Mohon tunggu...
Andi Angger Sutawijaya
Andi Angger Sutawijaya Mohon Tunggu... Orang biasa yang ingin dikenang baik oleh istri dan anam-anaknya

Direktur eksekutif Gerakan Turun Tangan

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Surat Terbuka untuk Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.d: Berhenti "Memukul" Kemanusiaan

24 Mei 2019   16:46 Diperbarui: 24 Mei 2019   17:18 0 7 1 Mohon Tunggu...

Dear Gus Nadir,

Sebelumnya perkenalkan, nama saya Andi Angger Sutawijaya, anak muda yang dididik tentang kemanusiaan selama 6 tahun oleh Dompet Dhuafa. Saya belum pernah bertemu dengan Gus, tapi melihat cuitan Gus di twitter, nampaknya kita punya sosok yang sama untuk dikagumi, almarhum Gus Dur. Untuk itu, perkenankan saya menulis surat ini secara terbuka di sela-sela kesibukan Gus Nadir akhir-akhir ini.

Sebagai sama-sama pengagum Gus Dur, saya amat kecewa dengan cuitan Gus yang menanggapi soal kejadian pemukulan tim kemanusiaan Dompet Dhuafa pada saat aksi 22 Mei 2019 kemarin. Tak elok nampaknya ketika Gus seret kejadian tersebut ke arah dukungan politik praktis. Gus pasti masih sangat ingat perkataan Gus Dur yang bilang bahwa "yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan". Gus juga pasti tahu betul bagaimana sebagai tokoh agama dan politik, Gus Dur malah lebih dikenal sebagai pejuang kemanusiaan yang menolak segala bentuk kekerasan. Apalagi jika kekerasan itu dilakukan kepada para petugas kemanusiaan.

Gus Nadir yang saya hormati,

Jujur, statement Gus yang bilang kalau Direktur Dompet Dhuafa sebagai pendukung 02 dan seolah-olah hal tersebut menjadi alasan "pembenaran" bagi publik atas aksi penyerangan kepada tim medis Dompet Dhuafa itu sangat menyakitkan. Terlebih, akun yang Gus mention itu bukan akun dari Mas Bambang (Direktur Dompet Dhuafa) lho Gus. Jangan jadi bisa jadi ini termasuk hoax. Padahal, Gus yang mengingatkan kami semua soal "saring sebelum sharing". Di titik ini, saya sedih melihat ironi yang Gus tampilkan.

Saya, yang sejak tahun 2012 dididik oleh Dompet Dhuafa soal kemanusiaan tak pernah sedikit pun diajarkan untuk berpolitik praktis. Bahkan kami semua harus memegang teguh kode etik kami untuk tidak terlibat dalam politik praktis. Dompet Dhuafa nampaknya sangat mengamalkan pesan Gus Dur tadi ketimbang Gus Nadir.

Bagi kami di Dompet Dhuafa, soal kemanusiaan jauh lebih penting dari soal dukung mendukung syahwat politik. Bahkan dalam menjalankan amanah kemanusiaan, kami tak pernah diajarkan untuk membeda-bedakan penerima manfaat atas dasar dukungan politik. Perlu Gus ketahui, di Dompet Dhuafa lah saya dicontohkan tentang spirit bertoleransi seperti yang Gus dengungkan selama ini. Kami pernah punya sekolah dampingan di Merauke yang mayoritas warga sekolahnya Nasrani, dan didanai oleh salah satu CSR, itu kami lakukan dan tak ada masalah soal itu. Bahkan, di tahun 2013, beberapa foto kampanye zakat, infaq dan sedekah untuk program pendidikan, diambil oleh salah satu relawan yang beragama nasrani.

Saya hanya ingin katakan, Gus tak perlu ragukan nafas kemanusiaan kami. Lintas agama dan negara, apalagi Cuma soal urusan politik. Kami melampauinya. Jadi, Gus salah jika menganggap kami adalah bagian dari partisan politik.

Gus, sebagai seorang Nahdiyin, nampaknya Gus harus berhenti sejenak berinteraksi dengan hiruk pikuk Gus dalam berselancar di sosial media. Gus nampaknya perlu merenung sejenak apakah yang Gus ungkapkan selama ini masih dalam kerangka merawat NKRI dalam nuansa kedamaian dan menjunjung prinsip-prinsip kemanusiaan? Karena saya sangat mengagumi gerakan NU dalam kerangka ini. Dan Gus, seolah tak sedikit pun mencirikan hal tersebut.

Gus Nadir, kembalilah ke nafas perjuangan Gus Dur dan NU. Renungkanlah nilai-nilai luhur soal kemanusiaan yang telah di ukir dengan amat membanggakan. Jangan Gus rusak itu dengan seolah-olah membenarkan aksi penyerangan terhadap tenaga medis yang sedang melayani kemanusiaan. Saya tak ingin, Gus melumuri tangan Gus dengan darah pejuang kemanusiaan dan berhenti "memukul" kemanusiaan karena Gus memainkan opini sesat.

Semoga Gus sekeluarga selalu dalam keadaan sehat. Dan jangan lupa jaga juga kesehatan hati dan pikiran Gus.

Salam kemanusiaan,

Andi Anger Sutawijaya