Mohon tunggu...
Anis Hidayatie
Anis Hidayatie Mohon Tunggu... Penulis, guru

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Cinta adalah muasal segalanya. Mari tebar cinta dengan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Seratus Buku, Seratus Siswa, Begini Konsepnya

14 Juli 2019   11:31 Diperbarui: 14 Juli 2019   11:44 0 7 9 Mohon Tunggu...
Seratus Buku, Seratus Siswa, Begini Konsepnya
Siswa dengan buku karyanya

Adalah semangat literasi dengan sambutan hangat apresiasi yang melatarbelakangi saya mau terlibat dalam penerbitan buku untuk siswa. Tertantang mewujudkan pembukuan karya, saya menerima permintaan  Kepala MTsN 2 Blitar, Bapak Drs. Sihabbudin  untuk membantu membukukan lagi karya siswa dengan target 1 orang 1 judul buku untuk seratus siswa.

Bu Enik Rusmiati, ketua Komalku Raya, Komunitas Menulis Buku Cabang Blitar, guru Bahasa Indonesia di sana yang juga kompasianer menyampaikan keinginan bapak kepala madrasahnya itu kepada saya. Setelah sukses menerbitkan 10 judul buku untuk 10 siswa, saya diminta membantu lagi untuk ikut mewujudkan program seratus siswa seratus buku. Tentu gairah literasi ini tak boleh dipadamkan, maka semangat '45 saya mulai pergerakan.

Bu Enik ( hijab pink) dengan kompasianers KomalkuRaya
Bu Enik ( hijab pink) dengan kompasianers KomalkuRaya
Berbekal pengalaman menerbitkan 10 cerpen siswa yang euforianya tak hanya berlaku di madrasah. Bahkan sampai ke wali murid siswa yang anaknya bisa mempunyai buku terbitan maka saya mulai langkah mewujudkan keinginan selanjutnya. Seratus buku untuk 100 siswa. Sungguh, angkat topi saya dengan gerakan literasi yang berlangsung di MTsN 2 Blitar itu. Masih sekolah menengah namun dukungan untuk gerakan literasi luar biasa. Siswa dimotivasi, difasilitasi untuk menghasilkan karya tulis.


Bahkan tahun ini, Bu Enik, sang guru Bahasa Indonesia siap  beralih dari kurikulum menjadi kepala perpustakaan. Dengan harapan makin menumbuhkan minat baca anak, lalu mengajak siswa berkarya, membuat buku seperti buku buku yang telah mereka pegang dan baca di perpustakaan. Menghangatkan iklim gerakan literasi di madrasah tersebut.

Kepala MTsN 2 Blitar
Kepala MTsN 2 Blitar
Bu Enik meminta saya membuat konsepnya, seperti apa. 100 judul buku untuk seratus siswa itu sepertinya sulit. Namun saya kemukakan bahwa itu bisa diwujudkan. Caranya? Bikin workshop untuk seluruh peserta. Kita handarbeni menjadi tutor sekaligus mentor pendamping. Teman-teman komalku Raya akan siap turun gelanggang. Ini untuk literasi, saatnya mewujudkan jargon "Berjuang untuk bangsa lewat kata-kata."
 
Kegiatan literasi siswa
Kegiatan literasi siswa
Konsep saya adalah meminta siswa menulis sesuai kategori yang diminati. Seperti form kategori artikel yang ada di  Kompasiana. Ya, jujur saya terinspirasi oleh kategori di Kompasiana. Ada ruang untuk menulis fiksi, cerpen, puisi, ada ruang menulis untuk menulis Humaniora, tentang pendidikan di sekolahnya, bagaimana menjadi siswa seharusnya, cerita sosok guru idaman, pelajaran yang disukai, pun Gaya hidup yang berisi hobi, bisa menulis hobi siswa apa saja. Dan seterusnya. Kita bebaskan siswa menulis sesuai kategori yang diinginkan, tentu sesuai kemampuan yang dimiliki, lalu didampingi. Hingga naskah finish siap cetak jadi buku.


Saat  workshop nanti kita akan mengelompokkan siswa sesuai kategori yang diikuti, lalu satu mentor di tiap kategori akan mendampingi, menentukan tema, membuat outline, menemukan judul. Jadi kalau ada 10 lead kategori kita bagi 100 anak tersebut menjadi sepuluh kelompok. Masing masing siswa di dalam kelompok langsung mengemukakan konsep tulisan yang akan dia buat jadi buku.

Sesudah outline dibuat, langsung bekerja, membuat sebuah naskah dengan didampingi  mentor. Apapun kesulitan siswa baik dalam menuangkan ide atau menyusun kata-kata agar sesuai PUEBI dan KBBI akan kita dampingi. Sampai mereka bisa menyelesaikan naskahnya.

Satu hal yang penting bagi saya adalah menjaga spirit itu tetap ada, fokus pada yang dikerjakan sehingga kendala apapun yang menghadang akan terasa ringan diterjang. Menciptakan rasa' Bisa' pada jiwa siswa itu. Yakni bisa menuangkan ide dalam tulisan. Membuka mind set, meminggirkan anggapan bahwa menulis itu satu kegiatan yang sulit dan tidak menyenangkan.

Untuk kesempatan yang luar biasa ini, - bagi saya demikian, karena hingga saat saya menuliskan artikel ini, belum pernah saya menemukan satu sekolah pun yang punya gerakan seratus siswa seratus buku-. Saya ingin all out, terjun langsung berbuat semampu yang saya bisa dengan harapan gairah literasi makin menular untuk seluruh siswa, seluruh sekolah di negeri ini.