Mohon tunggu...
Anggi Luki
Anggi Luki Mohon Tunggu... Editor - Karyawan

Orang yang suka dengan ketenangan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Dua Nisan

25 September 2023   21:23 Diperbarui: 25 September 2023   21:25 80
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Aku berjalan dalam sebuah lorong, mengitari ruangan kosong tanpa benda apapun di dalamnya, ruangan itu terlihat putih dan terang. Senyuman manis tiba-tiba menyapa dari ujung ruang kosong. Aku yang pertama bingung, aku sedang berada dimana tiba merasa damai melihat senyuman indah itu.

" Ayah, Ibu? " Panggilku dengan sumringah. Namun sayangnya tidak ada jawaban di ujung sana.

Prak... Prak..Prak 

Langkah kakiku terdengar begitu cepat dan keras di ruangan itu, Ya, aku berlari ke arah senyuman yang menyapaku. 

Aku mencoba mendekat ke arah senyuman itu, entah mengapa semakin lama semakin mereka berdua terasa jauh dan tak bisa aku gapai.

fyuu.. Fyuu...

Suara deru nafasku ikut terdengar begitu keras di telingaku. Aku berhenti dan menghela nafas sejenak kemudian mendongakan kepalaku ke arah mereka berdua. Aku masih melihat senyum ibu yang begitu indah dan senyum ayah yang begitu manis diujung lorong itu. Meski nafasku tersengal-sengal aku masih bisa tersenyum dengan nyaman. Aku lalu berjalan terbata-bata ke arah mereka, kali ini aku merasa sangat bahagia karena bisa begitu dengan mereka. Ibu tiba-tiba mengelus rambutku, tersenyum dan kemudian menyeletukan satu kata. " Berbahagialah..." 

Neng... Neng, bangun! ye malah tidur disini." terdengar suara abang-abang membangunkanku yang seolah-olah terasa menjauhkanku dari ayah dan ibuku.

Aku menggeliat dan terbangun perlahan dari tidur dan mimpi yang indah.

" Bang, tadi lihat ayah dan ibu saya gak?" Aku berdiri dari tempat sebelumnya.

" Ye, mana ada neng, dari tadi saya lihat neng sendirian disini, sambil ngusap-ngusap ke dua nisan yang bersebelahan neng." Abang tukang penjaga makam menjelaskan dengan sangat detail.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun