Mohon tunggu...
Andi Udique
Andi Udique Mohon Tunggu... Perawat - Rakyat Biasa

Saya hanya ingin menjadi warga negara yang baik dan benar

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Melawan Badai Hoaks Saat Pandemi COVID-19

22 Juni 2020   20:12 Diperbarui: 22 Juni 2020   20:29 40
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Jauh sebelum virus SARS-CoV-2 atau yang dikenal masyarakat awam sebagai virus Corona masuk ke Indonesia, Dahlan Iskan pernah menuliskan dalam catatannya bahwa ketika wabah ini melanda, yang harus diperangi itu bukan hanya virusnya, tetapi juga hoaks yang menyertainya. Hoaks itu jauh lebih berbahaya dari virus itu sendiri.

Saat awal COVID-19 masuk ke Indonesia, sebuah video beredar luas di internet yang memperlihatkan suasana kepanikan orang-orang di China menghadapi wabah. Setelah dilakukan cek dan ricek, ternyata video tersebut adalah suasana di sebuah stasiun kereta api ketika orang-orang di China berebutan pulang kampung untuk merayakan Imlek.

Mungkin video tersebutlah yang memicu orang-orang kaya memborong masker dan handsanitizer. Aksi borong tersebut menyebabkan masker dan handsanitizer menjadi sangat langka di pasaran. Kepanikan ini jugalah yang dimanfaatkan spekulan untuk menimbun masker, sehingga tenaga medis kekurangan masker dan handsanitizer. Maka keluarlah himbauan pemerintah bahwa yang wajib pakai masker hanya orang sakit dan masker yang dipakai hanya masker kain, masker medis untuk tenaga medis.

Setelah badai hoaks kepanikan berlalu, muncul badai hoaks yang lain. Mulai dari COVID-19 adalah flu biasa yang tidak berbahaya, COVID 19 adalah konspirasi elit global, dan terakhir yang paling menyakitkan tentu tuduhan bahwa tenaga kesehatan mengambil keuntungan dari pasien COVID-19 dan Rumah Sakit untung besar merawat pasien COVID-19.

Sebagian besar masyarakat sudah termakan hoaks bahwa tenaga kesehatan mengambil keuntungan dari pasien COVID-19, sehingga mereka menganggap upaya pencegahan tidak lagi penting. Mereka menganggap untuk apa mematuhi protokol kesehatan jika hanya untuk menguntungkan tenaga kesehatan.

Padahal jika logikanya dibalik, untuk apa seluruh tenaga kesehatan bersusah payah melakukan upaya pencegahan jika pasien COVID-19 memberikan keuntungan? Bukankah jika semakin banyak pasien COVID-19 semakin besar pula keuntungan yang didapat oleh tenaga kesehatan? Jika COVID-19 hanya menguntungkan Rumah Sakit dan tenaga kesehatan, seharusnya masyarakat berusaha keras agar tidak tertular, agar Rumah Sakit dan tenaga kesehatan tidak diuntungkan.

Saya dan teman-teman tenaga kesehatan berusaha keras meluruskan berbagai hoaks tersebut melalui tulisan di sosial media maupun blog pribadi. Lalu ada yang mengatakan bahwa kami hanya menakut-nakuti. Untuk apa kami menakut-nakuti? Tidak ada keuntungan yang kami dapat jika masyarakat takut, apalagi sampai panik.

Kami hanya khawatir jika wabah benar-benar terjadi, kita tidak siap menghadapinya. Sarana dan prasarana kesehatan kita sangat terbatas. Negara maju yang memiliki fasilitas dan sistem kesehatan yang sudah sangat baik saja kewalahan menghadapi wabah COVID-19 yang terjadi di negara mereka. Apalagi negara kita yang "harap maklum" ini.

Jika wabah COVID-19 benar-benar meledak, daya tampung fasilitas kesehatan yang terbatas tentu tidak bisa menampung orang yang sakit dalam jumlah banyak dan dalam waktu bersamaan. Saya tidak bisa membayangkan jika sampai UGD penuh dan ruang perawatan Rumah Sakit juga sudah penuh. Betapa sedihnya jika banyak pasien yang terlantar, tidak tertangani, dan harus mengantri sampai ke selasar dan halaman Rumah Sakit. Yang dirugikan bukan hanya pasien COVID-19, tetapi akan berimbas kepada berbagai penyakit gawat lainnya. Jika kemungkinan terburuk ini terjadi, jumlah kematian akan meningkat tajam.

Negara kita bukan negara China yang bisa membangun Rumah Sakit darurat dalam waktu cepat. Mereka membangun Rumah Sakit darurat lengkap dengan tenaga, prasarana, dan peralatannya sampai siap digunakan sepenuhnya hanya membutuhkan waktu satu minggu saja.

Benar bahwa pemerintah sudah menyiapkan Rumah Sakit Darurat di tiap daerah. Tapi jika anda menilik lebih jauh ke dalamnya, akan akan menghela nafas panjang. Tenaga kesehatan dan peralatan yang dimiliki sungguh tidak memadai jika terjadi ledakan wabah COVID-19.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun