Mohon tunggu...
Anis Hidayatie
Anis Hidayatie Mohon Tunggu... Penulis, guru

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Cinta adalah muasal segalanya. Mari tebar cinta dengan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Catatan Kisah Fatihil

16 Juli 2019   08:07 Diperbarui: 16 Juli 2019   08:12 0 6 1 Mohon Tunggu...
Catatan Kisah Fatihil
Anis Hidayatie (doc.pri )


             A.BAGIAN PERTAMA

    Dahulu pada tahun sekitar 1960 an di desa Tawangsari dusun gerih terdapatlah suami istri yang bernama bpk.bani dan ibu fatimah, beliau sehari-harinya hanya bekerja sebagai seorang petani dan peternak (sapi).
Dan beliau dikaruniai 5 orang anak
1. Pak sunawi
2. Pak Suwandi
3. Pak rumaji
4. Ibu sundiyah
5. Ibu masriah.


Pada waktu itu disusun gerih masyarakatnya masih berbaur antara agama islam dan hindu, dan beliau ( bpk bani dan ibu fatimah) berkeinginan disusun Gerih itu ada tempat belajar mengaji  untuk masyarakat sekitar. 

Terbesit dalam kalbunya untuk mendirikan sebuah tempat untuk belajar mengaji akhirnya beliaupun pergi ke dusun sebelah yaitu dusun manting, beliau sowan kepada temannya yang bernama bpk. Napian. Karena bpk. Napian itu adalah seseorang yang lebih mengerti tentang agama islam, lalu bapak Bani pun mengutarakan maksud hatinya  dan memohon restu dari temannya itu.

Dengan serta merta sang teman pun merestuinya. Setelah itu dengan membawa restu dari temannya dan tekad yang bulat, mulailah bpk. Bani mendirikan tempat belajar mengaji dirumahnya, dengan kesabaran dan niat yang begitu tulus akhirnya bpk. Bani beserta istrinya mampu untuk mendirikan tempat untuk belajar mengaji itu. 

Kemudian bpk.bani pergi lagi kerumah temannya( bpk. Napian) bermaksud untuk meminta bantuan kepada temannya itu sebagai seorang pengajar (guru) dirumahnya, dan temannya pun merestui nya.

Kemudian mulailah kedua orang tersebut mendatangi rumah-rumah warga, untuk mengajak belajar mengaji dirumahnya, lalu warga sekitar pun ada yang mau mengaji dirumah bpk. Bani tersebut.
Dan warga" tersebut antara lain adalah:
1. Bpk Suwandi  7. Ibu iyah
2. Bpk solikin.    8. ibu rumanah
3. Bpk rumaji.    9. Ibu rukipah
4. Bpk sugir.      10. Ibu muayah
5. Bpk Sukir.      11. Ibu munayah
6. Ibu alimah.   12. Ibu siti sulifah


  Selanjutnya menurut ibu suindiyah, yang beliau termasuk salah satu putri dari bpk. Bani menuturkan, bahwa selain 12 murid diatas masih ada lagi murid" yang lainnya tapi beliau sudah lupa.


  Dengan bekal sejumlah murid (warga) tersebut beliau (bpk. Bani) memulai sistem pendidikan klasikal, dalam pelaksanaan pendidikan ini belum ada tempat yang layak, kala itu kediaman beliau masih berupa rumah kecil yang berdinding bambu dan sebelah utaranya berdekatan dengan kandang ternak (sapi). dan tempat ini merupakan tempat belajar mengaji setiap malam ba'da maghrib, meskipun dengan penerangan yang terbatas hanya mengandalkan strongkin dan  oblek,cempluk.  Muridpun tetap semangat dalam melakukan aktifitas belajarnya.

Selang beberapa tahun orang yang belajar mengaji pun semakin bertambah, bertepatan pada tahun 1971.  Kedua suami istri itu ( bpk.bani dan ibu. Fatimah) berinisiatif memperbaiki tempat mengaji nya dengan bangunan yang lebih layak. Dengan niat yang tulus dan keinginan yang begitu besar akhirnya beliaupun berhasil merenofasi tempat mengaji itu dengan bangunan yang lebih kokoh. Setelah bangunan itu jadi maka nama beliau mulai dikenal dikalangan masyarakat sekitar, dan akhirnya pun banyak warga yang datang untuk menuntut ilmu dan belajar mengaji dirumahnya.


Lambat laun jumlah muridnya pun semakin bertambah hingga sekitar 30 an warga. Kemudian bpk. Bani mencari tambahan dua pengajar lagi, dan akhirnya beliaupun mendapat pengajar lagi dari dusun manting, dua pengajar itu adalah bpk. sukibat dan bpk. Laiman.sejak saat itu pengajar dirumah bpk. Bani ada 3 orang yaitu bpk. Napian bpk. Sukibat dan bpk. Laiman


    Selanjutnya menurut cerita dari salah satu murid pada waktu itu, jumlah muridnya kira-kira kurang lebih sekitar 30 an murid, Dan pengajarnya bukan bpk. Bani dan ibu fatimah itu sendiri, melainkan pengajar" dari luar yaitu daerah manteng.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3