Puisi

Tergoda Cinta

7 Desember 2018   17:00 Diperbarui: 8 Desember 2018   08:59 37 3 2
Tergoda Cinta
Pixabay.com

Melarikan rindu tak mampu. Menyusuri petang tanpamu.Langit biru jadi beku.Tretetetet maumu iringi liukanku.Tak jadi indah tarian ini merayu.

Bagimu belumlah dewasa diriku, meski lewat usia darimu. Adakah sebidang dadamu sudah lapang? Saat kembara ini hendak melayang?

Sekedar kurebahkan kepala ini. Menunggu usap lembut jemarimu, berdesir.
Desau bibirmu  tiupkan hawa cinta di sela rambut. 

Kita berpuisi di hening jiwa petang.Bersajak di sepi malam luang. Ada kecapi, ada seruling mengiring. Bak Laila dan Najam  di kisah mencekam. Penuh rindu dendam.

Saat jauh, menumbuhkan rindu berpeluh. Goda tergoda ideal yang mana, bukan masa aliran romantisme yang kutakut habis tapi mereka menggaungkan realisme. Membujuk bahkan merajuk.

Opini mereka baiknya kita abaikan saja. Hadapi nyata buat kita berdua. Aku terbang lintasi awan menghindar, dari cacian dan cemoohan.

Tentang tak pantas ku buatmu. Atau tak idealmu buatku. Di pulaumu aku terhuyung,
tak mampu buka mata, yang ada hanya bahasa hati, torehkan lara jiwa.

Rebahku terlelap bersama mimpi. Di pantaimu, di pasir putih ada namamu.
Tak ada dua yang mampu kutulis, apa lagi tiga atau lebih.

Di ujung lelah,  menyerahku pada liukan lidahmu.  Kebodohan yang tak kunjung kusadari hingga beliung sapa nyata bangun pagi menghampiri. Nista, sadar diri. Lupa sejenak pada rayu kata dan suara. Harap tersadar selamanya.

Ngroto, senja 07122018