Mohon tunggu...
Andy Caesar Shidqi
Andy Caesar Shidqi Mohon Tunggu... pulangpulangpagi

Menuju Waktu Yang Akan Datang

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

"Gelut Benjang Pamungkas", Esensi Hubungan Antarsesama

23 Oktober 2020   11:15 Diperbarui: 23 Oktober 2020   13:04 175 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Gelut Benjang Pamungkas", Esensi Hubungan Antarsesama
sumber: youtube channel WIBOWO MUKTI

Seni bela diri tidak pernah lepas dari konteks yang menyertainya. Kita mengenal pencak silat, bela diri asal Indonesia yang telah mendapat pengakuan UNESCO sebagai warisan tak benda, sangat erat kaitannya dengan perlawanan pada masa penjajahan. 

Pencak silat merupakan transformasi dari seni tari rakyat menjadi media perlawanan karena situasi dan kondisi genting kala itu. Begitu pun, gulat benjang, seni bela diri asal Sunda, khusunya Karesidenan Ujungberung (yang sekarang telah terpecah menjadi beberapa kecamatan).  

Benjang pada awalnya merupakan permainan para bujang atau anak lelaki di sesamben (bale), lalu disingkat menjadi "benjang" atau "sesamben budak bujang." Benjang bertransformasi dari permainan menjadi seni bela diri. 

Bahkan, lebih jauh menjadi seni pertunjukan. Sebagai seni pertunjukan, gulat benjang menjadi acara utama pada malam hari yang pada siang harinya diisi benjang helaran berupa arak-arakan, lalu sore harinya diisi tari topeng benjang. 

Gulat benjang diiringi Waditra, yakni musik khas benjang. Musik pengiring benjang ialah hasil asimilasi seni terebangan (seni musik bernafaskan Islam yang istrumennya sejenis rebana atau tetabuhan) dengan budaya Sunda, berisikan rebana, kendang, bedug, terompet, dan kecrekan

Hal ini, sontak mengingatkan saya pada bela diri Capoeira dari Brasil yang juga memiliki musik pengiring khas yang disebut Jogo. Karena benjang mempertemukan banyak orang, dari para petarung, pemusik, hingga penonton, otomatis benjang menjadi media silaturahmi antarsesama. Selaras dengan ucapan Pak Yana pada Fajar dan Dewi, "Pada dasarnya Gulat Benjang itu sportivitas dan silaturahmi."  

Dan saya pikir salah satu kata kunci dari film edukasi Gulat Benjang Pamungkas produksi Pusttekom ini ialah silaturahmi. Silaturahmi dalam KBBI dapat diartikan sebagai mengikat tali persahabatan. 

Makna kata itu sesuai dengan esensi hubungan antarsesama, yakni bertalian dalam perbedaan, bersahabat dalam perbedaan. Saling memahami dan menerima perbedaan di antarasesama sehingga terjalin kerukunan dan kekeluargaan. Seperti, dalam gulat benjang yang mempertemukan banyak orang dengan latar berbeda-beda, tetapi dalam satu keakraban, guyub, dan kerukunan. 

Hal itu pun ditegaskan dalam beberapa adegan ketika Pak Yana kembali menemui Pak Agus untuk kembali berteman setelah belampau tahun tidak bertemu karena rasa bersalah Pak Yana setelah mematahkan tangan Pak Agus. Pun dalam adegan, Fajar bersalaman dengan Rian, saling berangkulan saat pertandingan final yang dimenangkan Rian.

Pemaknaan tersebut yang hendak disitir Bambang Sujati (sutradara) sebagai kritik atas stigma buruk yang melekat pada gulat benjang pada masa Orde Baru (1970an) yang memicu bentrokan antara petarung benjang dengan anggota Senipora TNI. Juga, mencoba meluruskan kembali bahwa gulat benjang ialah media silaturahmi, berkumpul, bukan untuk ajang jago-jagoan dan perkelahian. Selain itu, film ini menjadi upaya untuk memperkenalkan kembali budaya kita, identitas kita yang harus dilestarikan bersama.

Akan tetapi, dari kebaikan nilai-nilai yang disampaikan dalam film ini, akan lebih baik lagi jika diimbangi dengan perbaikan dalam produksi film. Seperti, efektivitas dan efisiensi musik sebagai pembangun mood, mengoreksi kesolidan cerita, kesesuaian kausalitas cerita, serta edukasi akting para pemeran yang terkesan kurang latihan dan pemanasan. Pun pengerucutan cerita pada tema pokok, dalam kasus ini gulat benjang, yakni gerakan-gerakan benjang, sejarah, pengetahuan kontekstual mengenai gulat benjang, dsb. 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x