Anep Paoji
Anep Paoji wiraswasta

Anep Paoji, saya tinggal di kota kecil indah dan bersahabat.

Selanjutnya

Tutup

Tekno Artikel Utama

LAN, Inkubator Riset Listrik Tenaga Angin di Pelosok Tasikmalaya

6 September 2017   22:26 Diperbarui: 1 Oktober 2017   05:49 7308 69 54
LAN, Inkubator Riset Listrik Tenaga Angin di Pelosok Tasikmalaya
Pembangkit listrik tenaga angin Ciheras. (foto: dok pribadi)

Setiap hari, setiap saat kita memerlukan listrik. Ketika bangun kita menyalakan lampu, TV atau mesin pompa untuk nyedot air semua itu menggunakan listrik. Siang hari, kita beraktifitas, perangkat elaktronik selalu menyertai. Handphone, modem internet, komputer hingga perangkat olahraga menggunakan listrik sebagai penggeraknya. Tanpa listrik, secanggih apapun peralatan elektronik tidak berarti apa-apa. Mereka layaknya benda mati, tidak berguna dan tidak memberi manfaat.

Namun tahukah kita dari mana listrik itu dibangkitkan?  Di Indonesia saat ini, kebutuhan pasokan listrik rumah tangga dan industri sebagian besar dari pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU. Listrik dihasilkan dari generator yang digerakkan oleh uap panas yang mengalir pada turbin raksasa.

Sebagai perbandingan, pembangkit listrik tenaga uap yang disalurkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) mencapai 14.446 MW atau sebesar 43,91%. Berikutnya, pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) mencapai 8.814 MW atau sebesar 26,79%. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebesar 3.516 MW atau 10,68% dari total elektrifikasi di Indonesia, pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) sebesar 2.973 MW atau 9,04%. Selanjutnya Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) sebesar 2.599 MW ATAU 7,90% dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) hanya 548 MW atau sebesar 1,67% listrik di tanah air.

Dari data umum di atas, listrik dari PLTU merupakan pasokan terbesar yang artinya penggunaan bahan bakar fosil juga paling besar. Untuk menghasilkan uap membutuhkan bahan bakar batu bara seperti halnya diesel yang membutuhkan minyak bumi. Keduanya merupakan fosil sumber energi tak terbarukan dan akan habis seiring waktu. Sementara populasi manusia yang membutuhkan energi semakin meningkat serta penggunaan energi sekala industri semakin besar.

Turbin Pembangkit Listrik Tenaga Angin Ciheras (foto: dok pribadi)
Turbin Pembangkit Listrik Tenaga Angin Ciheras (foto: dok pribadi)
Milirik Angin Sumber Energi Terbarukan

Sumber energi terbarukan mulai dilirik dan dibicarakan para ahli guna mengatasi keterbatasan sumber energi fosil yang sudah dieksploitasi sejak lama oleh manusia. Anugerah sumber daya alam bagi bangsa Indonesia teramat besar baik di laut, darat, udara bahkan dia angkasa berupa sinar mata hari di samping sumber daya manusianya itu sendiri.  Sumber energi terbarukan tersebut antara lain : bio fuel, bio massa, biogas, panas bumi, angin, matahari dan gelombang laut.

Angin salah satu potensi energi terbarukan yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Indonesia memiliki panjang garis pantai 99.093 kilo meter persegi dari 13.466 pulau yang setiap saat menghembuskan angin.

Bersyukur, riset-riset pembangkit listrik tenaga angin mulai digalakan, baik peorangan atau lembaga seperti perguruan tinggi. Menyebut salah satunya, Lentara Angin Nusantara (LAN) yang berlokasi di Ciheras, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

LAN telah berdiri sejak tahun 2011. Di lokasi itu sedikitnya telah berdiri 5 kincir angin, masing-masing menghasilkan 500 VA. Bukan saja untuk keperluan riset, beberapa ruang penelitian sudah diterangi listrik tenaga ingin.

Lampu Indikator di ruang Kontrol LAN Ciheras (foto: dok pribadi)
Lampu Indikator di ruang Kontrol LAN Ciheras (foto: dok pribadi)
Ruang kontor listrik di LAN CIheras. (foto: dok pribadi)
Ruang kontor listrik di LAN CIheras. (foto: dok pribadi)
Batrai penyimpanan listrik (foto: dok pribadi)
Batrai penyimpanan listrik (foto: dok pribadi)
Di lokasi yang sama terdapat penunjang penelitian. Seperti ruang kontrol, bengkel perakitan, ruang diskusi hingga ruang buku-buku referensi. Ada juga ruang kantor dan tempat menginap para mahasiswa dan para peneliti. Bangunan-bangunan nampak sederhana namun terasa sangat nyaman, menyatu dengan alam dengan hembusan angin dan deburan ombak.  

Sepanjang hari kita dapat menyaksikan para "penari langit" berputar di angkasa. Mereka terus menerus mamasok listrik pada ruang kontrol dan mengisi balok-balok batrai yang tersedia.

Tiang turbin dibangun pada ketinggian berbeda. Ada yang tinggi sekitar 10 meter, 5 meter dan 4 meteran. Salah satu tujuannya untuk mengetahui sejauh mana listrik yang dihasilkan dengan ketinggian yang berbeda itu. Secara kasat mata, kincir yang dipasang pada tiang tinggi putarannya lebih kencang ketimbang kincir pada tiang paling bawah.

Kantor LAN Ciheras (foto: dok pribadi)
Kantor LAN Ciheras (foto: dok pribadi)
Penulis berfoto bareng Ricky Elson (kiri) di Kantor LAN Ciheras. (foto: dok pribadi)
Penulis berfoto bareng Ricky Elson (kiri) di Kantor LAN Ciheras. (foto: dok pribadi)
Kiprah Ricky Elson

Bicara Lentera Angin Nusantara (LAN) Ciheras, tak lepas dari kiprah pendirinya bernama Ricky Elson. Pria asal Padang ini membangun pusat riset listrik tenaga angin sejak tahun 2011.

Dalam obrolan santai dengan penulis di akhir Bulan Agustus 2017 di Ciheras, pria pemilik belasan hak paten teknologi motor listrik di Jepang itu tidak banyak bercerita tentang seluk beluk pendirian LAN. Ia hanya mempersilahkan untuk mengeksplorasi LAN Ciheras yang indah itu.

Sementara di beberapa video Youtube yang dibuat untuk publikasi LAN, Ricky Elson memaparkan pandangannya terkait pendirian LAN sebagai pusat riset listrik tenaga angin.

Baginya, persoalan besar di seluruh dunia saat ini tentang ketersediaan air bersih, ketersediaan pangan dan energi, mulai dari penyediaan hingga penggunaaan. "Ini menjadi latar belakang untuk mengembangkan teknologi Indonesia, saya ikut andil dalam memperjuangkan kedaulatan energi di Indonesia," ungkapnya.

Kincir angin merupakan salah satu pintu masuk, setidaknya akan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Sebuah mimpi tidak bisa dikerjakan oleh satu orang, namun untuk memulainya bisa dilakukan oleh seseorang. Karena itulah LAN hadir, setidaknya ingin menerangi pelosok Nusantara meski masih dikatakan sebuah "lentera".

Ruang tidur peneliti. (foto: dok pribadi)
Ruang tidur peneliti. (foto: dok pribadi)
Ruang bengkel LAN Ciheras. (foto: dok pribadi)
Ruang bengkel LAN Ciheras. (foto: dok pribadi)
LAN Ciheras dimulai dari pondok kecil yang dibangun oleh sekitar 10 orang anak muda. Hingga Januari 2012 berhasil mendirikan 3 kincir angin pertama. Pada tahun 2015, Ricky kembali membangun 4 turbin. "Yang lahir di sini keyakinan, menyiapkan kelas-kelas, bangunan, tempat mereka belajar dan kerjasama dengan institusi penelitian," ungkapnya yakin.  

Mulai tahun 2015 Ricky dan kawan-kawan mulai melebarkan sayap, menggandeng masyarakat setempat. Tidak hanya riset kelistrikan tenaga angin melainkan bergerak pada bidang pertanian dan peternakan yang melibatkan masyarakat sekitar, seperti berternak sapi, ikan dan lele juga tanam jahe. 

Sedikitnya menurut Ricky, setiap tahun mahassiwa atau guru dan peneliti yang datang ke Ciheras mencapai 1000 orang. Selama berada di Ciheras mereka bertukar pengalaman, pengetahuan dan belajar baik di bidang listrik maupun bidang yang lebih luas. "Diawali kesungguhan dan tidak menyerah. Tidaklah dijamin berhasil pada masa saya, namun 10-20 tahun mendatang harapan itu akan terwujud," ungkapnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3