Mohon tunggu...
Anis Hidayatie
Anis Hidayatie Mohon Tunggu... Penulis, guru

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Cinta adalah muasal segalanya. Mari tebar cinta dengan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Buku Berbalas Puisi, Jembatan Jalin Hati

27 Juni 2019   07:30 Diperbarui: 27 Juni 2019   07:42 0 31 20 Mohon Tunggu...
Buku Berbalas Puisi, Jembatan Jalin Hati
Pixabay.com

Buku Berbalas Puisi, Jembayan Jalin Hati

Adalah kebahagiaan bisa berakrab mesra dengan sesama penyuka kata-kata, terlebih sastra, yang kehadirannya mampu menumbuhkan rasa indah di dalam dada. Ingin sebetulnya bisa bertatap muka, berbagi kehangatan dalam cengkeraman gayeng penuh persahabatan. Namun, meraih itu semua bukanlah hal yang mudah. Jarak yang jauh, waktu yang kadang tak bisa kita kompromikan , membuat keinginan itu harus saya pinggirkan sementara, sambil berharap dalam doa, untuk sua pada suatu masa.

Akhirnya, satu ide saya tawarkan untuk sahabat yang kehadirannya mampu melupakan saya dari kesedihan kehilangan. Buku puisi, saya proyeksikan keberadaan buku puisi ini sebagai jembatan jalin hati, bahwa kita ada dalam satu ranah paseduluran mesra, merupa kata-kata dalam sastra.

Tak ada ekspektasi muluk yang saya harapkan, hanya ingin mendekap nama kawan yang selama ini sedia bertandang pun berbagi kehangatan. Di Kompasiana, sesama kompasianer. Jalinan persahabatan ini begitu berharganya bagi saya, hingga saya perlu melibatkan mereka untuk sebuah buku antologi puisi. 

Berbalas kata, itu teknisnya, tiap puisi yang sudah diposting, dibalas oleh pemuisi lain. Dalam berbagai tema, ada keresahan kehidupan, kritik sosial, perempuan, lelaki, keluarga dan tentu saja CINTA, tema abadi sepanjang masa yang kehadirannya mampu menumbuhkan diksi indah dalam torehan kata penulisnya.

Sekitar 26 nama kompasianer akan mengisi buku ini, tak terlalu banyak memang, belum mencakup semua pemuisi di Kompasiana yang jumlahnya mungkin mencapai seratus an orang. Namun ini adalah pilot projects, stimulus untuk terbitnya edisi kedua.

Sebetulnya, saya ingin mengajak semua fiksianer di Kompasiana, tawaran telah saya haturkan, lewat artikel bertajuk Jalin Hati lewat Buku Berbalas Puisi yang pernah tayang di Kompasiana 25 Juni lalu pun langsung  saya haturkan lewat kolom komentar.  Ada yang menyambut gempita ada yang tak mau juga. Saya mafhum, mau dan tak mau adalah hak setiap orang. Saya menghargai setiap keputusan masing-masing. Itu ranah prerogatif pribadi.

Rencana buku tersebut akan saya ajukan ke UIN Press, penerbitan milik Universitss Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, UIN Maliki Malang secara saya terhubung langsung dengan pihak kampus dan penerbitannya. Supaya tanpa biaya, ada reward pula. Ini jalan tengah untuk menindakan biaya penerbitan. Sebab kalau saya kirim ke penerbit mayor, yang berhonor, naskah dengan materi pernah tayang, biasanya tidak diterima. Pengalaman harus antri pula, padahal saya ingin segera memiliki bukunya, maka ke UIN Presslah buku itu akan saya ajukan.

Mengapa bukan indie atau self publishing? Karena berbiaya. Singkat, itu alasannya. Untuk penerbitan ISBN memang tak ada biaya, namun untuk pencetakan buku,  jelas perlu mengeluarkan biaya cetak. Inilah yang mesti ditanggung penulis bila menggunakan penerbitan indie/ self publishing. Tak mahal sebetulnya, dengan minimum cetak biasanya 10 buku. Jatuhnya harga tak sampai 20.000 perbuku. Murah memang, namun bila ada yang gratis dan mendapat reward, mengapa tidak?

Seperti apa rupa bukunya? Desain cover sedang dikerjakan oleh Brian Jati Pratama, Kompasianer pemuisi juga yang kesehariannya bekerja di kemenkeu Jakarta. Tidak saya pasrahkan penerbit, supaya sesuai dengan mau kami, para penulis puisi. Kata pengantar akan ditulis oleh pemuisi pujaan saya Mim Yudiarto, yang kehadirannya di Kompasiana cukup akrab dengan mata.

Nama-nama lain yang terlibat dalam buku tersebut adalah, Anis Hidayatie, Binti Maslukah, Brian Jati Pratama, Dessy Suparni, EcyEcy, Edy Purwanto, Enik Rusmiati  Erin-Ubus, Ikhlas- Julak Anum, Jagat Alit, Kang Marakara, Kholilatul Ummah, Lian Gaisi, Lilik Fatimah Azzahra, Rifan Nazhif, Ropingi, Santoso Mahargono, Sekar, Kedhaton, Siti Nazarotin, Soemarda Paranggana, Swarna Hati, Syahrul Chelsky, Ummu El Hakim- Niek, Yosh Cecilia, Zahrotul Mujahidah dan Zaldy Chan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2