Mohon tunggu...
Ki Suki
Ki Suki Mohon Tunggu... Seorang yang suka menulis dan menggambar.

Hidup ini selalu indah saat kita bisa melihatnya dari sudut yang tepat, sayangnya seperti melihat sebuah kubus kita hanya mampu melihat paling banyak tiga sisi dari enam sisi yang ada.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Sengkuni: Politik Dalam Dendam dan Permainan Nasib

7 April 2019   22:30 Diperbarui: 7 April 2019   23:08 0 2 1 Mohon Tunggu...
Sengkuni: Politik Dalam Dendam dan Permainan Nasib
Olah pribadi

Tokoh Sengkuni jadi banyak dibicarakan setelah pagelaran "Sengkuni 2019" oleh teater Perdikan Yogyakarta yang diselenggarakan di Balai Budaya Komplek Balai Pemuda Surabaya, 7-8 Maret 2019. Pagelaran seni pertunjukan yang naskahnya disusun oleh Emha Ainun Najib ini memberikan kesan kuat tentang tokoh Sengkuni yang dihubungkan dengan perpolitikan di tanah air. Tokoh Sengkuni ini menggambarkan sebagai orang yang suka membuat hoaks, memfitnah, memprovokator dan memecah belah. Tentu kejadian ini bisa dikatakan mirip dengan keadaan tanag air saat ini. Tetapi maaf, saya tidak membahas tentang perpolitikan tanah air, tetapi lebih pada tokoh Sengkuni yang menarik ini.

Sengkuni awalnya bernama Suman, seorang bangsawan dari Negeri Gandara. Sebagai tokoh bangsawan, Suman ingin berjaya dan menunjukkan bahwa dia adalah tokoh pilihan. Di negerinya, Suman muda ini memang orang hebat. Dia adalah seorang yang sayang pada keluarganya dan juga disayang oleh keluarganya. Lalu dia mencoba peruntnngan untuk meminang Dewi Kunti yang mengadakan sayembara mencari jodoh. Keluarganya mendukung dengan memberikan ijin berangkat bersama kakak kesayangannya, Gandari.

Sayang seribu sayang, nasib tidak terlalu baik bagi Suman. Letak yang jauh dari Gandara, menyebabkan dia terlambat. Dewi Kunti sudah diboyong oleh Pandu Dewanata dari Hastina. Tentu saja dia kecewa.Suman lalu mencegat rombongan Pandu dan menyerangnya.
"Pandu, kalau kamu merasa kesatria, hadapilah aku. Kalau kamu menang, aku berikan kakakku Gandari. Kalau kamu kalah, cukup berikan Dewi Kunti padaku!" Tantang Suman.
Sayangnya dalam perang tanding, ternyata Suman bukanlah lawan Pandu yang sakti. Akhirnya Gandari juga diboyong ke Hastina. Suman juga ikut ke Hastina atas ijin Pandu agar Gandari tidak sedih. 

Sesampai di Hastina, Suman kembali kecewa pada Pandu yang ternyata menyerahkan semua putri boyongan termasuk Gandari kepada Drestarata, kakak Pandu. Suman kecewa karena Drestarata itu buta, dan terlebih lagi meskipun anak tertua, Drestarata bukannya raja Hastina. Saat itu raja Hastina adalah Pandu. Awalnya Suman agak lega karena Drestarata memutuskan akan memilih salah satu putri saja. Dengan berbagai cara, Suman dan Gandari berusaha agar Drestarata tidak memilih Gandari. Namun nasib telah berkata, Drestarata memilih Gandari, sedangkan Dewi Kunti dan Dewi Madrim tetap menjadi pendamping Pandu. Gandari menangis dan memutuskan akan menutup matanya seumur hidup. Suman merasa sangat sedih melihat kedukaan kakaknya. Suman menangis dalam hati atas permainan nasib yang tidak berpihak padanya. Sejak itulah Suman mengganti namanya menjadi Sengkuni.

Sengkuni dalam kedukaan dan kekecewaannya, akhirnya mencari cara agar bisa membalas Pandu dan Drestarata beserta keturunannya. Setelah Pandu meninggal, Drestarata naik tahta sambil menunggu anak-anak Pandu dewasa dan menggantikannya. Sengkuni memulai aksinya. Pertama dia menyebar berita tentang Patih Gandamaya yang ingin berbuat makar. Tentunya Sengkuni menyiapkan segala sesuatunya agar sang raja percaya. Akhirnya Drestarata memecat Patih Gandamaya dan mengeluarkannya dari Hastina. Lalu atas permintaan Gandari, Drestarata mengangkat Sengkuni menjadi Patih di Hastina. Nah, petualangan Sengkuni mulai menjadi-jadi dari sini.

Sengkuni tidak ingin anak-anak Pandu, Pandawa, menjadi raja untuk menggantikan Drestarata. Sengkuni berusaha agar Kurawa, anak=anak Drestarat dari Gandari yang berkuasa di Hastina. Sengkuni tahu bahwa Drestarata sangat sayang pada Pandawa bahkan lebih sayang dibandingkan pada anak-anaknya sendiri, Kurawa. Hal ini disebabkan Pandawa mempunyai kemampuan yang menonjol, mumpuni dan berbudi. Sengkuni secara halus menghasut semua orang di istana agar membenci Pandawa termasuk Drestarata. Sengkuni menyebarkan hoaks dalam berbagai macam bentuk dan ragamnya. Akibat hoaks-hoaks ini, Pandawa menjadi tersingkirkan. Hanya ada beberapa orang yang tetap pendiriannya seperti Bhisma dan Wirata.

Akhirnya Pandawa diusir secara halus dari Hastina dengan menugaskan mereka membuka hutan Kandaka untuk menjadi kerajaan baru. Hutan Kandaka bukan hutan biasa tetapi hutan angker yang tidak satupun manusia bisa masuk dan keluar dengan selamat. Pandawa yang berbudi dan bertalenta tetap melaksanakan tugas dengan bangga. Bhisma sempat khawatir, namun dengan kesaktiannya Bhisma mampu melihat bahwa Pandawa mampu melaksanakan tugas itu. 

Benar saja, Pandawa berhasil membuka hutan Kandaka dan mendirikan istana Indraprasta di sana. Tidak hanya itu, Pandawa mampu membuat Indraprasta menjadi sebuah kerajaan yang semakin tumbuh dan berkembang. Tidak memakan waktu lama, nama kerajaan Indraprasta menjadi sama menterengnya dengan Hastina. Ini membuat Sengkuni kembali dibakar dendam. Sengkuni mencari akal agar Indraprasta kembali ke Hastina. Lalu dia teringat bahwa Yudistira suka bermain judi meskipun sangat jarang dilakukan.

Sengkuni mengadakan acara judi dan memanggil Pandawa untuk ikut serta. Dengan akal muslihat, kembali Sengkuni memperdaya Pandawa. Yudistira kalah bermain judi dan harus menyerahkan Indraprasta ke Hastina. Untungnya ada Bhisma yang melerai dan akhirnya memberi keputusan untuk menghukum Pandawa mengasingkan diri selama 13 tahun dan pada tahun terakhir tidak boleh diketahui keberadaannya, setelah itu Indraprasta bisa kembali ke Pandawa.

Kembali Pandawa hidup dalam pengasingan. pada tahun ke 13, atas petunjuk Kresna, Pandawa menyamar di Kerajaan Wirata. Tilik sandi atau agen rahasia Hastina kewalahan dan benar-benar kehilangan Pandawa. Pas sehari setelah 13 tahun, tiba-tiba Hastina menyerang Wirata yang letakannya bertetangga. Para kesatria sakti dari Hastina seperti Adipati Karna dan Durna turut dalam penyerangan ini. Tentu saja pasukan Wirata kelabakan. . Lalu Pandawa menunjukkan diri dengan membela Wirata. Mereka minta ke Durna agar menghentikan peperangan. Waktu itu Sengkuni berada di dekat Durna.

Sengkuni meminta agar pasukan Hastina mundur dan berkata bahwa Indraprasta tidak bisa kembali pada Pandawa karena sudah menunjukkan diri. Di sini timbullah pertentangan, karena Pandawa sudah merasa menghabiskan waktu 13 tahun pengasingan. Pandawa meminta Kresna untuk mewakili mereka berunding di Hastina agar tidak terjadi tragedi yang lebih besar. Sayangnya Kresna juga tidak berhasil dalam tugasnya, karena Kurawa dan para petinggi Hastina tidak setuju meskipun Bhisma sudah angkat bicara.
"Indraprasta hanya bisa direbut dengan perang. Kalau Kresna bukan pengecut tidak perlu berolah kata!" Tantang Sengkuni. Sengkuni sangat yakin bahwa Kresna tidak bisa berbuat apa-apa karena di sana ada Bhisma dan Durna yang sakti mandraguna. Kresna sempat marah dan ber-Triwikrama akibat ocehan Sengkuni. Untung bisa diredam oleh Bhisma dan Drestarata.

Peperangan tidak bisa terelakkan. Perang Baratayudha bergolak. Sengkuni sangat yakin bisa menang melawan Pandawa karena ada Bhisma, Durna dan Adipati Karna yang membela Hastina. Terlebih lagi lewat akal muslihatnya, Sengkuni membuat Kresna tidak maju perang lewat perjanjian meskipun boleh sebagai penasehat. Sengkuni juga takut pada kesaktian Kresna saat ber-Triwikrama.

Awal peperangan Kurawa memang berada di atas angin. Sayang nasib berkata lain. Sengkuni mati dalam perang bersama semua Kurawa termasuk Bhisma, Durna, Adipati Karna bahkan Prabu Salya. Kurawa dan pasukannya dikalahkan oleh Pandawa. Semua strategi yang dibuat oleh Sengkuni telah dipatahkan dan menjadikan Hastina kalah perang. 

Satu hal yang perlu dicatat dalam hal ini, ulah Sengkuni membuat namanya dihubungkan dengan keculasan, tipu muslihat, hoaks, akal bulus dan semua citra negatif. Namun Sengkuni melakukan itu karena dendam yang dipupuk dalam hatinya atas permainan nasib yang selalu membuatnya dalam kekecewaan. Sengkuni bisa jadi seorang tokoh, namun bisa juga sebuah perumpamaan karakater manusia, dimana setiap manusia mempunyai Sengkuni dalam dirinya. Dalam kehidupan seperti saat ini dimana tekanan hidup semakin berat ditambah lagi dengan informasi yang berseliweran tanpa filter, nasib akan bermain dalam kehidupan manusia dan ini akan menumbuhkan Sengkuni-Sengkuni dalam wujud yang berbeda.