Anis Hidayatie
Anis Hidayatie Guru

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Cinta adalah muasal segalanya. Mari tebar cinta dengan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Haru Biru Buku

9 Januari 2019   19:37 Diperbarui: 9 Januari 2019   19:42 208 23 13
Haru Biru Buku
Lian Gaisi. doc.pri

"Semoga Salikahnya sudah aku terima sebelum OP nanti ya Bun." Sahabat jauh bernama Lian Gaisi menuliskan chat seperti ketika memesan buku Salikah padaku. Terkaget aku membacanya. OP adalah sebuah singkatan yang menyesakkan dada. Menggiringku pada kedukaan mendalam, mengingat lagi kenangan. Memori saat mendampingi belahan hati sebelum dia meregang nyawa, meninggalkan dunia.

"OP? Apa itu? Jangan bilang operasi ya?" Bergetar tanganku kala menulis balasan untuknya, seketika ada riak menggenang di sudut dua bola mata.

" Iya bunda, Insha Allah aku mau Operasi, jadwal belum tahu kapan, cuma besok kan terakhir obat yang aku minum nih, jadi kalau tidak Senin ya Selasa. Kontrol sekaligus persiapannya."

Ya Allah, air mata ini menderas, tak bisa kutahan lagi. Lian pernah mengakui sakitnya padaku. Ada masalah dengan kepalanya. 3 kali terkena benturan, tulang hidungpun bengkok, harus dibetulkan, sebelum berakibat fatal.

Hasil CT scan menyatakan dia harus operasi, aku tak tahu apakah kepalanya atau hidungnya dahulu yang akan dioperasi. Secara spesifik dia tidak mengakui, tak berani bertanya detil. Aku hanya mengirimkan do a untuknya, agar segera membaik kesehatannya, bisa melewati meja operasi dengan sempurna.

Lian menginginkan buku Salikah untuk dibaca saat penantiannya menunggu jadwal operasi tiba. Ketika kutanya mengapa, dia menerangkan ingin membaca spirit Rabiah Adawiyah dalam buku Salikah. Sufi wanita yang mempersembahkan sisa hidupnya hanya dengan mencintai Tuhannnya. Allah Subhaanahu Wata 'ala. Ini di luar dugaanku, ternyata sebuah buku, bisa begitu diinginkan seseorang yang sedang memperjuangkan kehidupan.

Segera kuhubungi pihak penerbit,  kuminta segera mengirimkan buku itu padanya. Aku berdo'a semoga tak ada kendala, Gorontalo itu nun jauh di pulau Sulawesi,  khawatir tentu ada, apalagi mendengar kabar berita tentang saat itu  gempa. Pintaku pada Tuhan teriring do'a untuk kesehatannya, kukulumkan dari bibir ini, memintakan pula pada penghuni negeri Somplak agar turut mendo'akan.

Ya, do'a. Bagiku do' a adalah senjata yang bisa  mewujudkan apa saja. Kita tidak tahu dari mulut siapa do'a ini akan diterima. Kupintakan pada banyak orang, agar makin besar peluang do'a dikabulkan.

Puji syukurku pada Tuhan, buku itu sampai sebelum operasi dilaksanakan. Dia mengaku telah menerima buku itu sembari menunjukkan foto dirinya. Mengenakan masker, secara itu harus. Sebisa mungkin tidak dilepaskan, dengan alasan kesehatan.

"Pagi bundaku sayang, SALIKAH sudah  sampai dipelukanku sekarang." Itu adalah chat pertama dari beberapa pemesan buku Salikah, yang kisahnya pernah kutayangkan di Kompasiana ini pula.

Keharuan ini menyeruak untuk dua hal. Pertama, untuk Lian tentunya, pengakuannya dengan nuansa gembira bahwa buku sudah dalam pelukan membuatku mengingat akan kesehatannya.

Operasinya ditunda, ada masalah dengan kondisi seputar hatinya, harus disembuhkan dahulu, sebelum eksekusi operasi dilaksanakan. Semangat hidupnya justru membuatku terharu, kupikir dia sedang rapuh, ternyata dia masih produktif.

Tak mau berlama di kamar Rumah Sakit, di memilih obat jalan, sembari beraktifitas biasa untuk melupakan sakit yang diderita.

Ini membuatku ingin berada di sampingnya, berbagi pelukan, memberikan kekuatan. Bahkan dia  bisa menghasilkan tulisan. Dalam kesakitan dia menghibur diri denganmenulis, beberapa puisi dia hasilkan. Setelah melalui seleksi ketat, puisinya bisa masuk dalam buku Antologi puisi Suwung bersama Kompasianer sekaliber Saifullah Syahid. Luar biasa, semangat hidup Lian Gaisi membuatku terkesima.

Kedua, buku ini adalah Pilot Project, kegiatan penerbitanku yang pertama, tak menyangka secepat itu bisa sampai ke tangan pemesannya. Kabar telah diterimanya buku ke tangan pihak pemesan sungguh melegakan.

Harus kuakui ada sedikit kekhawatiran, sebab semua dilaksanakan online. Ijab Qabul jual beli, online pula. Ini sesuatu yang baru bagiku. Aku memang katrok, masih terbawa nostalgia masa lalu ketika  internet belum ada, ketika transaksi hanya ada di dunia nyata. Paling canggih hanya telepon berbasis suara atau teleconference bila ingin saling bertatap muka. Zaman now ini memudahkan banyak hal ternyata. Sisi positif yang aku mulai suka.

Aroma buku selalu membuatku rindu, itulah alasan kenapa aku terkesan menggebu membuat buku. Meski media online bertebaran, bagiku dia bukanlah saingan, malah menjadi partner menyenangkan. Setelah membaca di layar, keinginan memeluk buku, menyentuh kertas, membuka lembar demi lembar halaman, sebagai pengantar tidur malam merupakan ritual indah yang kerap kulakukan.

Begitulah haru biru buku, aku masih  merindukankannya selalu. Kutu buku, ah sepertinya aku mulai seperti itu, julukan yang pernah disematkan ibu padaku. Kini tak hanya membaca, aku mulai pula terlibat menuliskannya, menjadi bagian dari terciptanya sebuah buku. Aku suka, menyenangkan ternyata.

Bagaimana dengan kalian? Yuk gandeng tangan, kita buat buku bersama. Salam suka menulis dan membaca, untuk Indonesia jaya.

Ditulis Anis Hidayatie, untuk Kompasiana, 09012019