Mohon tunggu...
Anis Hidayatie
Anis Hidayatie Mohon Tunggu... Penulis, guru

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Cinta adalah muasal segalanya. Mari tebar cinta dengan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Thrkompasiana Pilihan

Patrol, Dahulu dan Sekarang

9 Mei 2019   19:36 Diperbarui: 9 Mei 2019   19:48 0 26 6 Mohon Tunggu...
Patrol, Dahulu dan Sekarang
Dahulu patrol dengan oncor dan bambu

Membicarakan Ramadhan, tak lengkap rasanya tanpa menyebutkan musik penggugah sahur yang biasa kudengar. Sejak aku menginjakkan kaki di desa Ngroto sebagai istri suamiku, kulewatkan Ramadhan  dengan kekagetan tengah malam. Rumahku dekat Balai desa, jadi orang berkumpul di sana sudah biasa. 

Demikian juga malam itu, sekitar 20 tahun yang lalu. Ramadhan pertama di sana. Jam menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Terdengar keramaian yang membuatku terbangun dan tertarik melihat apa yang terjadi di depan rumah. Kulihat ada anak-anak seusia SD, Remaja sampai bapak-bapak berkumpul di balai desa. Mengenakan sarung, membawa oncor dan kentongan dari Bambu. Semuanya lelaki, tak ada satupun perempuan.

Kelakuanku ini rupanya dilihat suamiku. Dia menjelaskan bahwa itu adalah tradisi. Musik patrol akan dibunyikan untuk membangunkan orang dari tidur. Sebagai pengantar sahur. Jelas tak ada perempuannya, karena kegiatan itu memang diperuntukkan lelaki lagi pula,  perempuan punya kewajiban menyiapkan makan sahur di rumah. Peserta patrol tidak makan sahur di jalanan tapi pulang ke rumah masing-masing nanti bila waktu imsak hampir tiba.

Teriakan " Sahur, sahur" terus berkumandang dari peserta patrol. Keseruan kudengar ketika anak anak dengan suara khasnya ikut berteriak lantang. Mereka berjalan berbaris memanjang. Oncor dibawa untuk penerang jalan, secara waktu itu belum ada lampu jalan. 

Menyaksikan mereka rasanya ada bahagia. Gempita menyambut suasana terasa begitu indahnya. Sepertinya mereka sangat gembira dengan datangnya bulan puasa, apalagi untuk anak-anak kadang mereka melepaskan sarung mereka, memakai sebagai alat permainan, diputar putar seperti tali Cowboy, di pukulkan mengganggu teman, ah seru pokoknya. Aku suka memperhatikan. Sisi lain keindahan jelang sahur.

 Begadang membangunkan orang sahur ternyata tidak membuat mereka tidur terus sepanjang menjalankan puasa. Musholla mereka penuhi untuk melaksanakan sholat berjamaah, sedari subuh, duhur, ashar, maghrib, hingga isya. Suara tadarus mengalun lepas subuh hingga tiba waktu Dhuha, jeda ketika dhuhur saja. Berlanjut lagi sehabis menunaikan sholat ashar. 

Kumandang adzan Maghrib dengan diawali tabuhan bedug masjid dan musholla menjadi hal yang paling ditunggu. Binar keceriaan terpancar kala waktu berbuka tiba. Shalat berjamaah, tarawih merupakan rangkaian kegiatan Ramadhan yang disambut dengan gembira. 

Ada tadarus usai tarawih. Lantunan ayat bergantian dibawakan oleh peserta jamaah tarawih. Kira kira pukul sepuluh malam baru tak kudengar suara orang tadarus. Senyap, rupanya mereka pulang,  untuk tidur.

Kebiasaan-kebiasaan itu hingga kini masih berlangsung di desaku. Bedanya  pada acara patrol membangunkan orang sahur. Kalau dulu lazim membawa  oncor dan menabuh bambu, kini tak nampak lagi.

Jalan-jalan di desaku sudah terang  di waktu malam. Lampu penerangan ditempatkan hampir di tiap rumah. Jalan protokol, gang-gang sempit tak luput dari lampu jalan. Terang benderang, tak perlu oncor atau membawa sesuatu sebagai sumber cahaya. Hanya saja bila listrik mati maka gelap gulita akan didapatkan. Meski demikian hal itu tak mematahkan peserta patrol melakukan aktivitas. Kini bukan oncor lagi yang mereka bawa. Senter dan Lampu charge yang ukurannya besar mereka siapkan, siap menggantikan posisi oncor.

Akan halnya dengan alat musik bambu yang lazim dengan sebutan kenthongan. Ramadhan tahun ini tak kutemukan lagi. Kehadirannya diganti dengan musik masa kini, ada karaoke untuk melantunkan lagu-lagu religi. Masih tetap berjalan kaki dalam melakukan kegiatan patrol, namun alat musiknya dinaikkan gledhekan. Itu loh alat angkut terbuat dari papan kayu dengan 4 roda yang cara berjalannya ditarik atau didorong. Untuk ukuran kampung suara penyanyinya cukup merdu. Tak jarang beberapa penghuni rumah sampai keluar untuk menonton.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x