Cerpen Pilihan

Balada Perempuan Pemanjat Kelapa

7 Desember 2018   05:44 Diperbarui: 7 Desember 2018   05:53 235 10 10


Berharap hadir lagi nama lelaki adalah kemungkinan yang kuhindari. Cinta rinduku tlah tunduk pada lelaki mulia yang telah lama hilang, berpulang.  Tak ada yang bisa menggantikan, aku sepi di tengah hiruk pikuk rayu bujang tampan dari segala penjuru mata keriuhan.

Sampai dia datang, Jurnalis muda itu begitu menawan, tidak kolokan,  hanya ingin buat hatiku senang.
" Mbak, coba lihat sini! " Serunya siang kala itu, saat lomba panjat pinang di lapangan kecamatan, memperingati tujuh belasan.

Aku yang sedang di puncak tiang hanya berani menoleh, dia dengan bertubi memotret jeprat-jepret membidik mukaku yang belepotan hitam oli dan angus, tak ada sedikitpun cantik atau manis kupamerkan, tapi dia malah tertawa senang. Duh, tanganku meraih satu gandul hadiah, ih dapat gayung kamar mandi. Langsung kutimpukkan padanya.

 Dia tertawa cekikikan menghindar. Selanjutnya ada wajan, sapu korek, sapuijuk, sendal sepasang bertebaran, ke mukanya, tapi dia selalu bisa sigap menangkis. 

Serasa hitam padam aku dibuatnya, bukan merah padam, karena mukakupun penuh dengan warna hitam. Bergegas aku melorot, kaki saja, celanaku aman tak ikut melorot, tadi sudah kuambil tali rafia untuk mengencangkan. Tak kuhiraukan orang - orang dibawahku yang terjengkang. Mereka berteriak marah kesakitan. 

Aku hanya fokus pada pemuda kurang ajar itu, yang berani mengambil gambarku saat posisi memeluk tiang, ya hanya aku satu satunya wanita yang berhasil memanjat tiang sampai ke puncak, karena pesertanya cuma aku seorang.

Tetangga laki-laki yang mestinya ikut jadi peserta menyerahkan tanggung jawab ikut lomba padaku, itu berkat profesiku yang sehari-hari juga pemanjat kelapa. Bukan sok tomboy atau maskulin, tapi ketrampilan itu warisan leluhur, tak boleh dilenyapkan begitu saja, aku satu satunya anak emak dan bapak, maka terpaksa aku jadi pewaris tunggal. 

Atau kalau tidak maka aku akan terantuk kutukan menjadi perawan tua yang tak laku laku. Ih, siapa mau. Meski aku kini hidup sendiri, tapi kan aku pernah menikah, jadi masih laku lah.

Dia, yang memotretku tadi  berlari kencang, ternyata dia bukan warga kampungku, jadi  tak tahu seluk beluk jalan berliku,  sampai di bibir sungai dia berhenti, tak melanjutkan.  Aku  di atas angin, kamera yang tadi dipegang melambai dipamerkan, kedua tangannya telentang menantang, menghadapkan badan ke arahku. 

Aku terdiam, tak mampu melanjutkan selangkahpun. Ah, aku wanita meski tampaknya dia jauh lebih muda tapi rasa malu melarangku, dilarang menyentuh lelaki.  kalau nekat kulakukan pasti perebutan itu akan menghasilkan sentuhan, pergulatan.

"Kenapa mbak? Kenapa berhenti? Ayo ! ini ambil kameranya!" Makin menantang dia.

Akhirnya aku hanya tertunduk lesu, menitik air mata ini mengingat separuh hati yang telah pergi, lelaki, ah lelaki.

Kameranya di masukkan ransel. Pelan dia berjalan mendatangiku, diulurkan tissue, kuusap tangis di pipiku.
Tak ada lagi tawa kurang ajar. Suaranya pelan, manis bertanya," Kenapa mbak?"


"Tolong hapus fotoku yah?"

" Kenapa?"

" Wajahku jelek kan?  Aku malu."

"Hahaha, justru jelek itu yang menarik."

" Kau ini siapa? Kenapa pula rupa jelek bisa menarik?"

"Di sini panas mbak, kita duduk di sana yah, nanti ku jelaskan!" Tangannya menunjuk pada pohon beringin tua penunggu sungai ini.

Aku menurut, membuntuti langkahnya, mengambil tempat duduk di  akar  beringin, sejuk, tangannya di ulurkan, "  Kenalan dulu mbak".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3