Mohon tunggu...
Anis Hidayatie
Anis Hidayatie Mohon Tunggu... Penulis, guru

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Cinta adalah muasal segalanya. Mari tebar cinta dengan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Memaknai Merdeka bersama Pesantren Kopi

19 Agustus 2019   21:20 Diperbarui: 20 Agustus 2019   10:22 0 24 14 Mohon Tunggu...
Memaknai Merdeka bersama Pesantren Kopi
Pose bersama usai acara

Tersirat sedikit keraguan pada diri saya ketika seseorang, yang saya kenal sebagai dosen fakultas syari'ah UIN Malang menghubungi saya untuk memberikan materi litrasi. Bukan karena materinya yang saya mempunyai passion besar untuk itu, atau pesertanya yang menurut dia mahasiswa semua, namun karena tanggal itu yang saya gamang melakukannya.

Sabtu, 17 Agustus  2019, adalah hari yang diminta Pak Irham pada saya untuk mengisi acara di pesantren kopi binaannya. Tepat pada hari ketika Indonesia merayakan kemerdekaannya. Dengan Hijab Merah baju merah saya datang, warna yang senada dengan arti berani pada bendera kita. Sambil mengingatkan diri bahwa saat itu adalah hari merdeka.

Serius menyimak
Serius menyimak
Berhadapan langsung dengan para muda. Laptop siap di hadapan wajah serius menyimak, membuat saya tergerak memberikan materi serius pun. Maka saya ungkapkan misi saya yang sesungguhnya dalam literasi, bersama Komalku Raya, Komunitas menulis Buku Malang Raya dan sekitarnya.


Ditemani Bu Liza, salah seorang anggota KomalkuRaya, saya tanyakan kepada mereka. Sudahkah mereka menulis ide mereka? Rerata menjawab sudah. Ya, ternyata mereka adalah komunitas peneliti juga. Sains maupun sosial. Luar biasa, ini yang tak saya sangka. Aktivitas itu tentu mengharuskan mereka menulis, setidaknya hasil penelitiannya.

 Namun ketika saya tanya, apakah mereka sudah mempublikasikan hasil penelitiannya sehingga bisa dibaca orang banyak? Belum. Hanya berbentuk laporan yang dipresentasikan. Tidak ada dokumentasi utuh yang busa dinikmati khalayak. Padahal andai itu dilakukan tentu keluasan manfaat akan lebih dirasakan.

Maka mulailah saya tawarkan satu kegiatan. Menulis, membebaskan ide, memerdekakan diri dari belenggu ketakutan tentang layak atau tak layak, pantas atau tak pantas karya karya itu didokumentasikan. Dibukukan. Dalam satu koridor, mengisi kemerdekaan, berjuang untuk bangsa lewat kata-kata.

Saya tunjukkan beberapa contoh buku saya, juga profil dan karya di Kompasiana. Ternyata ada yang sudah jadi Kompasianer pun. Maka langsung saat itu juga saya minta mereka membuat akun Kompasiana dibantu beberapa orang yang sudah. Lalu kita putuskan untuk menulis satu tema. Untuk projects buku.

Antologi dahulu. Sekitar 15 orang yang hadir ini saya minta membuat outline yang akan ditulis. Bertema fenomena sosial dalam kehidupan mahasiswa, ada yang menyoroti pergeseran nilai hubungan dosen dengan guru, style berpakaian, sikap hidup meremehkan waktu, kebiasaan phubbing, mager, baper, laper, jorok keblinger,  sampai gaya hidup enggan berkata maaf, atau terima kasih kita bahas di forum itu.

Selanjutnya sepakat, kita kumpulkan artikel itu dalam sebuah buku. Dengan tujuan misi yang kita sampaikan terbaca. Setidaknya pada teman teman mereka sesama mahasiswa. Bahwa ada nilai yang harus ditelaah lagi, dipelajari, untuk kemudian diperbaiki dalam kehidupan bersosial. Menjadi manusia yang mempunyai kepekaan sosial tinggi, beradab sesuai dengan norma agama dan Indonesia asli.

Anis Hidayatie (doc.pri )
Anis Hidayatie (doc.pri )
Pak Irham, dosen yang juga kompasianer senior mengapresiasi dengan baik ide ini. Bahkan dia terinspirasi untuk membukukan karya karya tulisnya yang hanya disimpan rapi di laptop. Puisi, esai, cerpen, sampai hasil penelitian, tidak satupun yang pernah terbukukan. 

Pesantren kopi dalam suasana merdeka ini membuatnya membuka mata. Bebaskan inspirasi, tuangkan ide dalam tulisan, bukukan. Itu yang menjadi tujuan dari pesantren kopi kali ini. Satu lagia makna merdeka saya dapati. Memerdekakan tulisan yang cuma tersimpan rapi. Menjadikannya sebuah buku, untuk dibaca banyak orang, sebagai sebuah kontribusi karya tulis.


Sesungguhnya, pesantren kopi ini didirikan oleh Pak Irham, sang dosen sebagai wadah diskusi bagi pecinta kopi, lalu supaya kemanfaatan dan keberkahannya didapatkan maka diadakanlah kegiatan yang menyentuh ranah sosial, kebaikan bagi umat banyak.

Maka, peminat diskusi sambil ngopi ini mulai mengadakan kegiatan diluar diskusi saja, ada agenda mengaji kitab klasik,  mengkhatamkan Al Qur'an,  bahkan kajian diluar model santri pada umumnya.

 Ada kegiatan penelitian tentang kopi dan pembinaan bagi petani kopi di sebuah daerah di Jember. Di sana Pak Irham mendirikan semacam wisata edukasi kopi. Dengan penyajian belajar seluk beluk kopi, mulai menanam hingga meracik kopi.

Satu kegiatan yang pernah saya ikuti yakni Ngopi Sastra, menghadirkan Rektor UIN Maliki, Professor Haris. Berdiskusi tentang sastra, tentang puisi hingga pembacaan puisi. Masih saya ingat, waktu itu saya juga ikut membacakan puisi yang baru saya posting di Kompasiana, berjudul " Kak, Bawa Aku Pulang."

Mengesankan, itu yang saya tangkap dari acara pesantren kopi 17 Agustus 2016 kemarin. Hari merdeka dengan kegiatan bermakna. Istimewa bagi saya untuk geliat literasi ke depan. Ada motivasi menulis, ada semangat membuka kembali file tulisan yang tersimpan, dan yang istimewa tercetus keinginan yang sama. Membukukan ide. Menuliskan jejak dalam sebuah buku. Inilah makna merdeka bersama pesantren kopi kali ini. Mengisi kemerdekaan dengan memerdekakan ide yang tersimpan menjadi sebuah tulisan. Salam merdeka, salam menulis untuk bangsa.


Anis Hidayatie





KONTEN MENARIK LAINNYA
x