroh akademik baik,  sementara ekonomi keluarga belum stabil, pasti saya beri UKT 0 rupiah. Ada yang 400 ribu atau bidik misi yang tiap bulan dapat bantuan negara 1 juta. Sekarang tidak ada alasan tidak bisa kuliah. Alasan biaya,  negara lewat pimpinan PT bisa mengambil kebijakan itu.  Jika ada yatim ingin kuliah, kami  siap mengawal kelancaran studinya.  Semoga ada solusi Sobati Anis. Doa, ikhlas dan Sabar Ibu untuk anaknya insya Alloh pasti ada pertolongan Alloh."

Subhanallah,  artikel saya menuai perbincangan. Hingga pagi lepas fajar,  seorang  kakak tingkat,  Mas Ridwan, kakak tingkat dahulu,  menghubungi saya  secara pribadi.  

"Salam dek,  Apa lagi ngurus UKT?"
" Iya. "
"Apa sudah beres? Di jurusan apa dek."

Pertanyaannya saya jawab dengan cerita tentang anak  saya serta  sejumlah uang UKT yang harus dibayar. Saya katakan  bahwa saya malu mau melanjutkan.  Sudah tahu biaya kuliah  mahal kok tidak persiapan.
" Ngapain malu dek, Kalau berkenan saya pertemukan dengan WR 2, Wakil Rektor 2 bagaimana?"

Menggenang lagi dua bola mata saya.  Ini diluar dugaan. Ada yang menghubungi saya karena tulisan.  Begitu  dahsyat pengaruhnya hingga mampu membuat yang membaca empati. Saya yakin ini bagian dari Min Khaitsu Laa Yakhtasib,  arah tak disangka yang dikirimkan Tuhan. Sesak haru bahagia dada ini,  pintu kembali terbuka, tinggal melangkah saja.

Wakil Rektor 2 itu saya hubungi by chat,  welcome.  Anak saya diminta menghadap beliau Senen depan.  Indahnya silaturahmi,  berkahnya mampu  menumbuhkan empati,  hingga memberikan  jalan keluar bagi teman yang sedang dalam kesulitan.

Sebetulnya,  ketika akan menulis curhat saya kemarin,  ada kegelisahan  mendera. Takut dianggap lebay atau akan menyinggung seseorang.  Untuk itu saya usahakan tidak menyebut nama siapapun atau lembaganya.  Supaya tidak memantik tanggapan negatif.  Saya hanya  menulis agar orang tahu,  ada permasalahan di dalam pengurusan penyesuaian UKT. Siapa tahu ada orang  yang bernasib sama dengan saya,  kemudian bisa memberikan jalan keluar.

Dan betul,  lewat tulisan,  ada orang  yang tergerak hatinya memberikan dukungan. Ada komentar empati seperti ditulisTaufiq, ibu Nursini, Mbak Leya, dan beberapa Kompasianer lain. Juga saran apa yang harus  saya lakukan serta doa.  Keikhlasan mereka mendukung  sungguh  mengharukan.  Menumbuhkan spirit baru dalam diri  saya untuk  terus bergerak. Tidak putus asa.  

Satu pelajaran penting  khusus dari peristiwa ini saya temukan, yakni jangan takut  menulis curhat. Apalagi bila sesuatu itu juga diresahkan banyak orang.  Lewat tulisan kita berbicara,  lewat kata-kata kita bisa memperjuangkan sesuatu. Menulis saja,  terus menulis dengan diawali menyebut nama Tuhan lalu sesudah itu tawakkal, pasrah.  Biarkan Tuhan yang memutuskan akan jadi apa tulisan kita nanti.  

Anis Hidayatie untuk Kompasiana,  Dalwa Bangil.  14/11/2019

VIDEO PILIHAN