Mohon tunggu...
Anis Hidayatie
Anis Hidayatie Mohon Tunggu... Penulis, guru

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Cinta adalah muasal segalanya. Mari tebar cinta dengan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Menyikapi yang TSM di Kompasiana

24 Juni 2019   06:42 Diperbarui: 24 Juni 2019   10:07 0 28 13 Mohon Tunggu...

Hai Kompasianers, beberapa hari ini saya jadi akrab banget dengan satu akronim mirip minuman penghangat badan. Ituloh campuran antara Susu Telur Madu Jahe, STMJ yang nikmat banget diseduh saat panas. 

Meniupinya ada sensasi tersendiri , nikmat aromanya, enak rasanya. Apaalagi musim dingin begini, yang gigitannya sampai menusuk pori pori. Maklum hawa pengunungan di tempat saya tinggal mencapai kurang dari 20 derajat Celcius. Serasa di Eropa. Katanya sih. Hehe

STMJ, satu nama minuman yang memangm enak, tapi singkatan satunya itu, TSM bikin gemes-gemes gimana gitu. Gak nyaman banget mendengar dan menyaksikan orang mengungkapkan kepanjangan kata itu. Ya, TSM, terstruktur, sistematis, dan massive. Gila, kayak sudah terjadi apaan aja. Jadi ingat  organisasi mafia nih  yang pernah saya tonton filmnya, God Father. Bisa seperti Yakuza di Jepang atau Triad di daratan Hongkong.

Wiih emang yang begituan sudah terjadi di negeri kita yak. Waduh, asik dong buat cerita film. Asal digarap serius dengan riset dan pemeran kelas Citra, pasti film itu bakal meledak. Mumpung lagi anget ini. Cuman masalahnya ada nggak yang berani ngangkat tema itu ke layar lebar. Sensitif sih. Kayak kulit epidermis. Disentuh langsung greng. Hehe

Ada lagi nih yang lagi booming di Kompasiana tentang TSM. Setidaknya saya mengalaminya, entah kalo para kompasianers. Ada loh yang TSM di rumah kita ini. Apa tuh? Iklan.

Tiap buka profil, mau nulis, mau baca, muncul tuh iklan yang  penampakannya kadang bikin gemes. Gimana enggak? Nutupin muka jeee. Nih layar bisa ketutup semua loh sama tuh penampilan iklan. Abis gitu kalau saya biarin, lumayan lama ilangnya. Kalau nyentuh closed, seringnya malah yang keluar tuh lanjutan penjelasan iklan, maklum efek jempol kegedean. Bikin pengen aja. Pingin punya mobil jadinya, sama pingin nonton pertandingan Badminton juga. Hehe


Terstruktur, Sistematis dan Massive ? iyalah, Sebagaimana ditulis Kamus  Besar Bahasa Indonesia

Terstruktur  ialah :  sudah dalam keadaan yang disusun dan diatur rapi.

Maka menurut saya kemunculan iklan tersebut sudah memenuhi kaidah terstruktur. Baik penyusunannya, yakni menampilkan flyer cover dulu, kalau tersentuh baru penjelasan dan teknis memiliki barang yang diiklankan. Sesudah selesai dengan iklan satu itu, lantas muncul iklsn yang ke dua. Lalu tentang rapi. Saya merasakan kok, rapi banget tuh kemasan dan penampilan. Enak dilihat cuma bikin bete aja kalau sering.

Sistematis : teratur menurut sistim, memakai sistim,  dengan cara yang diatur baik- baik. Cara kemunculan iklan tersebut  terasa banget kalau sudah diatur dengan baik. Buktinya muncul terus secara apik. Ini pasti sudah diprogramkan secara matang.

Massive, secara besar besaran. Kemunculannya yang terus menerus, memenuhi layar dan susah dibendung mengindikasikan adanya niat yang besar untuk menampilkan  iklan itu. Yang kemunculannya digadang-gadang mampu mempengaruhi daya nalar dan imaji pembaca, hingga pada satu kesimpulan, memutuskan untuk meng iya kan keberadaan iklan tersebut.

Lalu bagaimana harusnya menyikapi hal itu?  Adaptasi, membiasakan diri. Itu yang saya tawarkan pada teman-teman sesama Kompasianer. Bagaimanapun kita tamu di sini, sebagaimana adab tamu, yang harus mengikuti tuan rumah, maka apapun yang ditawarkan kita apresiasi, ikuti sepanjang itu baik tentunya.

Caranya? Sentuh closed dulu di ujung kiri atas  yang berwarna merah sebelum menulis sesuatu. Itu akan membantu supaya iklan tersebut tidak muncul terus. Untuk iklan lain bagaimana? Sama sentuh aja tanda silang di atas ya.

Gak nyaman banget nih.  Awalnya emang gitu, tapi kalo sudah terbiasa it's okay kok. Swear, kalo bukan untuk Kompasiana, males banget saya buka nih platform. Hari gini, ketika loading lemot sepersekian detik saja sudah  bikin bete. Apalagi ditmbah persoalan loggin yang harus berulang plus update diri di pengaturan.

Untuk  newbie atau yang kurang aktif, ini malah membingungkan, bisa jadi masalah baru ketika mereka akan menayangkan tulisan. Solusinya cuma satu. Sabar dan telaten. Baik bagi saya ketika memandu teman yang mengeluh maupun ketika saya mengalami sendiri.


Untuk teman yang punya permasalahan dengan loggin  ini sebagaimana saran admin, saya sarankan untuk kendala tentang akun Kompasiana silakan email ke kompasiana@kompasiana.com atau nomor WA Kompasiana di +62 881-1620-486.

Terlanjur cinta itu mengandung resiko. Apapun yang terjadi  dengan Kompasiana berusaha saya ikuti. Tipe setia saya mah.

 Saya masih di sini, persis puisi  Puisi saya semalam. Setia menulis dan berinteraksi di Kompasiana meskipun terkadang terengah saya mengikuti aturan dan regulasi terkini. Habis bagaimana lagi? Cinta itu butuh pembuktian to? Saat susah dan senang, saat ada uang ataupun dijanjikan. Hehe. Salam Cinta Kompasiana.